Korps PMII Putri (KOPRI) sebagai badan otonom Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memiliki mandat strategis dalam penguatan kapasitas perempuan muda Islam, kaderisasi kepemimpinan, serta advokasi isu-isu keadilan gender dan sosial.
Konsep Globalizing KOPRI
Konsep Globalizing KOPRI menjadi relevan sebagai upaya memposisikan KOPRI agar (bisa) responsif terhadap tantangan global tanpa kehilangan akar nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan ke-Indonesia-an. Globalizing KOPRI dapat dipahami sebagai proses membawa nilai-nilai perjuangan KOPRI yakni ke-Islam-an, ke-Indonesia-an, dan keperempuanan ke dalam ruang global.Konsep ini tidak identik dengan Westernisasi atau penghapusan nilai lokal, melainkan proses dialektika antara nilai lokal dan realitas global. KOPRI berupaya menjadikan perempuan Islam Indonesia sebagai subjek aktif dalam diskursus global, terutama dalam isu-isu seperti keadilan gender, hak asasi manusia, perdamaian, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
Urgensi Globalizing KOPRI
Urgensi Globalizing KOPRI berangkat dari beberapa realitas. Pertama, isu perempuan saat ini bersifat global, seperti kekerasan berbasis gender, ketimpangan akses pendidikan, dan diskriminasi struktural.Kedua, perempuan Muslim sering kali diposisikan secara stereotipikal dalam wacana internasional sebagai kelompok tertindas. KOPRI memiliki tanggungjawab moral dan intelektual untuk menghadirkan narasi alternatif: perempuan Muslim yang berdaya, kritis, dan progresif.
Ketiga, globalisasi membuka peluang kolaborasi lintas negara yang dapat memperkuat kapasitas kader KOPRI dalam menghadapi tantangan zaman.
Makna Globalizing KOPRI
Globalizing KOPRI tidak sekadar dimaknai sebagai internasionalisasi kegiatan atau relasi lintas negara, tetapi sebagai proses menyeluruh untuk meningkatkan daya saing, relevansi, dan kontribusi KOPRI di tingkat global. Ini mencakup penguatan kapasitas intelektual kader, penguasaan isu global, kemampuan komunikasi lintas budaya, serta pemanfaatan teknologi digital untuk dakwah, advokasi, dan pengorganisasian. Dengan demikian, KOPRI mampu menjadi agen perubahan (agent of change) yang berjejaring luas dan berpengaruh.Landasan Nilai dan Ideologis
Upaya globalisasi KOPRI harus berangkat dari landasan nilai yang kokoh. Nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, serta komitmen kebangsaan menjadi fondasi utama. Globalisasi (sekali lagi) bukanlah Westernisasi, melainkan dialog peradaban yang setara.KOPRI perlu menegaskan identitasnya sebagai organisasi perempuan Islam progresif yang menjunjung moderasi beragama, keadilan gender, kemanusiaan, dan perdamaian.
Sebagai kader KOPRI, kita perlu dibekali kompetensi global, antara lain: literasi isu internasional (gender, HAM, lingkungan, perdamaian), kemampuan bahasa asing, riset dan penulisan ilmiah, serta kepemimpinan transformatif. Kurikulum kaderisasi dapat diperbarui dengan memasukkan perspektif global dan praktik terbaik (best practices)dari gerakan perempuan dunia.
2) Digitalisasi Gerakan
Di era digital, ruang global hadir melalui platform daring. KOPRI dapat memanfaatkan media sosial, podcast, webinar internasional, dan publikasi digital untuk menyuarakan gagasan, memperluas jejaring, serta membangun citra organisasi. Digitalisasi juga memperkuat efisiensi organisasi dan memperluas partisipasi kader lintas wilayah.
3) Jejaring dan Kolaborasi Internasional
Globalizing KOPRI menuntut pembangunan jejaring strategis dengan organisasi perempuan, mahasiswa, NGO, dan lembaga internasional. Kolaborasi ini dapat berupa pertukaran kader, konferensi internasional, riset kolaboratif, dan program advokasi bersama. Melalui jejaring ini, KOPRI dapat belajar, berkontribusi, dan mengangkat isu perempuan Indonesia ke panggung global.
4) Advokasi Isu-isu Perempuan dan Keadilan Sosial Global
KOPRI perlu mengambil peran aktif dalam isu-isu global yang berdampak langsung pada perempuan, seperti perubahan iklim, konflik dan perdamaian, migrasi, ekonomi politik global, serta kekerasan berbasis gender. Advokasi berbasis data, perspektif Islam moderat, dan pengalaman lokal Indonesia akan memperkaya diskursus global.
5) Penguatan Identitas dan Narasi
Pada arus globalisasi saat ini, penguatan identitas menjadi krusial. KOPRI harus mampu membangun narasi yang autentik: perempuan Islam yang cerdas, berdaya, dan berkontribusi bagi dunia. Narasi ini disampaikan melalui karya intelektual, seni-budaya, dan diplomasi sosial yang inklusif.
Strategi Globalizing KOPRI
1) Penguatan Kaderisasidan Kapasitas SDMSebagai kader KOPRI, kita perlu dibekali kompetensi global, antara lain: literasi isu internasional (gender, HAM, lingkungan, perdamaian), kemampuan bahasa asing, riset dan penulisan ilmiah, serta kepemimpinan transformatif. Kurikulum kaderisasi dapat diperbarui dengan memasukkan perspektif global dan praktik terbaik (best practices)dari gerakan perempuan dunia.
2) Digitalisasi Gerakan
Di era digital, ruang global hadir melalui platform daring. KOPRI dapat memanfaatkan media sosial, podcast, webinar internasional, dan publikasi digital untuk menyuarakan gagasan, memperluas jejaring, serta membangun citra organisasi. Digitalisasi juga memperkuat efisiensi organisasi dan memperluas partisipasi kader lintas wilayah.
3) Jejaring dan Kolaborasi Internasional
Globalizing KOPRI menuntut pembangunan jejaring strategis dengan organisasi perempuan, mahasiswa, NGO, dan lembaga internasional. Kolaborasi ini dapat berupa pertukaran kader, konferensi internasional, riset kolaboratif, dan program advokasi bersama. Melalui jejaring ini, KOPRI dapat belajar, berkontribusi, dan mengangkat isu perempuan Indonesia ke panggung global.
4) Advokasi Isu-isu Perempuan dan Keadilan Sosial Global
KOPRI perlu mengambil peran aktif dalam isu-isu global yang berdampak langsung pada perempuan, seperti perubahan iklim, konflik dan perdamaian, migrasi, ekonomi politik global, serta kekerasan berbasis gender. Advokasi berbasis data, perspektif Islam moderat, dan pengalaman lokal Indonesia akan memperkaya diskursus global.
5) Penguatan Identitas dan Narasi
Pada arus globalisasi saat ini, penguatan identitas menjadi krusial. KOPRI harus mampu membangun narasi yang autentik: perempuan Islam yang cerdas, berdaya, dan berkontribusi bagi dunia. Narasi ini disampaikan melalui karya intelektual, seni-budaya, dan diplomasi sosial yang inklusif.
Tantangan Globalizing KOPRI
Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain keterbatasan sumber daya, kesenjangan kapasitas antar wilayah, resistensi terhadap perubahan, serta arus ide global yang tidak selalu sejalan dengan nilai organisasi. Oleh karena itu, diperlukan manajemen perubahan yang bijak, konsolidasi internal, dan penguatan nilai ideologis agar globalisasi menjadi peluang, bukan ancaman.Relevansi Globalizing KOPRI bagi Masa Depan
Globalizing KOPRI memiliki relevansi strategis bagi masa depan organisasi dan gerakan perempuan Islam Indonesia. Dengan perspektif global, KOPRI dapat berkontribusi dalam penyusunan kebijakan, advokasi perempuan, dan pembangunan peradaban yang berkeadilan. KOPRI tidak hanya menjadi organisasi kaderisasi, tetapi juga pusat pemikiran dan gerakan perempuan Islam progresif yang diakui secara Internasional.Kesimpulan
Globalizing KOPRI masa kini merupakan ikhtiar strategis untuk menjawab tantangan zaman. Dengan landasan nilai-nilai Islam moderat, penguatan kapasitas kader, digitalisasi gerakan, jejaring internasional, dan advokasi isu global, KOPRI dapat tampil sebagai organisasi perempuan yang berdaya saing global dan tetap berakar kuat pada identitas keindonesiaan.Globalisasi, pada akhirnya, menjadi sarana untuk memperluas maslahat dan mewujudkan peran KOPRI sebagai pelopor perubahan bagi perempuan, bangsa, dan dunia.
Oleh: Nadia Ramadani, PKC PMII Sumatera Utara
Oleh: Nadia Ramadani, PKC PMII Sumatera Utara



Posting Komentar