BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Gandrung Konten DraChin VS Drakor di Mana-Mana?

Penalaut.com
- Fenomena kegandrungan masyarakat terhadap drama China dan Korea telah menjelma menjadi gejala budaya yang sulit diabaikan. Dari media sosial hingga ruang-ruang privat, percakapan tentang alur cerita, karakter, dan adegan dramatis menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Drama tidak lagi sekadar hiburan, tetapi telah berubah menjadi gaya hidup, referensi emosi, bahkan standar imajinasi tentang cinta, keluarga, dan kesuksesan.

Popularitas drama Korea dan China tidak lahir secara kebetulan. Industri hiburan kedua negara tersebut berhasil memadukan kualitas produksi, narasi yang kuat, visual yang estetis, serta strategi distribusi digital yang agresif. Platform streaming global membuat konten mereka mudah diakses oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Dalam konteks ini, drama menjadi produk budaya yang dirancang untuk mengikat emosi penonton secara intens.

Namun, di balik euforia konsumsi drama asing, tersimpan persoalan yang lebih kompleks. Ketika masyarakat begitu larut dalam cerita-cerita fiksi dari budaya lain, muncul pertanyaan tentang posisi budaya lokal dalam imajinasi kolektif. Apakah kegandrungan ini sekadar preferensi hiburan, atau justru mencerminkan krisis identitas budaya yang lebih dalam?

Drama Korea dan China sering kali menghadirkan dunia yang tampak ideal: relasi sosial yang harmonis, kisah cinta yang romantis, dan kehidupan yang penuh makna. Representasi ini menawarkan pelarian dari realitas yang sering kali keras dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi sosial yang sarat tekanan ekonomi dan problem kehidupan, drama menjadi ruang eskapisme yang menenangkan.

Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan pola konsumsi media generasi muda. Mereka tidak lagi bergantung pada televisi nasional, tetapi pada platform digital yang menawarkan kebebasan memilih konten. Dalam ruang digital yang tanpa batas, dominasi konten asing menjadi konsekuensi logis dari ketimpangan kualitas produksi antara industri lokal dan global.

Di sisi lain, kegandrungan terhadap drama asing tidak selalu bermakna negatif. Ia bisa menjadi jendela pembelajaran lintas budaya, memperluas wawasan, serta memperkaya referensi estetika dan narasi. Namun, masalah muncul ketika konsumsi budaya asing berlangsung tanpa sikap kritis, sehingga masyarakat lebih mengagungkan budaya luar daripada menghargai budaya sendiri.

Lebih jauh, drama Korea dan China juga membawa nilai-nilai tertentu yang secara halus membentuk cara pandang penonton. Konsep tentang cinta, kesuksesan, kecantikan, dan relasi sosial diproduksi dan direproduksi melalui cerita-cerita populer. Tanpa disadari, penonton mulai menginternalisasi standar-standar tersebut dalam kehidupan nyata.

Dalam konteks ini, kegandrungan terhadap drama asing dapat dibaca sebagai bentuk kolonialisme budaya yang halus. Tidak melalui senjata atau kekuasaan politik, tetapi melalui narasi, visual, dan emosi. Budaya lokal perlahan tersisih bukan karena kalah secara moral, tetapi karena kalah dalam daya tarik simbolik.

Ironisnya, industri hiburan lokal sering kali gagal merespons fenomena ini dengan inovasi yang memadai. Alih-alih membangun narasi yang kuat dan otentik, banyak produksi lokal justru terjebak dalam formula yang repetitif dan minim eksplorasi. Akibatnya, penonton lebih memilih drama asing yang menawarkan kualitas cerita dan produksi yang lebih segar.

Fenomena kegandrungan ini juga menunjukkan adanya transformasi selera masyarakat. Selera tidak lagi dibentuk oleh kedekatan budaya, melainkan oleh algoritma platform digital yang mempromosikan konten tertentu. Algoritma menjadi aktor baru yang menentukan apa yang ditonton, disukai, dan dibicarakan.

Pada titik tertentu, kegandrungan terhadap drama asing dapat memengaruhi cara generasi muda memandang realitas. Ekspektasi tentang cinta, karier, dan kehidupan sosial sering kali tidak realistis karena dibangun oleh narasi fiksi yang idealistik. Ketika realitas tidak sesuai dengan imajinasi, kekecewaan pun tak terhindarkan.

Namun, menyalahkan penonton semata bukanlah sikap yang adil. Fenomena ini adalah hasil interaksi kompleks antara industri hiburan global, teknologi digital, dan kondisi sosial masyarakat. Oleh karena itu, solusi tidak bisa berhenti pada kritik moral, tetapi harus menyentuh aspek struktural dari industri budaya.

Pendidikan literasi media menjadi kunci penting untuk merespons fenomena ini. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menikmati konten tanpa kehilangan daya kritis. Drama bisa dinikmati sebagai hiburan, tetapi tidak dijadikan standar mutlak dalam memaknai kehidupan.

Pada saat yang sama, industri kreatif lokal perlu didorong untuk menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan relevan dengan realitas masyarakat. Budaya lokal tidak boleh hanya menjadi simbol nostalgia, tetapi harus dihidupkan melalui narasi yang segar dan kontekstual.

Pada akhirnya, kegandrungan terhadap drama Korea dan China di mana-mana adalah cermin dari kondisi budaya kita hari ini. Ia menunjukkan betapa kuatnya pengaruh globalisasi dalam membentuk selera dan identitas. Tantangannya bukan untuk menolak budaya asing, tetapi untuk membangun kesadaran kritis agar kita tidak kehilangan jati diri dalam arus budaya global.

Jika kegandrungan ini terus berlangsung tanpa refleksi, maka bukan tidak mungkin generasi mendatang akan lebih mengenal cerita-cerita dari negeri lain daripada kisah-kisah dari tanahnya sendiri. Di sinilah urgensi untuk membangun kembali kepercayaan terhadap budaya lokal menjadi semakin nyata, agar kita tidak sekadar menjadi penonton dalam panggung budaya global, tetapi juga menjadi subjek yang mampu menciptakan narasi sendiri.


Oleh: Nashrul Mu'minin
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak