BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Pendidikan: Antara Cita-Cita Tinggi dan Kenyataan yang (Agak) Membosankan

Penalaut.com
– Setiap kali nongkrong dan pendidikan dibicarakan, yang muncul di sana hampir selalu sama: visi besar, tujuan mulia, dan kalimat-kalimat yang terdengar “terlalu rapi untuk menjadi kenyataan”. Kita bicara tentang manusia seutuhnya, tentang akhlak, tentang kecerdasan, tentang masa depan bangsa. Semua terdengar benar. Semua terdengar penting. Dan, entah kenapa saya tidak bisa bohong, semua juga terdengar sedikit jauh dari apa yang benar-benar terjadi.

Secara standar, arah pendidikan di Indonesia sudah sangat jelas. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, di sana tujuan pendidikan dirumuskan dengan sangat lengkap: membentuk manusia yang beriman, berakhlak, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Sebuah daftar yang, jika dipikir-pikir, hampir menyerupai profil manusia ideal—atau, dalam istilah yang lebih jujur “manusia yang diinginkan”.

Pertama, masalahnya sederhana, antara yang diinginkan dan yang dihasilkan, sering kali ada jarak yang tidak main-main. Dan kita bisa melihatnya tanpa perlu terlalu jauh. Data demi data menunjukkan bahwa kemampuan literatur kita masih tertinggal dibanding banyak negara lain. 

Program internasional pendidikan secara konsisten menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak terlalu membanggakan. Minat baca masih rendah, akses pendidikan belum merata, dan kualitas pembelajaran sering kali bergantung pada faktor yang sangat tidak seragam: lokasi, ekonomi, bahkan mungkin keberuntungan.

Tapi, tentu saja, kita tetap punya kurikulum. Kita tetap punya sistem. Dan kita cukup rajin memperbaruinya. Kemudian di titik inilah, muncul pertanyaan: apakah sistem pendidikan kita benar-benar dirancang untuk membentuk manusia, atau sekadar untuk mempertahankan ilusi bahwa kita sedang membentuk manusia?

Secara filosofis, pendidikan seharusnya adalah proses “menjadi”—sebuah perjalanan di mana manusia berkembang melalui pengalaman, refleksi, dan tindakan. Ia bukan sekadar soal ijazah, sertifikat, nilai rapor atau kelulusan administratif. Ia adalah tentang kesadaran. Tentang kemampuan berpikir. Tentang keberanian mengambil sikap.

Namun dalam praktiknya, pendidikan kerap kali berubah menjadi sesuatu yang jauh dari itu semua: menghafal, mengikuti, dan (jika beruntung) lulus. Barangkali di sinilah letak ironi yang jarang dibicarakan. Kita menginginkan manusia yang kritis, tetapi membesarkan mereka dalam sistem yang tidak selalu ramah terhadap pertanyaan. Kita ingin generasi yang kreatif, tetapi menilai mereka dengan standar yang seragam. Kita bicara tentang kemandirian, tetapi terlalu sering mengatur hingga tidak ada ruang bagi mereka untuk benar-benar mandiri.

Dan ketika hasilnya tidak sesuai harapan, kita kembali menyalahkan. Entah siapa. Kurikulum. Guru. Siswa. Orang tua. Pemerintah. Atau, jika ingin lebih abstrak, “Zaman”.

Kedua, padahal, mungkin persoalannya tidak serumit itu. Manusia, seperti yang pernah diingatkan oleh seorang filsuf dari Cordova; Seneca, cenderung hidup mengikuti kebiasaan di sekitarnya. Sederhananya jika sistem membentuk kebiasaan pasif, maka individu pun akan belajar menjadi pasif. Jika sistem lebih menghargai kepatuhan daripada pemahaman, maka jangan heran jika yang lahir adalah generasi yang pandai mengikuti, tetapi ragu untuk berpikir.

Lalu muncul argumen yang cukup populer: bahwa sebenarnya sistem tidak terlalu penting. Bahwa jika individu memiliki kesadaran belajar yang kuat—minat baca yang tinggi, rasa ingin tahu yang besar—maka pendidikan akan tetap berjalan, bahkan tanpa sistem yang kaku. Ya, sekilas, ini terdengar optimis. Tapi juga sedikit naif.

Sebab realita menunjukkan tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk “menjadi sadar”. Tidak semua tumbuh dalam lingkungan yang mendukung. Dan tanpa sistem, yang terjadi bukanlah kebebasan yang merata, melainkan ketimpangan yang semakin menjadi. Yang sudah kuat akan semakin kuat. Yang lemah akan semakin tertinggal—dan, seperti biasa, dengan nasihat “lebih giat lagi!”.

Di sinilah sistem seharusnya berperan: bukan untuk mengatur secara berlebihan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang. Meski sayangnya, sistem juga tidak selalu netral.
Ia bisa saja dipengaruhi kepentingan. Bisa diarahkan oleh logika politik. Bisa menjadi terlalu sibuk dengan administrasi, hingga lupa pada substansi. 

Kita melihat sekolah yang lebih fokus pada laporan daripada pembelajaran, guru yang dibebani tugas birokratis, dan siswa yang, di tengah semua itu, mencoba memahami apa sebenarnya yang sedang mereka jalani. Lantas kemudian apakah kita diam?!

Setidak-tidaknya orang harus selalu menanyakan terkait itu semua. Apakah ini pendidikan? Atau hanya rutinitas yang diberi nama pendidikan? Tentu, tidak semuanya gelap. Ada guru-guru yang tetap mengajar dengan hati, ada siswa yang belajar dengan sungguh-sungguh, ada ruang-ruang kecil di mana pendidikan masih terasa hidup. Tapi, jika harus jujur, itu sering kali terasa seperti pengecualian—bukan norma.

Dan mungkin dari sini kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk bertanya dengan lebih jujur: apakah kita benar-benar sedang membangun manusia, atau hanya mempertahankan sistem yang terlihat seperti sedang membangun manusia?

Sebab pada akhirnya, pendidikan tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu mencerminkan apa yang kita anggap penting. Jika yang kita utamakan adalah angka, maka angka yang akan kita kejar. Jika yang kita hargai adalah proses, maka proses yang akan kita rawat. 

Masalahnya, orang sering kali mengatakan yang satu, tetapi melakukan yang lain. Orang bicara tentang karakter, tetapi terobsesi pada nilai. Orang menginginkan pemahaman, tetapi memberi ruang lebih besar pada hafalan. Orang menggaungkan perubahan, tetapi cukup nyaman dengan kebiasaan lama—selama semuanya masih terlihat berjalan.

Dan mungkin, ini bagian yang paling sarkas tanpa perlu dibuat berlebihan: kita tidak kekurangan tujuan. Kita hanya terlalu sering puas dengan perumusan, dan kurang sabar dalam pelaksanaan. Maka, seperti banyak hal lainnya, pendidikan akhirnya berjalan tanpa benar-benar bergerak. Kita punya sistem. Kita punya visi. Kita punya data. Yang kita belum tentu punya adalah keberanian untuk benar-benar berubah. Atau, mungkin, kita memang tidak benar-benar ingin berubah.

Kesimpulannya, maka pilihan yang tersisa—meski tidak mudah—adalah memperbaikinya. Mengkritik tanpa meninggalkan. Mengawal tanpa kehilangan harapan. Sebuah sikap yang, ironisnya, juga membutuhkan “pendidikan” itu sendiri: kesadaran, keberanian, dan ketekunan.

Salam.

Oleh: M. Roqy Azmi
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak