Penalaut.com - Pantai Boom Marina, Banyuwangi (1 November 2026). Empat puluh ribu orang memadati pesisir hanya untuk menonton idolanya tampil di panggung megah. Ini adalah penutup tur HS ”Berani Kita Beda Tour Hey Slank” setelah menyambangi sepuluh kota dari Yogyakarta hingga Banyuwangi. Malam itu, Slank membawakan beberapa lagu, termasuk ”Kirim Aku Bunga” yang konon lahir di kota ini puluhan tahun lalu.
Tapi sebelum Kaka dan Bimbim naik panggung, dibuka oleh tiga nama yang bergenre punk membuat barisan depan bergetar, antara lain: Begundal Lowokwaru, Superiots dan Rebellion Rose. Dan di situlah cerita ini dimulai. Bukan dari panggung. Tapi dari celah-celah tubuh di antara penonton. Saat Begundal Lowokwaru tampil di sore hari, keadaan masih aman dan kondusif, kemudian dilanjut malam hari dengan perform Superiots.
Superiots baru saja membuka dengan lagu ”Lepas Kendali”. Gitar Bonet Less menggeram. Drum Kidoy menghentak. Dari pinggir arena, teriakan ”oi! oi! oi!” berkumandang. Itu seharusnya jadi panggilan untuk merangkul. Tapi setelah lagu pertama selesai dan dilanjut dengan lagu ”Aku Ingin Pulang”, yang terjadi malah sebaliknya.
Seorang anak berjaket kulit didorong dari belakang. Badannya membentur punggung anak di depannya. Yang di depan tak terima, lalu menyikut. Yang disikut membalas dengan dorongan lebih keras. Dalam hitungan detik, satu titik membesar jadi gelombang. Orang-orang saling tindas, saling injak. Sepatu bot menginjak orang lain tanpa permisi. Bahu membentur bahu. Seorang terjatuh, temannya berusaha mengangkat, tapi malah ikut terseret arus.
Ini bukan moshing. Bukan pula circle pit yang tertib. Ini adalah keramaian yang kehilangan akal sehat, di mana setiap orang merasa berhak atas tempatnya, dan siap mengorbankan siapa pun untuk mempertahankannya. Dua orang dengan jaket warpack dan jaket levis yang ber-patch ”Republik Kandang Babi” meminta mundur. Tidak diindahkan. Para penonton lain di arena bahkan semakin memaksa, seolah-olah semakin ricuh berarti semakin ”punk” dan ”solid”. Padahal tidak.
Yang menyedihkan, banyak dari mereka yang mendorong dan menginjak itu melakukannya sambil berkaus ”Punk is Attitude”, berjaket spike, dan berseru ”kita saudara!” di luar arena. Tapi di dalam arena, saudara berarti tubuh yang boleh diinjak, asal bisa lebih depan. Inilah ironinya.
Kaum muda yang datang ke konser punk sering bicara tentang solidaritas, tentang persaudaraan, tentang melawan penindasan. Tapi di lapangan, yang tampak justru sebalinya: penindasan kecil-kecilan yang dilakukan oleh yang kuat terhadap yang lemah; oleh yang badan besar terhadap yang kecil; oleh yang datang rombongan terhadap yang datang sendirian; oleh yang merasa ”lebih lama terjun di dunia moshpit” terhadap yang baru pertama kali datang.
Itu bukan solidaritas. Itu ego. Ego yang berkata: ”Aku berhak lebih depan darimu”. Ego yang berkata: ”Konser ini milikku, bukan milikmu”. Ego yang berkata: ”Aku boleh menyalakan flare, karena aku mau dan peringatan siapa pun tidak mengikatku”.
Malam semakin larut. Giliran Rebellion Rose naik panggung. Fyan Sinner, vokalisnya, berdiri di depan mic. Sebelum memulai lagu pertama, ia menyempatkan diri berbicara seperti yang sudah mereka sampaikan berkali-kali melalui pernyataan resmi dan di akun sosial medianya:
”Kawan-kawan, malam ini kita mohon, jangan ada yang menyalakan flare. Kita semua tahu apa yang terjadi dengan karhutla tahun ini. Ribuan hektare hutan dan lahan terbakar. Asapnya menyebar ke mana-mana. Anak-anak sekolah diliburkan. Warga sesak napas. Menyalakan flare di tengah konser punk di saat kita sedang bersuara untuk lingkungan adalah penghinaan terhadap mereka yang menjadi korban. Punk bukan soal seberapa berani kamu membakar sesuatu. Punk adalah soal seberapa peduli kamu pada yang terbakar”.Tapi ketika lagu ”Menang” Rebellion Rose dimainkan, seharusnya untuk sing-along, sebuah flare menyala di tengah keramaian. Merah menyala. Asapnya bercampur asap lain. Lalu satu lagi. Dan lagi. Seolah pernyataan Fyan itu sekadar angin lalu. Orang-orang di sekitarnya tidak menegur. Beberapa malah bersorak, menganggapnya sebagai bagian dari ”pesta”.
Seorang anak mengangkat flare ke atas, seolah sedang menyalakan obor kemenangan. Padahal yang ia nyalakan adalah api yang sama jenisnya dengan api yang sedang membakar hutan di Kalimantan, api yang membuat orang lain menderita.
Mereka tahu ada pernyataan. Mereka mendengar sendiri permintaan itu dari panggung. Tapi mereka tetap menyalakannya. Karena bagi mereka, keinginan pribadi untuk ”terlihat keren”, untuk terekam kamera, untuk menjadi pusat perhatian, lebih besar daripada rasa hormat kepada korban karhutla, dan lebih besar daripada rasa hormat pada band yang sedang mereka dukung. Sekali lagi, itu bukan solidaritas. Itu ego.
Hujan semakin deras. Air membasahi wajah, baju, dan sepatu. Slank akhirnya naik ke panggung. Lagu ”Terlalu Manis” berkumandang. Empat puluh ribu orang bernyanyi bersama. Di saat itu, untuk sesaat, keramaian terasa indah. Semua orang tampak bersatu.
Tapi ingatan tentang tadi malam tidak hilang begitu saja. Tentang anak yang terinjak, tentang perempuan yang terjatuh, tentang flare yang menyala meski sudah diminta untuk tidak dinyalakan. Tentang bagaimana kaum muda yang mengaku paling vokal melawan ketidakadilan, justru melakukan ketidakadilan kecil di arena konser mereka sendiri.
Konser musik—terutama konser punk dan rock—seharusnya menjadi ruang aman. Tempat di mana orang dari berbagai latar belakang bisa berkumpul tanpa takut diinjak, didorong, atau dibuat tidak nyaman. Semangat unity yang diteriakkan lewat lirik lagu harusnya juga terwujud dalam perilaku di antara penonton. Bukan cuma di spanduk, bukan cuma di status media sosial.
Kalau kita bisa berteriak ”melawan penindasan” di depan panggung, tapi di belakangnya justru menindas teman sendiri demi posisi satu meter lebih depan, maka semua teriakan itu hanya jadi suara kosong. Kalau kita bisa bersorak mendengar Rebellion Rose bersuara tentang lingkungan, tapi tangan kita sendiri menyalakan flare yang asapnya menyakiti orang di sekitar, maka kita belum paham apa yang mereka nyanyikan.
Malam itu, hujan di Pantai Boom Marina mencuci keringat, air mata, dan pasir. Tapi ia tidak bisa membasuh satu hal, yaitu kesadaran bahwa ada yang salah dengan cara sebagian dari kita menikmati konser. Solidaritas tidak diukur dari seberapa keras kalian berteriak. Tidak dari seberapa dekat kalian ke panggung. Tidak dari seberapa banyak flare yang kalian nyalakan untuk terekam kamera.
Solidaritas diukur dari apakah kalian bersedia mundur selangkah agar orang di belakang kalian bisa melihat. Dari apakah kalian menolong yang terjatuh, bukan malah menginjaknya. Dari apakah kalian sanggup menahan keinginan pribadi demi kebaikan bersama, termasuk menahan tangan untuk tidak menyalakan flare, ketika band yang kalian kagumi sendiri sudah memintanya.
Semoga di konser-konser berikutnya, kita semua bisa belajar. Bukan hanya bernyanyi tentang persaudaraan. Tapi juga melakukannya.
Oleh: Bagas Husron Jillyansyach


Posting Komentar