Rifqi (25)—bukan nama aslinya—pemuda asal Songgon, Banyuwangi, yang pernah berada di persimpangan jalan hidup yang membingungkan. Setelah dua tahun menjajal berbagai pekerjaan serabutan—mulai dari kuli bangunan hingga kurir paket—seorang kerabatnya menawarkan modal dan resep untuk berjualan cilok kuah keliling.
Kalau dihitung-hitung, prospek menjual cilok memang menggiurkan. Margin keuntungan jualan cilok bisa mencapai 50 hingga 60 persen. Tapi, Rifqi tak memilih hal itu. Dengan alasan ia belum siap mental jika panggilan sosialnya di masyarakat mendadak berubah. Naasnya, perubahan itu tak mengarah ke panggilan yang setingkat lebih atas, tapi merendah ke arah yang mungkin sering dipinggirkan.
Bukan Malas Kerja, Cuma Belum Siap Mental
"Bukan karena gengsi nggak mau cari uang halal, ya," ujar Rifqi saat kami berbincang. "Tapi aku belum siap aja. Di kampungku atau pas keliling, tukang cilok atau penjual makanan gerobak itu hampir pasti dipanggil 'Lek', atau 'Man'. Seperti ada stempel yang otomatis gitu."Bagi masyarakat Jawa, panggilan Lek (singkatan dari Cilik/Tolek, atau biasa untuk paman) atau Man (dari kata Paman) sebenarnya adalah bentuk keakraban. Tapi kalau dalam konteks profesi pedagang kaki lima keliling, bukan demikian maknanya.
"Temanku ada yang jualan cilok gerobak motor. Namanya Fajar. Tapi satu kompleks perumahan yang dia lewati cuma kenal dia dengan sebutan 'Lek Cilok' atau 'Man Cilok'. Bahkan anak-anak kecil memanggil dia begitu, tanpa rasa canggung," cerita Rifqi sambil tertawa kecil.
Bagi Rifqi yang masih muda dan kerap nongkrong dengan kawan sebayanya, bayangan dipanggil dengan sebutan "Man" atau "Lek" oleh orang-orang yang usianya tak jauh beda dengannya—apalagi anak-anak—terasa seperti pukulan pada harga dirinya.
Cuan Tetap Gurih, Peduli Setan Dipanggil "Lek/Man"
Untuk menguji apakah ketakutan Rifqi masuk akal, saya mecoba bertanya kepada tukang cilok di depan RTH Genteng. Katakanlah namanya Paijo. Ia berdagang cilok keliling sudah selama puluhan tahun menyusuri aspal di wilayah Genteng.Ketika saya tanyakan soal urusan panggil-mempanggil ini, Paijo cuma terkekeh santai sembari membolak-balik cilok di panci kukusnya.
"Awalnya ya risih, Mas," kata Paijo. "Umur saya waktu mulai jualan kan baru 30 tahun. Masih merasa muda. Tapi pembeli di perumahan, ibu-ibu, sampai anak-anak sekolah, semuanya otomatis manggil 'Lek'. Lama-lama nama asli saya malah lupa."
Namun bedanya, Paijo memilih untuk tidak ambil pusing. Menurutnya, panggilan tersebut adalah harga yang harus dibayar demi sebuah dapur yang terus ngebul.
"Terserah mereka mau dipanggil 'Lek', 'Man', 'Pak', atau apalah. Yang penting setiap pulang jualan, kantong bawa uang Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Yang gengsi dipanggil 'Lek' tapi nganggur kan malah kasihan," seloroh Paijo menohok.
Gaji di Bawah UMK Tak Masalah, Asal Panggilan Sosial Tetap Sejajar
Kembali ke Rifqi. Setelah menolak peluang jualan cilok, ia kini bekerja sebagai admin warehouse di sebuah pabrik pertanian lokal. Gajinya pas-pasan—tak sampai melebihi angka UMK Banyuwangi. Secara hitungan finansial, penghasilannya mungkin kalah dibanding Paijo si pedagang cilok jika sedang ramai.Namun bagi Rifqi, ada kenyamanan psikologis yang tidak bisa ditukar dengan uang.
"Di tempat kerja sekarang, atau kalau lagi nongkrong, orang-orang manggil aku 'Mas'. Rasanya masih punya nama sendiri dan dihargai selevel," ujar Rifqi.
Pilihan Rifqi memperlihatkan dinamika menarik di kalangan anak muda zaman sekarang. Pekerjaan tak sekadar alat bertahan hidup (survival tool), tapi bagian dari artikulasi identitas sosial. Panggilan "Mas" memberi rasa kesetaraan dan kepemudaan, sementara "Lek" atau "Man" seolah menempatkan mereka dalam strata sosial atau kategori usia tertentu yang belum siap mereka sandang.
Apakah Rifqi menyayangkan keputusannya?
"Kadang kalau lagi tanggal tua dan uang menipis, ya ada penyesalan kecil. Coba kalau dulu nekat jualan cilok, mungkin tabungan sudah ada," ujarnya terkekeh. "Tapi ya sudahlah, tiap orang punya batas gengsi yang beda-beda."
Kisah Rifqi dan Paijo itu dua sisi mata uang yang sama tentang cara orang bertahan hidup di pedesaan. Ada yang rela menepi dari gengsi demi gulungan rupiah yang tebal, dan ada yang memilih menjaga gengsi serta panggilannya meski harus berhemat di akhir bulan.
Di jalanan yang keras ini, setiap orang punya cara masing-masing untuk menjaga martabatnya. Entah itu lewat seikat cilok kuah, atau lewat panggilan sesederhana "Mas."
Yang penting dipahami, bahwa setiap keputusan yang diambil orang itu selalu terikat dengan konteks yang mengitari. Di balik kegengsiannya, Rifqi barangkali memendam trauma dan luka. Di balik kegigihan Paijo, barangkali ada suara-suara yang tiap hari harus ia cukupi.
Oleh: Hilmi Hafi



Posting Komentar