BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

International Women’s Day: Dari Sejarah Perjuangan Menuju Harapan Kesetaraan

Penalaut.com
- Tepat pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day (IWD). Peringatan ini merupakan bentuk apresiasi global terhadap kontribusi serta pencapaian perempuan di berbagai lini kehidupan, mulai dari sektor sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, hingga politik.

Momentum ini juga merupakan penghormatan atas dedikasi kaum perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan, kesempatan, dan hak-hak dasarnya. Hari Perempuan Internasional sejatinya bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan ruang refleksi untuk mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki dan diperjuangkan demi mengatasi tantangan yang masih membentang, guna menciptakan kehidupan yang lebih inklusif bagi perempuan.

Pada tahun 2025, International Women’s Day mengusung tema "Rights. Justice. Action. For ALL Women and Girls" (Hak. Keadilan. Aksi. Untuk SEMUA Perempuan dan Anak Perempuan). Tema ini menuntut perlindungan hak, akses keadilan, dan aksi nyata untuk mengatasi hambatan struktural serta kesenjangan gender. Melansir laman UN Women, tema ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi dalam mewujudkan keadilan dan memastikan perlindungan hukum bagi perempuan di seluruh dunia.

History Perjalanan International Women’s Day

Pada tahun 1857 terjadi aksi demonstrasi buruh perempuan pabrik tekstil, di New York Amerika Serikat. Aksi tersebut merupakan protes besar untuk menyuarakan hak-hak mereka, namun sayangnya setelah demonstrasi tersebut belum ada hasil signifikat mengenai hak-hak buruh perempuan. 

Barulah lima puluh tahun kemudian yaitu pada tahun 1908 buruh perempuan pabrik tekstil di New York kembali melakukan aksi demonstrasi, sekitar 15.000 ribu perempuan turun ke jalan untuk menuntut hak mereka. Ada tiga tuntutan utama yaitu: menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik, dan hak memilih dalam pemilihan.

Pada tahun 1909 terdapat Partai Sosialis Amerika yang kemudian mendeklarasikan Hari Perempuan Nasional atau National Women’s Day (NWD) pada tanggal 28 Februari untuk pertama kalinya di Amerika Serikat yang berlangsung sampai tahun 1913.

Melansir laman International Women’s Day, pada tahun 1910, Konferensi Internasional Perempuan Pekerja kedua diadakan di Kopenhagen. Seorang perempuan bernama Clara Zetkin (Pemimpin 'Kantor Perempuan' untuk Partai Sosial Demokrat di Jerman) mengajukan gagasan tentang Hari Perempuan Internasional. Ia mengusulkan agar setiap tahun di setiap negara harus ada perayaan pada hari yang sama “Hari Perempuan” untuk memperjuangkan tuntutan mereka. 

Konferensi yang dihadiri lebih dari 100 perempuan dari 17 negara, yang mewakili serikat pekerja, partai sosialis, klub perempuan pekerja dan termasuk tiga perempuan pertama yang terpilih menjadi anggota parlemen Finlandia menyambut usulan Zetkin dengan persetujuan bulat dan dengan demikian Hari Perempuan Internasional pun lahir.
 
Pada tahun 1911 setelah adanya hasil keputusan konferensi tersebut, negara Austria, Denmark, Jerman, Swiss merayakan Hari Perempuan Internasional pada tanggal 19 maret. PBB secara resmi memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 1975. Sebelum ditetapkan ada dua opsi tanggal yaitu 8 Maret dan 19 Maret. 8 Maret mewakili protes buruh pada tahun 1857,1908, dan 1909, sedangkan 19 Maret mewakili demonstrasi perempuan dibeberapa negara eropa. 

Hingga saat ini Hari Perempuan Internasional pun diperingati setiap tanggal 8 Maret. Perjalanan panjang Hari Perempuan Internasional menunjukkan bahwa peringatan ini lahir dari ruang perjuangan, bukan sekadar perayaan. Demonstrasi buruh perempuan yang terjadi pada beberapa puluh tahun lalu menggambarkan bagaimana perempuan harus bersuara lantang untuk mendapatkan hak-haknya. Namun pertanyaannya, setelah lebih dari beberapa puluh tahun berlalu, apakah perjuangan tersebut benar-benar telah selesai?

Realitas Perempuan Masa Kini

Setelah perjalanan panjang sejarah Hari Perempuan Internasional yang lahir dari semangat perjuangan buruh perempuan, perlu kita melihat bagaimana kondisi perempuan di masa kini. Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai dalam bidang pendidikan, ekonomi, maupun politik, kenyataannya perempuan masih menghadapi beragam tantangan dalam kehidupan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan yang dahulu disuarakan melalui demonstrasi dan gerakan kolektif belum sepenuhnya mencapai titik akhir.

Di sektor ekonomi perempuan masih sering menghadapi ketimpangan dalam dunia kerja mencakup partisipasi kerja yang lebih rendah, kesenjangan upah, serta masih mengalami keterbatasan akses terhadap posisi kepemimpinan atau pengambilan keputusan. Di sisi lain, perempuan juga masih rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan berbasis gender, baik di ruang publik maupun domestik. 

Pada tahun 2025 sumber CATAHU Komnas Perempuan, terdapat kenaikan sekitar 14,7% dengan total 376.625 kasus yang tercatat. Perempuan juga sering menghadapi beban ganda dalam kehidupan sehari-hari. Banyak perempuan yang berperan aktif dalam ranah publik, namun tetap dihadapkan pada tuntutan tanggung jawab domestik di rumah. Ketimpangan pembagian peran ini sering kali membuat perempuan harus bekerja lebih keras untuk menyeimbangkan berbagai peran yang mereka jalani.

Refleksi dan Harapan atas Perjuangan Perempuan

Perjalanan panjang lahirnya International Women's Day menunjukkan bahwa hari ini tidak sekadar menjadi momen perayaan tahunan, tetapi juga pengingat akan sejarah panjang perjuangan perempuan dalam menuntut hak, keadilan, dan kesetaraan, serta kesempatan untuk merefleksikan kondisi perempuan saat ini. 

Berbagai kemajuan telah dicapai, namun tantangan yang masih dihadapi menunjukkan bahwa upaya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadialan belum sepenuhnya selesai. Maka momentum ini seharusnya tidak berhenti pada perayaan atau simbol semata.

Ke depan, diperlukan kesadaran bersama untuk terus mendorong terciptanya ruang yang lebih aman adil bagi perempuan, baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Mendorong kebijakan inklusif yang berpihak pada kesetaraan, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesetaraan gender, menghapus stigma dan konstruk berpikir yang membatasi perempuan, serta memperkuat solidaritas antar perempuan dengan gerakan perempuan. 

Penting bagi perempuan untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, dan mendorong satu sama lain agar bisa mencapai posisi yang lebih baik dalam kehidupan masyarakat. Hari Perempuan Internasional dapat terus menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju kesetaraan bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga tanggung jawab bersama di masa kini dan masa depan.

Oleh: Amara Amarwati
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak