BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Kuasa Mazhab Sapen II: Paradigma I-Con yang Menindas

Penalaut.com - Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta menjadi salah satu entitas penting dalam pembaruan wacana keislaman di tanah air. Sejarah mencatat, UIN Sunan Kalijaga telah ikut ambil bagian dalam rangka memantik dinamisasi dan mendorong transformasi di segala aspek kehidupan umat Islam, wabil-khusus di bidang sosial-keagamaan. Gerakan intelektual-sosial kritis dan progresif acap kali bercokol dan tumbuh-subur di lingkungan universitas yang terletak di daerah Sapen ini.
 
Serangkaian hasil “ijtihad intelektual” kaum akademisi dan aktivis-intelektual dari UIN Sunan Kalijaga—selanjutnya ditulis UIN Suka—juga tidak jarang mendapatkan stempel “liberal” dan “sesat” oleh kelompok Islamis-konservatif. Persoalan ini disebabkan, umumnya, karena basis keilmuan UIN Suka tidak hanya mendasarkan diri pada khazanah Islam klasik (turats) belaka, tetapi secara bersamaan juga mengambil inspirasi dari tradisi keilmuan Barat. Sebagai tamsil, di UIN Suka, kitab-kitab kuning tidak (dipahami) lebih superior dari kitab-kitab putih. Semua karya ulama dan filsuf ditempatkan secara proporsional, dan dibaca secara kritis dengan tidak menganggap karya-karya itu sakral dan suci.

Sejak 1960-an (dan barangkali sampai sekarang), UIN Suka menjadi semacam “kandang” bagi santri-santri dari seluruh daerah di Indonesia. Secara kultural, UIN Suka begitu kental dengan tradisi keagamaan, sehingga ia menjadi lembaga pendidikan tinggi andalan dan batu loncatan “kaum sarungan” untuk menghampiri masa depan mereka. Kemunculan UIN Suka dan UIN-UIN lain di berbagai daerah, menurut sebagian besar masyarakat santri, selain sebagai tempat ngangsu kaweruh, telah membuka kran mobilitas sosial untuk meraih kehidupan yang layak (Bruinessen, 2013: 380-381), kendati akhir-akhir ini UIN dianggap kurang mampu mencetak generasi unggul dalam konteks duniawi.

UIN Suka tak henti-henti melahirkan gagasan ciamik dan mendinamisasi diskursus keislaman di tanah air. Jika kita menengok sejarah, kultur intelektual-akademik di lingkungan UIN Suka telah berhasil mencetak aktor-aktor dan kelompok intelektual jempolan. Sebut saja, misalnya, kemunculan kelompok intelektual yang sangat fenomenal dan legend, seperti Limited Group-nya Mukti Ali dkk di tahun 1970-an dan kemudian Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) di tahun 1990-an (Sodik, 2000: 48-49). 

Selain itu UIN Suka juga berusaha merumuskan sebuah pendekatan ilmiah yang relevan untuk memahami doktrin dan tradisi keagamaan di satu sisi, dan mengatasi masalah-masalah kontemporer di sisi lain. Salah satu—kalau bukan satu-satunya—pendekatan ilmiah yang selalu dielu-elukan dan digaungkan oleh sivitas akademika UIN Suka adalah pendekatan “integrasi-interkoneksi” (I-Con), sebuah teori besutan M. Amin Abdullah. 

Pendekatan filosofis-teoritis dalam studi agama ini bisa dikatakan sebagai magnum opus-nya Pak Amin Abdullah. Secara historis, gagasan tentang I-Con itu sudah dikembangkan oleh Pak Amin sejak 1990-an. Namun I-Con baru ditetapkan sebagai paradigma keilmuan dan kurikulum resmi UIN Suka setelah beliau terpilih menjadi Rektor pada tahun 2001. Pak Amin lantas terpilih kembali untuk menahkodai UIN Suka di periode selanjutnya (2005-2010).

Selama Pak Amin menjadi Rektor (dua periode) tersebut, I-Con terus-menerus menancapkan “kuasa”-nya, dan kemudian menjelma sebagai “rezim pengetahuan” (regime of knowledge) di lingkungan akademik UIN Suka sampai saat ini. Dalam relasi kuasa-pengetahuan, I-Con akan terus mendisiplinkan sivitas akademika UIN Suka, khususnya, agar sesuai dengan “kehendak kuasa”-nya. Bahkan dalam batas-batas tertentu, rumusan teoritis Pak Amin itu sudah menjadi “logosentrisme” yang sangat hegemonik dan menindas.

Semula tujuan I-Con memang hendak mendobrak kepicikan dan partikularisme fanatik dalam studi-studi akademik (Kersten, 2018: 296). Hanya saja, karena saking terlalu lama mendekam di tampuk kekuasaan akademik UIN Suka, di kemudian hari I-Con serupa “jaring laba-laba yang menjerat mangsa-mangsanya”.

Sebelumnya saya sudah mengulas basis epistemologis I-Con dan bagaimana ia kemudian bisa menjadi paradigma keilmuan dan kurikulum resmi di UIN Suka dalam tulisan “Kuasa Mazhab Sapen: Amin Abdullah dan Jebakan Jaring Laba-laba” (Academia.edu, 2025). Jadi, saya tidak akan menjelaskan ulang integrasi-interkoneksi (I-Con) di sini. Sebab tujuan tulisan ini hendak menunjukkan bagaimana I-Con menghegemoni dan menindas civitas akademika, khususnya mahasiswa, dalam sistem akademik (perkuliahan) di UIN Suka. 

Sejauh ini, tulisan kritis terhadap I-Con masih terbilang sedikit sekali. Para scholars mungkin memandang belum ada urgensi untuk membaca kembali I-Con secara kritis-dekonstruktif. Ini tentu memprihatinkan—untuk tidak mengatakan ironi, sebab selama ini UIN Suka senantiasa menggelorakan kritisisme di dunia akademik-intelektual dan sosial-keagamaan. Meski begitu, tampaknya belakangan sudah mulai muncul gerakan kritik, atau setidaknya, ikhtiar menelaah kembali paradigma I-Con di lingkungan UIN Suka.

Untuk membaca secara lengkap artikel Dendy Wahyu Anugrah tersebut, silakan klik tautan ini
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak