Pergeseran ini bukan sekadar berita kriminal biasa; ini adalah lonceng kematian bagi adab yang selama ini kita agungkan sebagai fondasi pendidikan. Juga tentang predikat "pahlawan tanpa tanda jasa" yang dahulu diatribusikan dengan penuh kebanggaan, kini menjadi beban yang rentan.
Pendidikan, yang semestinya menjadi rahim bagi lahirnya kemanusiaan, perlahan mulai kehilangan kesakralannya. Ruang kelas tak lagi sepenuhnya menjadi laboratorium moral, melainkan sekadar ruang transaksional yang dingin, tempat transfer data dilakukan tanpa melibatkan sentuhan jiwa.
Dahulu, sekolah adalah ruang sakral di mana guru menempati posisi sebagai "orang tua kedua". Para orang tua bersikap pasrah penuh terhadap proses Pendidikan selama di ruang belajar dan terdapat kesepakatan batiniah bahwa setiap teguran adalah bentuk kasih sayang, dan setiap tindakan disiplin adalah pahatan untuk membentuk karakter.
Dahulu, sekolah adalah ruang sakral di mana guru menempati posisi sebagai "orang tua kedua". Para orang tua bersikap pasrah penuh terhadap proses Pendidikan selama di ruang belajar dan terdapat kesepakatan batiniah bahwa setiap teguran adalah bentuk kasih sayang, dan setiap tindakan disiplin adalah pahatan untuk membentuk karakter.
Padahal, jika merujuk pada pemikiran Nel Noddings dalam bukunya Happiness and Education, ia menyatakan bahwa kebahagiaan seharusnya menjadi tujuan utama pendidikan. Pendidikan yang baik semestinya memberikan kontribusi signifikan terhadap kebahagiaan pribadi dan kolektif seseorang, baik untuk saat ini maupun di masa depan.
Namun, ironinya, di ruang-ruang kelas kita, narasi kebahagiaan dan pendidikan jarang sekali dikaitkan. Alih-alih menjadi tempat persemaian jiwa yang tenang dan bahagia, sekolah sering kali terjebak dalam tuntutan administratif dan kompetensi kaku, yang pada akhirnya justru menciptakan ruang bagi ketegangan, rasa frustrasi, dan—dalam titik yang paling ekstrem—ledakan kekerasan.
Namun, dunia hari ini tengah menyaksikan pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan. Di bawah arus modernisasi dan tuntutan hak asasi yang kerap disalahartikan, relasi antara pendidik dan peserta didik mulai kehilangan batas-batas etisnya. Ketika pendidikan mulai dipandang sebagai industri jasa, posisi guru bertranfomsai dari sosok yang digugu dan ditiru menjadi sekadar "penyedia layanan".
Namun, dunia hari ini tengah menyaksikan pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan. Di bawah arus modernisasi dan tuntutan hak asasi yang kerap disalahartikan, relasi antara pendidik dan peserta didik mulai kehilangan batas-batas etisnya. Ketika pendidikan mulai dipandang sebagai industri jasa, posisi guru bertranfomsai dari sosok yang digugu dan ditiru menjadi sekadar "penyedia layanan".
Di sinilah adab mulai tererosi; ketika rasa hormat tak lagi lahir dari ketulusan, melainkan diukur berdasarkan kepentingan. Jika pondasi adab ini retak, maka benteng pertahanan moral di sekolah tinggal menunggu waktu untuk roboh sepenuhnya.
Potret buram runtuhnya adab di atas menemukan bentuk nyatanya dalam tragedi yang menimpa Agus Saputra, seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Segalanya bermula dari hal yang seharusnya tabu dalam dunia pendidikan: seorang murid meneriakkan kata-kata tidak pantas saat jam pelajaran berlangsung. Sejurus kemudian teguran guru justru dibalas dengan tantangan, sebuah tamparan refleks muncul sebagai bentuk pendisiplinan moral yang kini kian diperdebatkan.
Potret buram runtuhnya adab di atas menemukan bentuk nyatanya dalam tragedi yang menimpa Agus Saputra, seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Segalanya bermula dari hal yang seharusnya tabu dalam dunia pendidikan: seorang murid meneriakkan kata-kata tidak pantas saat jam pelajaran berlangsung. Sejurus kemudian teguran guru justru dibalas dengan tantangan, sebuah tamparan refleks muncul sebagai bentuk pendisiplinan moral yang kini kian diperdebatkan.
Namun, apa yang terjadi setelahnya adalah momok yang menakutkan bagi dunia pendidikan. Mediasi yang buntu tidak berujung pada refleksi diri, melainkan pada aksi pengeroyokan massal oleh para siswa terhadap gurunya sendiri saat menuju ruang guru. Namun, apapun bentuknya peristiwa pengeroyokan selalu menunjukkan sebuah pergeseran paradigma yang mengerikan: guru tak lagi dipandang sebagai pemandu jiwa, melainkan sekadar objek pelampiasan amarah belaka.
Dalam pengeroyokan tersebut, marwah guru benar-benar diinjak-injak. Bayangkan seorang pendidik yang harus menanggung memar di sekujur tubuh dan pipinya akibat amuk massa murid-muridnya sendiri. Lebih ironis lagi ketika kita melihat sang guru terpaksa mengacungkan celurit—peralatan praktik sekolah pertaniannya—hanya untuk membubarkan massa murid yang melempari dirinya dengan batu.
Dalam pengeroyokan tersebut, marwah guru benar-benar diinjak-injak. Bayangkan seorang pendidik yang harus menanggung memar di sekujur tubuh dan pipinya akibat amuk massa murid-muridnya sendiri. Lebih ironis lagi ketika kita melihat sang guru terpaksa mengacungkan celurit—peralatan praktik sekolah pertaniannya—hanya untuk membubarkan massa murid yang melempari dirinya dengan batu.
Di titik ini, kita melihat sebuah pemandangan yang mengiris nurani: seorang guru yang semestinya menjadi sosok pelindung dan teladan, harus bersikap defensif demi menyelamatkan nyawa dari kepungan anak-anak didiknya sendiri.
Meski ada pembelaan dari sisi murid terkait ucapan "motivasi" guru yang dianggap menghina, hal itu sama sekali tidak bisa menjadi dalih pembenaran atas aksi kekerasan komunal. Adab mengajarkan bahwa jika seorang guru salah, ada lisan yang santun untuk mengadu atau jalur formal untuk keberatan.
Meski ada pembelaan dari sisi murid terkait ucapan "motivasi" guru yang dianggap menghina, hal itu sama sekali tidak bisa menjadi dalih pembenaran atas aksi kekerasan komunal. Adab mengajarkan bahwa jika seorang guru salah, ada lisan yang santun untuk mengadu atau jalur formal untuk keberatan.
Namun, ketika murid memilih jalan pengeroyokan dan pelemparan batu, mereka sebenarnya sedang mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menganggap guru sebagai "orang tua kedua". Mereka telah mereduksi guru menjadi lawan tanding yang sah untuk diserang secara fisik. Inilah tragedi sesungguhnya: hilangnya rasa ta'zim (hormat) yang membuat ilmu tidak lagi memiliki wadah untuk menetap.
Tragedi di Jambi ini pada akhirnya membawa kita pada sebuah renungan mendalam tentang apa yang sebenarnya sedang kita bangun di ruang-ruang kelas kita. Toto Rahardjo, pendiri Sanggar Anak Alam di Nitiprayan, Yogyakarta pernah menulis kegelisahaan yang sangat relevan:
Tragedi di Jambi ini pada akhirnya membawa kita pada sebuah renungan mendalam tentang apa yang sebenarnya sedang kita bangun di ruang-ruang kelas kita. Toto Rahardjo, pendiri Sanggar Anak Alam di Nitiprayan, Yogyakarta pernah menulis kegelisahaan yang sangat relevan:
“Ki Hadjar dulu mengajarkan tiga kata yang kini terdengar seperti mantra dari zaman yang kalah: ngerti, ngroso, nglaku. Tiga jalan untuk menjadi manusia yang utuh. Tapi kita hanya memungut ngerti, lalu membiarkannya berkarat oleh ambisi ranking dan kurikulum yang tak sabar. Ngroso dibuang seperti serpihan yang tak efisien, karena empati dianggap bukan kompetensi. Nglaku—melakukan, menghayati—direduksi menjadi tugas rumah yang dicentang guru, bukan pengalaman yang menggugah batin."
Krisis yang menimpa Agus Saputra adalah bukti nyata dari pendidikan yang hanya memungut ngerti. Kita mungkin berhasil melahirkan siswa-siswa yang "mengerti" cara memprotes, "mengerti" cara menuntut hak, bahkan "mengerti" cara mengorganisir massa. Namun, karena ngroso (olah rasa/empati) telah dibuang dari kurikulum kehidupan mereka, mereka kehilangan kepekaan untuk merasakan luka di pipi gurunya. Mereka kehilangan rasa sakit saat melihat sosok yang memberinya ilmu harus terpojok memegang celurit hanya demi membela diri.
Tanpa ngroso, ilmu yang mereka serap di kelas hanyalah instrumen kekuasaan untuk menindas siapa pun yang dianggap menghalangi ego mereka—termasuk guru mereka sendiri. Dan tanpa nglaku (penghayatan), adab hanya menjadi teori di buku cetak yang selesai setelah ujian berakhir, bukan menjadi karakter yang melekat dalam tindakan sehari-hari.
Jika tidak ada sistem yang segera memulihkan "mantra yang kalah" ini ke jantung pendidikan kita, maka sekolah hanya akan menjadi pabrik yang memproduksi mesin-mesin pintar tanpa jiwa. Sistem tersebut harus berani membangun kembali tahta guru sebagai orang tua kedua, bukan karena mengandaikan keagungan otoritarianisme, melainkan karena ingin menyelamatkan kemanusiaan para peserta didik.
Jika tidak ada sistem yang segera memulihkan "mantra yang kalah" ini ke jantung pendidikan kita, maka sekolah hanya akan menjadi pabrik yang memproduksi mesin-mesin pintar tanpa jiwa. Sistem tersebut harus berani membangun kembali tahta guru sebagai orang tua kedua, bukan karena mengandaikan keagungan otoritarianisme, melainkan karena ingin menyelamatkan kemanusiaan para peserta didik.
Sebab, pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan harus menjadi ruang hidup yang membangkitkan kesadaran terhadap dunia, membuka pikiran terhadap masalah kondisi manusia kita, dan membantu orang-orang menjalani hidup yang memuaskan secara pribadi dan paham tentang seberapa beradabnya kita dalam memperlakukan manusia lainnya.
Jika tidak, visi kurikulum yang terpajang di dinding kelas atau pagar sekolah hanyalah retorika kosong—tak bisa menuai benih apa yang selama ini ditanamkan oleh orang tua dan guru.
Oleh: Syamilul Asror, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga



Posting Komentar