Penalaut.com - Banyuwangi, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi mengubah pendekatan pelatihan kerja dengan aktif mendatangi masyarakat desa melalui program Tailor Made Training (TMT). Langkah ini dilakukan untuk membuka akses pelatihan vokasi bagi kelompok yang selama ini sulit menjangkau balai pelatihan, seperti warga desa terpencil, perempuan, penyandang disabilitas, hingga pemuda putus sekolah.
Kepala BPVP Banyuwangi, Susanto, menegaskan bahwa pihaknya tidak lagi menunggu masyarakat datang ke balai pelatihan. BPVP kini memilih strategi jemput bola agar pelatihan benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
“Sekarang kami tidak menunggu peserta datang. Justru BPVP yang masuk ke desa-desa. Pelatihan kami rancang sesuai kebutuhan dan potensi masyarakat setempat,” ujar Susanto.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memandang pelatihan vokasi sebagai pilihan terakhir ketika tidak diterima di pendidikan formal. Persepsi inilah yang ingin diubah BPVP Banyuwangi melalui pendekatan langsung ke komunitas.
“Masih ada anggapan bahwa pelatihan vokasi itu alternatif terakhir. Padahal, keterampilan justru menjadi modal utama untuk bertahan dan berkembang di dunia kerja saat ini,” katanya.
Melalui program TMT, BPVP Banyuwangi menyesuaikan materi pelatihan dengan karakteristik desa. Daerah yang memiliki potensi pertanian, pariwisata, jasa, maupun usaha mikro akan mendapatkan pelatihan berbeda sesuai peluang ekonomi lokal.
“Tidak semua desa bisa diperlakukan sama. Ada desa yang kuat di agro, ada yang di pariwisata atau jasa. Pelatihannya harus spesifik dan relevan,” jelas Susanto.
Untuk memastikan hasil pelatihan memiliki keberlanjutan, BPVP Banyuwangi juga melibatkan dunia usaha dan industri melalui Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dengan Industri dan Dunia Kerja (FKLPID). Kolaborasi ini diharapkan membuka peluang penempatan kerja maupun pengembangan usaha mandiri bagi peserta.
“Kami ingin peserta pelatihan tidak berhenti pada sertifikat saja, tetapi punya gambaran jelas tentang kebutuhan pasar dan peluang kerja,” tambahnya.
Dengan pendekatan jemput bola ini, BPVP Banyuwangi menegaskan perannya tidak hanya sebagai pusat pelatihan, tetapi juga sebagai penghubung antara masyarakat desa dan peluang ekonomi yang lebih luas.
“Kami ingin BPVP hadir langsung di tengah masyarakat dan menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi,” pungkas Susanto.



Posting Komentar