Diskusi tersebut sangat menarik, karena sebagai penikmat perfilm-an, saya kemudian agak skeptis dengan beberapa film yang saya tonton saat ini. Apakah film ini ada ideologi atau ada nilai-nilai yang disisipkan untuk menghegemoni saya? Kalimat tersebut sekiranya yang sering saya tanyakan pada diri sendiri ketika menonton film, baik itu film dalam negeri dan luar negeri.
Tidak mengherankan memang, bahwa film sebagai sebuah seni menyimpan banyak tanda tanya yang besar di balik pembuatannya. Selain film, menurut Hall, sebenarnya peranan pemerintah juga sangat besar dalam memelihara masyarakatnya, supaya mengkonsumsi film yang sesuai dengan ideologi pemerintah.
Sehingga film yang beredar di tengah masyarakat harus diseleksi oleh pemerintah. Hal ini juga sudah banyak yang kita saksikan, bagaimana film-film yang mengandung ideologi yang bertentangan dengan ideologi pemerintah dicegat dan dilarang. Yang paling hangat misalnya film Pesta Babi. Film yang menuai kontroversial dan bikin geger se-Indonesia dan negara-negara tetangga. Film ini diyakini oleh pemerintah sebagai film yang provokatif dan lain sebagainya.
Namun, tulisan ini tidak akan berlarut-larut pada film tersebut. Melainkan akan berfokus pada bagaimana ideologi disisipkan pada film, sebagaimana yang digagas oleh Hall.
Diagnosa Hall
Hall memulai diagnosanya pada bagaimana makna diproduksi dan disebarluaskan oleh media. Bagi Hall, film bukanlah hiburan atau cermin realitas semata, melainkan ia adalah sebuah wacana, yaitu sistem tanda yang dibangun secara sadar untuk menyampaikan pesan tertentu. Film bukan hanya merekam dunia di luar sana, melainkan aktif membentuk memori budaya dan menyampaikan pesan yang dikonstruksi dalam kerangka ideologis tertentu.Untuk memahami bagaimana ideologi bekerja di dalam film, Hall memberikan alat bantu dengan teorinya yaitu encoding dan decoding. Dalam artian liar, teori ini menegaskan bahwa film sebagai wacana bermakna memiliki kompleksitas tersendiri, baik dalam proses komunikasinya maupun dalam penerimaan oleh penonton.
Encoding adalah proses dimana pembuat film menyisipkan pesan, nilai, dan ideologi ke dalam film melalui berbagai kode; dialog, visual, sampai pada narasi. Sedangkan decoding adalah proses dimana penonton menafsirkan pesan tersebut.
Yang kemudian menarik pada teori ini adalah penolakannya terhadap model komunikasi linear satu arah. Berbeda dari model komunikasi tradisional yang memandang informasi mengalir satu arah, Hall justru menekankan pada interaksi multiarah dan siklikal antara encoder dan decoder. Dalam hal ini terdapat penegasan bahwa penonton bukan pasif. Mereka membaca film dengan latar belakang sosial, budaya, dan ideologi masing-masing.
Berangkat dari sini kemudian, Hall membagi tiga posisi pembacaan penonton: pertama, posisi dominan, dimana penonton menerima pesan film sepenuhnya sesuai dengan kehendak pembuatnya. Kedua, posisi negosiasi, dimana penonton sebagian menerima dan sebagian menolak pesan film tersebut. Ketiga, posisi oposisional, dimana penonton secara sadar menolak dan membaca film secara berlawanan dengan maksud pembuatnya.
Ketiga posisi di atas mungkin saja kita pernah temukan pada diri sendiri atau pada orang sekitar kita. Ketika menonton film, kemudian kita setuju, seolah-olah kita masuk sebagai peran pada film tersebut. Justru sebaliknya, kita menolak pesan pada film, dan menempatkan diri kita pada penentang film tersebut.
Satu penegasan Hall dalam hal ini adalah representasi merupakan arena pertarungan ideologis, dimana kelompok sosial saling memperebutkan makna.
Apakah Film Masa Kini Masih Mengandung Ideologi?
Pertanyaan ini barangkali menjadi jawaban dari keresahan di awal. Mungkin Hall dengan lantang menjawabnya dengan: "Ya".Ideologi dalam film memang tidak akan pernah hilang; ia hanya bertransformasi saja. dari patriotisme secara terang-terangan di era Golden Age dari Hollywood, pesan ideologis kini muncul lebih halus, tertanam dalam lengkungan karakter, resolusi cerita, dan stereotip yang berulang-ulang.
Bahkan di era streaming, ideologi bekerja dengan cara yang semakin canggih.
Kehadiran raksasa streaming film seperti Netflix dan Disney+ turut mempercepat penyebaran konten ideologis secara tertata dan didukung oleh algoritma. Daftar putar tidak hanya disesuaikan dengan selera penonton, melainkan juga dengan demografi, riwayat menonton, dan bahkan juga kecenderungan arah politik mereka.
Katakanlah seperti film superhero Marvel, bisa dibaca sebagai kendaraan ideologi tertentu, misalnya tentang eksepsionalisme Amerika, glorifikasi intervensi militer, atau legitimasi kapitalisme korporat. Namun disisi lain, terdapat pula film-film yang mencoba untuk melawan arus, menawarkan pembacaan oposisional terhadap dominasi tersebut, seperti film Pesta Babi.
Film yang semula dicap provokatif oleh pemerintah itu, justru dari sudut pandang Hall, bisa dibaca sebagai contoh nyata pembacaan oposisional, sebuah teks yang menolak tunduk pada narasi dominan.
Yang perlu kita sadari saat ini adalah tidak ada film yang benar-benar netral. Institusi di balik produksi sebuah teks kerap menentukan atau setidaknya mempengaruhi ideologi yang terkandung di dalamnya. Setiap pilihan sutradara, dari posisi kamera hingga penentuan terhadap aktor-aktornya adalah pilihan ideologis.
Maka sikap skeptis yang kita bawa ke dalam bioskop atau layar streaming bukanlah paranoia atau kecurigaan berlebihan. Ia adalah latihan berpikir kritis yang di-ijazah-kan oleh Hall, bahwa menonton film adalah pada satu sisi sebagai sebuah tindakan politik.
Oleh: Rifki Rahman



Posting Komentar