BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Menggugat Narasi Domestifikasi: Mengapa Buletin "Al-Harakah" Justru Menghambat Keadilan?

Penalaut.com
- Sebagai seorang perempuan yang memperjuangkan keadilan sosial, membaca buletin Al Harakah edisi akhir tahun 2025 memberikan gambaran nyata tentang betapa masifnya misinformasi yang sengaja dibangun untuk melanggengkan ketidakadilan. Bulletin bertajuk "Feminisme Itu Menyesatkan!!!" bukan sekadar kritik ideologis, melainkan sebuah upaya sistematis untuk memenjarakan kembali potensi manusia di bawah narasi "kodrat" yang sempit.

Salah satu poin utama buletin ini mengklaim bahwa feminisme mengabaikan perbedaan biologis dan menuntut perempuan untuk hidup sepenuhnya identik dengan laki-laki. Ini adalah argumen strawman yang klasik. Feminisme tidak pernah berusaha menghapus realitas biologis. Yang dituntut oleh gerakan ini adalah kesetaraan akses dan hak. 

Perbedaan fisik tidak boleh menjadi pembenaran bagi diskriminasi upah, pembatasan hak suara, atau pengucilan perempuan dari ruang pengambilan keputusan. Mengatakan bahwa feminisme "memaksa" perempuan meninggalkan peran tradisional adalah pemutarbalikan fakta; justru feminisme-lah yang memberi pilihan. Tanpa feminisme, pilihan perempuan hanya satu: domestifikasi. Dengan feminisme, perempuan boleh memilih menjadi ibu, profesional, atau keduanya.

Buletin tersebut menyebutkan bahwa feminisme memposisikan laki-laki sebagai musuh dan menambah ketegangan antar-gender. Pandangan ini gagal memahami konsep patriarki. Musuh feminisme bukanlah laki-laki sebagai individu, melainkan sistem patriarki yang kaku. Laki-laki pun seringkali menjadi korban dari sistem ini—mereka dipaksa untuk selalu kuat, dilarang menunjukkan emosi, dan dibebani ekspektasi finansial yang luar biasa berat. Feminisme sebenarnya mengundang laki-laki untuk bersama-sama meruntuhkan tembok tersebut agar hubungan antar-gender lebih bersifat kolaboratif dan manusiawi, bukan hierarkis dan transaksional.

Bulletin tersebut menuding feminisme hanya mewakili perempuan kelas menengah perkotaan dan mengabaikan mereka yang di pedesaan atau miskin. Klaim ini sangat ironis. Justru bagi perempuan di pedesaan, nilai-nilai yang disebut "tradisional" oleh buletin ini sering kali menjadi belenggu kemiskinan. Ketika seorang ibu di desa tidak memiliki hak atas tanah atau tidak boleh bekerja karena "kodrat", ia menjadi sangat rentan.

Feminisme akar rumput (seperti perjuangan perempuan petani melawan perampasan lahan) menunjukkan bahwa gerakan ini justru sangat relevan bagi mereka yang paling tertindas secara ekonomi. Mengatakan bahwa isu kemiskinan terpisah dari feminisme adalah kesalahan fatal, kemiskinan memiliki wajah perempuan yang sangat nyata.

Buletin ini berulang kali mengagungkan peran ibu sebagai "sekolah pertama" (Al-Umm Madrasatul Ula) dan adagium Jawa asah, asih, asuh. Meskipun nilai-nilai pengasuhan itu mulia, buletin ini menggunakannya sebagai senjata untuk mengunci perempuan di ruang domestik. Narasi ini sering kali mengabaikan beban ganda (double burden).

Mengapa hanya perempuan yang ditekankan untuk melakukan pengasuhan? Mengapa peran ayah dalam mendidik anak jarang disebut? Dengan membebankan seluruh moralitas keluarga di pundak perempuan, penulis buletin sebenarnya sedang menciptakan tekanan psikologis yang besar bagi perempuan, yang kemudian disebutnya sendiri sebagai "kehilangan identitas".

Menutup opininya, buletin tersebut mengajak pembaca untuk menggali kembali nilai-nilai yang "mengedepankan kebebasan memilih tanpa memaksakan standar tunggal". Ini adalah sebuah kemunafikan retoris. Sepanjang artikel, penulis terus-menerus mempromosikan "standar tunggal" berupa peran tradisional dan kodrat biologis sebagai satu-satunya jalan kebahagiaan perempuan. 

Jika benar-benar ingin menghargai kebebasan memilih, maka penulis seharusnya mendukung hak perempuan untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan, termasuk menjadi pemimpin politik atau ilmuwan, tanpa harus dibayangi ketakutan dicap sebagai "perempuan menyesatkan".

Buletin Al Harakah mencoba membungkus represi dengan bahasa kepedulian. Mereka mengklaim membela keluarga, namun sebenarnya sedang mematikan separuh dari potensi kemanusiaan dalam keluarga tersebut. Sebagai perempuan, kita harus tegas menyatakan keadilan tidak akan pernah menyesatkan. Yang menyesatkan adalah upaya untuk tetap menutup mata terhadap ketimpangan nyata yang dialami perempuan atas nama tradisi yang stagnan.

Dunia yang lebih baik bukanlah dunia di mana perempuan "kembali ke tempatnya", melainkan dunia di mana setiap orang memiliki tempat yang sama di bawah matahari, berdasarkan kompetensi dan aspirasi mereka sendiri, bukan berdasarkan label biologis.


Oleh: Syajida Gadistia
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak