Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00 waktu setempat ini bertujuan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi materi pembelajaran melalui metode yang menyenangkan, seperti permainan interaktif, sesi tanya jawab, dan tur sekolah.
Konsep kegiatan dirancang secara tematik, di mana setiap lembaga memiliki area pameran tersendiri. Pada bagian sekolah agama (Diniyah), pengunjung disuguhkan berbagai bilik edukatif. Bilik Bahasa Melayu memperkenalkan siswa pada kekayaan bahasa, pakaian adat, hingga simbol budaya warisan Melayu.
Sementara itu, Bilik Bahasa Arab mengajak siswa untuk berinteraksi menyebutkan nama-nama benda dalam bahasa Arab serta melukis nama mereka sendiri menggunakan teknik kaligrafi atau Pegon.
Di sisi lain, Bilik Fiqih menawarkan pengalaman praktis yang krusial, seperti tata cara tayamum dan simulasi mengkafani jenazah. Setiap bilik dipandu oleh ustadz dan ustadzah yang memfasilitasi diskusi serta menyediakan hadiah menarik bagi siswa yang berhasil menjawab tantangan.
Beralih ke bagian akademik, setiap ruang kelas disulap menjadi laboratorium mata pelajaran, mulai dari Matematika, Sains, hingga Bahasa Thailand dan Inggris. Para guru memberikan kebebasan penuh bagi siswa untuk berkreasi sesuai karakter mata pelajaran masing-masing. Di kelas Matematika, misalnya, pembelajaran dikemas secara menyenangkan melalui permainan dadu, matching game (menyamakan gambar), dan penyusunan bagan.
Untuk memastikan seluruh siswa terlibat aktif hingga akhir acara, pihak sekolah menerapkan sistem kartu kontrol. Setiap siswa diberikan lembar cetak berisi daftar bilik yang harus dikunjungi. Siswa diwajibkan berinteraksi di tiap pos untuk mendapatkan tanda tangan atau paraf dari ustadz maupun guru yang bertugas. Lembar yang telah terisi penuh kemudian diserahkan kepada wali kelas sebagai tambahan poin nilai keaktifan.
Ustadzah Basirah, salah satu pengajar, menjelaskan bahwa agenda tahunan ini sangat penting untuk menyegarkan pikiran siswa.
"Hari ini kita ada pameran akademik, yang berjalan setiap tahunnya, supaya budak-budak tak pusing dengan belajar di kelas terus menerus, jadi kita mau budak-budak ni dapat belajar dengan praktek yang buat mereka gembira, senang macem tu lah," ungkapnya.
Kesan positif juga datang dari DPM (Dewan Pelajar Ma’had), Najmi Cikgawi dan Farhana Samuda.
"Kami berasa sangat gembira dapat bermain dan belajar bersama kanak-kanak. Melihat senyuman mereka juga membuat kami turut merasa bahagia sepanjang aktiviti ini," tutur mereka.
Secara keseluruhan, Open House Akademik ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran interaktif, tetapi juga berhasil menumbuhkan semangat kompetisi yang sehat dan keceriaan di lingkungan Pratteep Wittaya School.
Pewarta: Lilis Setyawati



Posting Komentar