Seratus tahun perjalanan NU bukan angka yang sederhana. Di dalamnya terdapat perjuangan ulama, keteguhan pesantren, pengabdian santri, serta kontribusi warga Nahdliyin dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Karena itu, memasuki abad kedua tidak cukup hanya dengan merayakan panjangnya usia organisasi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan para muassis tetap relevan, hidup, dan menjadi pedoman dalam menjawab persoalan zaman.
Muktamar harus menjadi ruang untuk melihat ke depan. Bukan semata-mata membicarakan siapa yang akan menduduki posisi strategis dalam struktur organisasi, tetapi membicarakan bagaimana NU akan bekerja, kepada siapa NU berpihak, dan nilai apa yang hendak diperjuangkan dalam lima tahun mendatang.
Bagi saya, inilah substansi Muktamar yang harus dikedepankan.
Jangan Sampai Kebesaran NU Hanya Menjadi Kebesaran Struktur
NU hari ini memiliki sumber daya yang sangat besar. Pesantren tumbuh di berbagai daerah. Lembaga pendidikan berkembang. Perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, badan otonom, hingga berbagai komunitas warga Nahdliyin menjadi bagian dari ekosistem besar NU.Namun pertanyaannya, apakah seluruh kekuatan tersebut sudah terkonsolidasi menjadi kekuatan yang mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan umat?
Jangan sampai NU memiliki struktur yang besar, tetapi kehadirannya belum cukup terasa bagi masyarakat yang menghadapi persoalan pendidikan, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, hingga krisis moral generasi muda.
Kebesaran NU seharusnya tidak hanya terlihat dari banyaknya struktur organisasi. Kebesaran NU harus dirasakan oleh masyarakat. Ketika petani menghadapi persoalan, NU hadir. Ketika pesantren membutuhkan penguatan, NU hadir. Ketika anak muda kehilangan arah, NU hadir. Ketika masyarakat kecil berhadapan dengan ketidakadilan, NU harus berada di tengah mereka.
Di situlah ukuran kebermanfaatan sebuah jam’iyah.
Pesantren Harus Menjadi Pusat Perhatian
Sebagai organisasi yang lahir dari tradisi pesantren, NU tidak boleh menjadikan pesantren hanya sebagai simbol sejarah. Pesantren adalah salah satu fondasi utama NU.Karena itu, penguatan pesantren harus menjadi agenda strategis memasuki abad kedua. Pesantren tidak cukup hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren harus didorong menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, penguatan karakter, dan pembentukan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Kita membutuhkan pesantren yang kuat secara keilmuan, mandiri secara ekonomi, adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi tetap kokoh dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Ini bukan pekerjaan pemerintah semata. NU memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkannya.
Kemandirian Tidak Berarti Menjauh dari Negara
Saya melihat hubungan NU dengan pemerintah harus dibangun dalam posisi yang sehat. NU dan negara dapat bekerja sama dalam berbagai bidang yang menyangkut kepentingan masyarakat.Namun kerja sama harus tetap menjaga independensi organisasi. Ketika pemerintah menjalankan kebijakan yang memberikan kemaslahatan, NU tentu harus memberikan dukungan.
Tetapi ketika terdapat kebijakan yang merugikan masyarakat, NU juga harus memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik. Kedekatan dengan pemerintah tidak boleh menghilangkan daya kritis organisasi.
Begitu pula sebaliknya, sikap kritis tidak berarti NU harus selalu berhadap-hadapan dengan negara. Yang harus menjadi ukuran adalah kepentingan masyarakat.
Dengan prinsip tersebut, NU dapat menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus tetap menjalankan fungsi moralnya sebagai kekuatan masyarakat sipil.
Anak Muda Jangan Hanya Menjadi Penonton
Abad kedua NU juga harus menjadi ruang yang lebih luas bagi generasi muda. NU memiliki PMII, IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat, serta berbagai organisasi dan komunitas kepemudaan yang menjadi ruang tumbuh kader.Kader muda jangan hanya dipanggil ketika organisasi membutuhkan tenaga untuk menjalankan kegiatan. Mereka harus dipersiapkan untuk menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan kepemimpinan masa depan.
Kaderisasi tidak boleh berhenti pada kegiatan formal. Kaderisasi harus menghasilkan manusia yang memiliki kapasitas intelektual, kedalaman spiritual, kepedulian sosial, kemampuan kepemimpinan, dan keberanian mengambil tanggung jawab. Abad kedua NU akan sangat ditentukan oleh kualitas generasi yang dipersiapkan hari ini.
Karena itu, investasi terbesar NU sesungguhnya bukan hanya pembangunan gedung atau penguatan struktur. Investasi terbesar NU adalah kader.
Nilai-nilai Islam harus diterjemahkan menjadi keberpihakan kepada kelompok yang lemah, penguatan solidaritas sosial, pembelaan terhadap keadilan, serta upaya membangun masyarakat yang bermartabat.
Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, NU memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan generasi muda mendapatkan pemahaman keagamaan yang moderat, mendalam, dan berakar pada tradisi keilmuan Islam.
Terutama ketika ruang digital semakin dipenuhi berbagai narasi keagamaan yang tidak semuanya memiliki landasan keilmuan yang memadai.
Di sinilah peran ulama, pesantren, dan kader muda NU menjadi semakin penting.
Pertama, memperkuat pesantren sebagai basis utama pengembangan umat. Kedua, membangun kemandirian ekonomi jam’iyah dan jamaah agar NU tidak mudah bergantung pada kekuatan tertentu.
Ketiga, memperbaiki sistem kaderisasi agar generasi muda benar-benar dipersiapkan menjadi penerus kepemimpinan.
Keempat, menjaga independensi organisasi dalam relasi dengan pemerintah maupun kekuatan ekonomi dan politik. Kelima, memperkuat peran keagamaan NU dalam menjawab problem sosial dan perubahan zaman.
Keagamaan Harus Berjalan Bersama Persoalan Sosial
NU juga harus semakin kuat menghadirkan wajah Islam yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Keagamaan tidak boleh berhenti pada ruang ceramah dan ritual.Nilai-nilai Islam harus diterjemahkan menjadi keberpihakan kepada kelompok yang lemah, penguatan solidaritas sosial, pembelaan terhadap keadilan, serta upaya membangun masyarakat yang bermartabat.
Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, NU memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan generasi muda mendapatkan pemahaman keagamaan yang moderat, mendalam, dan berakar pada tradisi keilmuan Islam.
Terutama ketika ruang digital semakin dipenuhi berbagai narasi keagamaan yang tidak semuanya memiliki landasan keilmuan yang memadai.
Di sinilah peran ulama, pesantren, dan kader muda NU menjadi semakin penting.
Saatnya Membangun NU yang Lebih Dekat dengan Warga
Menurut saya, ada beberapa pekerjaan penting yang harus menjadi perhatian NU memasuki abad kedua.Pertama, memperkuat pesantren sebagai basis utama pengembangan umat. Kedua, membangun kemandirian ekonomi jam’iyah dan jamaah agar NU tidak mudah bergantung pada kekuatan tertentu.
Ketiga, memperbaiki sistem kaderisasi agar generasi muda benar-benar dipersiapkan menjadi penerus kepemimpinan.
Keempat, menjaga independensi organisasi dalam relasi dengan pemerintah maupun kekuatan ekonomi dan politik. Kelima, memperkuat peran keagamaan NU dalam menjawab problem sosial dan perubahan zaman.
Dan yang paling penting, seluruh agenda tersebut harus kembali kepada satu orientasi: kemaslahatan umat.
Abad Kedua Harus Menjadi Abad Pengabdian
Seratus tahun pertama NU telah memberikan pelajaran bahwa organisasi ini mampu bertahan karena memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat.Akar itu adalah ulama. Akar itu adalah pesantren. Akar itu adalah kader. Dan akar itu adalah jamaah. Karena itu, jangan sampai NU memasuki abad kedua dengan semakin jauh dari akar tersebut.
Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali hubungan antara struktur organisasi dengan warga di tingkat akar rumput.
Kita membutuhkan NU yang kuat di pusat, tetapi juga hidup di ranting. Kita membutuhkan NU yang memiliki jaringan internasional, tetapi tidak kehilangan hubungan dengan pesantren. Kita membutuhkan NU yang mampu berdialog dengan pemerintah, tetapi tetap berani menyuarakan kepentingan rakyat.
Dan kita membutuhkan NU yang modern dalam menghadapi zaman, tetapi tidak tercerabut dari tradisi keilmuan para ulama.
Pada akhirnya, masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin. Masa depan NU ditentukan oleh seberapa kuat nilai-nilai perjuangannya tetap hidup dalam kehidupan umat.
Abad kedua harus menjadi momentum untuk menjadikan NU semakin mandiri, semakin dekat dengan masyarakat, semakin kuat dalam tradisi keilmuan, dan semakin nyata keberpihakannya kepada mereka yang membutuhkan.
NU tidak boleh hanya besar dalam sejarah. NU harus besar dalam manfaat. Karena tugas terbesar memasuki abad kedua bukan mempertahankan kebesaran masa lalu, melainkan memastikan bahwa warisan para ulama tetap menjadi kekuatan untuk menjawab tantangan masa depan.
Oleh: Muhamad Abdul Wahid (Ketua Bidang Keagamaan PKC PMII Jawa Barat)



Posting Komentar