BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Mencandra “NU Kultural” Banyuwangi: Quo Vadis Generasi Muda NU?

Penalaut.com
- Kalau menengok sejarah Nahdlatul Ulama (NU) di tahun 1980-an dan 1990-an, kita akan melihat betapa organisasi Islam terbesar di Indonesia itu disesaki oleh seabrek wacana dan gerakan progresif-transformatif. Setelah sekian lama stereotipe “tradisionalis” dan “kolot” nempel di tubuh NU, secara mengesankan NU mampu melahirkan tokoh-tokoh kaliber Gus Dur, Gus Mus, Masdar F. Mas’udi, Said Aqil Siraj, dan lain-lain.

Semua pengamat (luar maupun dalam negeri) telah sepakat, bahwa “wajah” NU kian berubah drastis sejak NU memutuskan “kembali ke khittah” pada tahun 1984 silam. Salah satu agenda besar Khittah NU itu adalah kembali fokus mengatasi berbagai masalah sosial-masyarakat (syu’un ijtima’iyah), sebagaimana tujuan awal NU didirikan oleh ulama, pedagang, dan politisi.

Secara simultan, ketika sedang terjadi “khittahisasi” di dalam tubuh NU, kehidupan intelektual dan aktivitas sosial di kalangan generasi muda semakin berkembang dan merebak di berbagai daerah, seperti di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan lain-lain. Pelbagai kelompok studi ilmiah dan Lembagasa Swadaya Masyarakat (LSM) dengan latar belakang kultural NU muncul. Sebut saja, misalnya, P3M, Forum Kajian 164, LKiS, eLSAD, Desantara, Syarikat, dan sebagainya.

LSM dan kelompok studi ilmiah tersebut memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial, baik di tingkat wacana (pemikiran) maupun advokasi sosial. Gerakan mereka saat itu telah membantu ikhtiar demokratisasi di Indonesia, terutama menjelang dan setelah kekuasaan Orde Baru tumbang. Sebab, melalui kelompok studi dan LSM, generasi muda NU mampu menciptakan wacana kritis-liberal dan kemudian dimanifestasikan ke dalam gerakan progresif-transformatif untuk mengatasi masalah sosial dan keagamaan.

Conservative Turn dalam Jagat NU

Seiring bergulirnya waktu, wacana dan gerakan progresif generasi muda NU cenderung (tampak) kurang memiliki “taring” dan bahkan, dalam aspek tertentu, telah mengalami kemunduran. Seorang antroplog kelahiran Belanda, Martin van Bruinessen, menengarai bahwa telah terjadi fenomena “conservative turn” (pergeseran ke arah konservatif) dalam kehidupan intelektual umat Islam Indonesia, terutama NU, sejak medio 2000-an.

Menurut Bruinessen dalam Conservative Turn (2014), wacana pemikiran Islam progresif-liberal telah mengalami kemunduran, dan bersamaan dengan hal tersebut, geliat wacana Islamis-fundamentalis dan gerakan jihadis-terorisme dari Islam transnasional semakin meningkat. Dalam konteks ini, suara kelompok Muslim progresif-liberal seolah-olah tak lagi memiliki “taring” dan signifikansi. “Mereka,” kata Bruinessen, “telah kehilangan kekuatan untuk menentukan arah perdebatan dan (sehingga) terpaksa menyerahkan inisiatif kepada kaum konservatif dan fundamentalis” (Bruinessen, 2014: 17).

Fenomena conservative turn itu niscaya menjadi tantangan (terutama) bagi generasi muda NU dewasa ini. Sebagai anak kandung NU, kita tidak mungkin menutup mata dan telinga dari keadaan tersebut. Kelambanan dalam menangkap informasi dan merespons masalah di sekeliling kita, menurut hemat saya, disebabkan oleh kelesuan intelektual dan spirit gerakan kita. Sudah barang tentu, kita harus segera beranjak dari kelesuan itu dan mulai melakukan “sesuatu” dalam tubuh NU.

Sebab, dinamisasi dalam kehidupan kita saat ini melaju begitu cepat, sebagaimana dikemukakan oleh Budi Kurniawan Sumarsono dalam artikel “Ketika Tradisi Menantang Zaman: Catatan Peradaban untuk NU” (JP-RaBa, 18 Mei 2026). Seturut pembacaan Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi itu, dunia sekarang ini tengah memasuki era disrupsi besar-besaran: perkembangan teknologi digital, Artificial Intelligence, bahkan geopolitik global telah mengakibatkan ketidakpastian ekonomi masyarakat kita.

Potret Wacana dan Gerakan Generasi Muda NU Banyuwangi

Pengurus Cabang NU Banyuwangi masa khidmat 2026-2031 baru saja dilantik bulan lalu, 4 April 2026. Jika melihat struktur kepengurusan PCNU (dan lembaga-lembaga NU) saat ini, “wajah-wajah” baru tampak muncul dan cenderung dominan. Fakta ini tentu cukup menggembirakan, terutama bagi Nahdliyin akar rumput seperti saya, karena keberadaan mereka (seakan) hendak memberikan gagasan segar untuk mendongkrak “kedigdayaan” NU Banyuwangi.

Namun, sebagai warga NU, kita tidak mungkin sekadar duduk “ongkang-ongkang” dan menunggu realisasi program kerja PCNU belaka. Meski agenda-agenda mereka tampak ciamik dan menjanjikan, bagaimanapun mereka tetap membutuhkan bantuan kita. NU bisa eksis sampai sekarang, sejauh pembacaan saya tentang sejarah NU, karena di level “struktural” dan “kultural” Nahdliyin saling bahu-membahu menggerakkan roda NU.

Dengan demikian, kita perlu melakukan “sesuatu” dalam rangka membantu perjalanan PCNU Banyuwangi mengatasi dua masalah utama ini: mengusir gejala conservative turn di satu sisi, dan (berusaha) menjawab berbagai persoalan di tengah-tengah masyarakat, terutama warga NU, di sisi lain.

Sebab kalau melihat realitas kehidupan generasi muda NU Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir (atau mungkin sejak dulu?), terutama berkenaan dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, hampir tidak dapat diragukan bahwa “organ-organ” dalam tubuh generasi muda NU Banyuwangi masih tampak centang perenang dan ritme gerakan mereka cenderung sporadis.

Sebagai contoh. Organisasi kepemudaan-kemahasiswaan NU, secara struktural maupun kultural, di Banyuwangi belum membangun komunikasi dengan baik dan bersama-sama melakukan gerakan untuk kepentingan masyarakat luas, wabil-khusus warga NU di level akar rumput. IPNU, PMII, GP Ansor, dan komunitas santri NU di Banyuwangi, selama ini cenderung bergerak sesuai kehendak masing-masing, dan bahkan terkadang saling “sikut-sikutan” demi mendapatkan simpati Pendopo (Pemda). Mentok, kerja sama mereka sekadar dalam acara-acara seremonial atau mendukung agenda PCNU belaka.

Fenomena tersebut berada di ranah struktural. Sedang di ranah kultural, beberapa circle generasi muda NU di daerah-daerah, di satu sisi memang menunjukkan perkembangan menarik: rutin mengadakan diskusi atau ngaji kitab, membangun media alternatif, dan menuangkan ide-gagasan dalam bentuk buku. Namun, di sisi lain, lagi-lagi wacana dan gerakan berbagai komunitas kultural generasi muda NU itu kurang cespleng dan sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan warga NU.

Selain itu, generasi muda NU yang aktif di dalam organ-organ lain, seperti HMI, GMNI, komunitas literasi, dan lain-lain juga belum terakomodasi dengan baik. Seolah mereka “teralienasi” dari lingkaran saudara-saudara mereka sendiri. Padahal, kekuatan mereka sangat dibutuhkan dalam rangka “laden-laden” di dalam kehidupan sosial-masyarakat, lebih-lebih ikut membantu mengatasi masalah akut dan kronis di basis-basis komunitas NU.

Keadaan di atas semakin diperparah dengan kemunculan wacana “NU Urban” atau “NU Kota” di lingkungan NU Banyuwangi. Kendati tampak sekadar strategi branding kader-kader NU di Kota, tetapi menurut saya, istilah tersebut sangat bersifat politis dan justru menciptakan polarisasi di lingkungan NU, terutama sekali di kalangan generasi muda.

Sebab, secara otomatis, istilah tersebut akan melahirkan dikotomi klasik seperti ini: NU Kota-NU Desa, NU Urban-NU Rural, NU Modern-NU Tradisional, dan seterusnya. Tentu hal semacam ini kian memperlebar “kesenjangan” antar-Nahdliyin dan sangat mungkin menciptakan “penindasan” dalam kehidupan harmonis warga NU.

Quo Vadis Generasi Muda Banyuwangi?

Oleh karena gagasan Mas Wawan dalam tulisan “Ketika Tradisi Menantang Zaman” itu masih sangat “melangit” dan terkesan “ndakik-ndakik” (konteks opini tersebut memang untuk “peradaban” NU secara umum), maka kita harus mencari alternatif lain untuk konteks NU di ujung timur Jawa, Banyuwangi. Dengan kata lain, sekarang ini kita perlu seonggok gagasan yang “membumi” dan sesuai dengan kondisi realitas NU Banyuwangi.

Salah satu alternatif yang cukup realistis dan krusial untuk mengatasi masalah-masalah sebagaimana telah diuraikan di atas tadi, menurut saya, adalah merajut tali silaturahim (komunikasi) antar-generasi muda NU di Banyuwangi dan kemudian bersama-sama membangun “jaringan kultural” (Anugrah, 2025: 15-16).

Organisasi dan komunitas kultural generasi muda NU di Banyuwangi, sudah cukup dan masih aktif sampai sekarang. Secara kualitatif dan kuantitatif, kekuatan mereka sebagai bagian integral NU Banyuwangi, bisa dibilang, cukup menentukan dalam menggerakkan roda kelembagaan dan menghidupkan kultur NU. Sangat disayangkan, kalau resources mereka tidak “ditali” dalam satu ikatan (ingat “tali jagat” dalam lambang NU), sehingga membentuk sebuah kekuatan besar.

Jika di aras struktural, agenda semacam itu sulit dilakukan karena sering terjadi conflict of interest (benturan kepentingan politis) antar-kader struktural, kita bisa memulai ikhtiar membangun jaringan tersebut di ranah kultural. Sebagaimana dulu di era 1990-an, anak-anak muda NU kritis dan progresif membangun “jaringan kultural” seperti Forum Komunikasi Generasi Muda NU di Yogyakarta, Muktamar Pemikiran Islam NU di Situbondo, dan forum-forum kultural lain yang diselenggarakan di luar arena muktamar dan munas. Namun, agenda-agenda seperti di Yogyakarta dan Situbondo ini bisa dibahas belakangan.

Langkah utama dalam konteks ini, adalah menjalin komunikasi antar-generasi muda NU di Banyuwangi. Seluruh enom-enoman NU, dari utara, selatan, timur, barat; dari latar belakang borjuis maupun proletar; dari urban maupun rural; dari organ struktural maupun kultural, sekarang ini perlu membangun “jaringan kultural” tersebut. Kekuatan mereka harus diakomodasi dan digunakan untuk kepentingan umat, agenda-agenda syu’un ijtima’iyah, dan berusaha semampu kita dalam rangka membebaskan masyarakat dari keadaan “kurang beruntung”.

Secara sederhana, saya hendak mengatakan, bahwa generasi muda NU Banyuwangi saat ini sudah harus menanggalkan sikap sektarian atau komunalisme, dan mulai merangkul saudara-saudara kita dengan cara membangun “jaringan kultural” NU Banyuwangi. Saat ini, kita sangat membutuhkan kekuatan besar demi keberlangsungan NU dalam rangka mengatasi berbagai masalah sosial-kemasyarakatan.

Sebagai warga NU, kita tidak mungkin menggantungkan “nasib” NU Banyuwangi hanya kepada PCNU—kendati di sana ada kiai, tokoh publik, akademisi, aktivis, dan orang-orang yang sudah “khatam” ngurusi organisasi. Sekali lagi, agenda kader struktural tidak akan benar-benar berjalan mulus dan sesuai harapan, kalau kader-kader kultural masih “berantakan” atau belum bersatu dan membangun “jaringan kultural”.

Melalui jaringan ini, generasi muda NU bisa dengan bebas mendiskusikan masalah-masalah akut dan kronis di Banyuwangi, mengawal perjalanan PCNU, memperkuat “kedigdayaan” NU, memberikan ide-gagasan segar, serta (diharapkan) dapat melakukan gerakan sosial-kultural di level akar rumput. Sebab, tanpa kekuatan kultural, PCNU akan berjalan terseyek-seyek dan hanya menjadi kendaraan elite NU untuk mengagregasi “kepentingan” mereka belaka. Dan kalau hal ini benar-benar terjadi, berarti kita sedang melakukan “demoralisasi khittah”.

Oleh: Dendy Wahyu Anugrah, anak dari Pengurus Ranting NU Glagah Agung 2

Rujukan

Anugrah, Dendy Wahyu, “Kaum Muda dan Nahdlah: Menuju Kebangkitan NU,” Academia.edu (2025)

Bruinessen, Martin van (editor). Conservative Turn: Islam Indonesia dalam Ancaman Fundamentalisme. Bandung: Mizan, 2014

Sumarsono, Budi Kurniawan, “Ketika Tradisi Menantang Zaman: Catatan Peradaban untuk NU,” Jawa Pos-Radar Banyuwangi (18 Mei 2026)

Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak