Penalaut.com - Semakin banyak informasi yang kita serap saban hari, kita justru makin sulit diajak berpikir jernih. Setiap hari kita membaca ratusan kutipan out of context, menonton puluhan video pendek berdurasi belasan detik, dan memantau segala macam tren di media sosial yang umurnya cuma seumur jagung.
Ruang dengar kita saban hari kerap dipenuhi fragmen informasi yang tidak terlalu penting: intrik figur publik yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidup kita, tren media sosial yang berganti sebelum kita sempat paham, atau keluhan kerjaan yang berulang.
Kita mengira telah menyerap banyak hal, padahal otak kita tidak sedang belajar. Ia hanya sedang dijadikan penampung pasif dari arus algoritma yang dirancang cuma untuk mencuri perhatian sesaat.
Para ahli saraf punya istilah untuk fenomena ini. Otak manusia itu nggak cuma butuh "diberi makan" informasi, tapi butuh sesuatu yang dinamakan cognitive friction alias gesekan ide.
Lantas, di mana kita bisa menemukan kembali gesekan intelektual itu?
Jawabannya ada pada dua aktivitas, yaitu membaca secara mendalam dan berdiskusi secara terbuka. Membaca dan berdiskusi bukan cuma kegiatan sok intelek di kafe. Secara praktis, membaca adalah cara paling efisie untuk mengambil pengalaman hidup orang lain tanpa perlu mengalami penderitaannya sendiri.
Ingin memahami peta industri kreatif tanpa harus mengalami kebangkrutan atau rugi ratusan juta lebih dulu? Ingin mengetahui bagaimana gagasan dari sebuah sudut kota bisa menembus panggung global? Atau sekadar ingin mengasah daya kritis agar tidak mudah terombang-ambing oleh narasi publik? Semua gagasan itu telah diuji, ditulis, dan diperdebatkan oleh orang-orang yang mendedikasikan hidupnya pada dunia pemikiran.
Berliterasi bukan cuma soal kemampuan mengeja teks di atas kertas, tapi juga keberanian untuk mempertanyakan hal-hal di sekitar dan mencari kebenaran dengan sudut pandang yang lebih luas.
Masih adakah ruang fisik yang mempertemukan keberagaman ide, ratusan ribu gagasan tulisan, serta para pelaku industri kreatif dalam satu ekosistem yang inklusif?
Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026.
Sebagai pesta literasi dan forum kreatif berskala internasional, IIBF 2026 menjadi titik temu bagi seluruh penikmat buku, penulis, hingga pelaku industri kreatif:
Book Fair & Zona Kalap: Ruang jelajah bagi ratusan ribu judul buku lokal dan internasional, menghadirkan koleksi best seller hingga karya-karya hidden gems tanpa bikin kantong meringis atau merasa bersalah.
LitConnect & Story Market: Ruang forum diskusi dan jejaring bisnis, mempertemukan para pemilik kekayaan intelektual (IP) dengan pemangku kepentingan industri kreatif.
Indonesia Rights Fair & IKAPI Awards: Pusat transaksi hak cipta lintas negara sekaligus bentuk apresiasi bagi insan perbukuan nasional.
Illustration Exhibitions, Children’s Book Festival, & Cosplay Carnival: Pameran karya seni visual, area literasi keluarga, hingga perayaan ekspresi komunitas kreatif yang penuh warna.
Kamu tidak perlu membayar tiket masuk sepeser pun alias GRATIS!
Daripada isi kepala makin karatan dan cuma jadi penonton pasif di media sosial, mari hadir, mengasah gagasan, dan memperluas perspektif di perhelatan literasi terbesar ini:
🗓️ Tanggal: 30 September – 4 Oktober 2026
📍 Lokasi: Assembly Hall & Lower Level, JICC, Senayan, Jakarta
🎟️ Akses: Gratis / Free Entry
🌐 Informasi Resmi: www.indonesia.bookfair.com



Posting Komentar