Teleponku Berdering Pada Malam Sabtu
Merianglah tubuh iniMerangsang puncak rindu
Menggigil ketika wajahmu
Mengambang di udara
Tiba-tiba
Teleponku berdering pada malam sabtu
Meraba-raba purba darah
Apa yang mesti kita bicarakan selanjutnya?
Mungkin, segala keinginan
Atau sepotong patah puisi
Yang kukirimkan padamu minggu lalu
Menjerit seperti burung-burung
Yang terpanah jantungnya.
Suatu hari
Jika memorabilia ini
Mengikis pertemuan hingga habis
Datanglah padaku membawa dua musim
Tanpa kesedihan,
Tanpa kesedihan,
Dan tanpa riak air di mata.
Aku masih ingin merindu berlama-lama
Sebelum kita terjatuh ke dalam cinta.
Yogyakarta, 2024
Atau sepotong patah puisi
Yang kukirimkan padamu minggu lalu
Menjerit seperti burung-burung
Yang terpanah jantungnya.
Suatu hari
Jika memorabilia ini
Mengikis pertemuan hingga habis
Datanglah padaku membawa dua musim
Tanpa kesedihan,
Tanpa kesedihan,
Dan tanpa riak air di mata.
Aku masih ingin merindu berlama-lama
Sebelum kita terjatuh ke dalam cinta.
Yogyakarta, 2024
*
Di Dapur
ada yang mengetuk pintu dapurketika hendak segala sesak
di masak hingga gosong
aku menyulutnya sendirian
di pinggir tungku kayu bakar
di tengah nyala kesepian.
bumbu masa lalu apalagi
yang musti kita racik malam hari
diantara gelombang cabai
yang membalut runcing pisau
di mata ini
perih sekali.
Yogyakarta, April 2024
*
Tembang Kenangan
Puisi itu kutembangkan kekasih # ketika malam membawa udara perihHuruf-hurufnya membentuk kalimat sakit # memantulkan kesepian ke jantung langit
Hitam kenangan mengajari warna gelap # seperti rasa kantuk rindu yang lelap
Di lemari ini setumpuk kenangan # membuat gaduh ingatan
Dentingnya berdentangan keras # dadaku menyublim panas
Selasa tabah itu mencium pucat jarak # meski pincang kakiku sulit bergerak
Sempurnalah kepiluan ini menang sekarat # Tuhan, kita perlu lebih dekat.
Tetapi, akankan diri ini mampu # merawat teduh indah senyummu
Sementara hari-hari kubakar # lantaran sesak kenangan kerap mencakar
Yogyakarta, 2024
Sementara hari-hari kubakar # lantaran sesak kenangan kerap mencakar
Yogyakarta, 2024
*
Tembang Rindu
Kemanakah aku harus pergi # menghindar dari puncak sesak iniSementara suara burung-burung # mengalunkan peristiwa dalam renung
Dengan wujud apalagi menyerupai # wajahmu terlalu pandai mengklabui hati
Seperti tabah batu-batu dalam kali # namamu esa, kutasbihkan berkali-kali
Barangkali, Tuhan ada dalam dirimu # bersemayam teduh dalam kalbuku
Maka, syahdu kesepian # kubakar sendirian
Lantaran aku seonggok pemuda # yang mencintai segala sabda
Kemarilah, pegang erat do’a ini # aku menginginkanmu sampai abadi
Yogyakarta, 2024
*
Soneta 10 02 2026
(el-hidayah)Aku ingin mengucap mantra
Ketika pucat cuaca menurunkan dua kali lipat sabda
Di telaga rengganis
Burung-burung di Bragung
Bercericit bising
Seperti suara nun
Walqalami Wamaa Yasturuun
Tangan dan ingatanku patah
Tubuh ini ringkih
Buku-buku menjadi beku
Lantaran senyum manismu
Membidik dan mencabik-cabik
Seluruh ruh kepenyairan ini.
Berpasrahlah kita kepada yang maha agung
Mendengungkan harap lebih keras
Membuat prosa-prosa tidak putus
Mengalir kepada Tuhan kita
Rindu ini teramat suci
Serupa wahyu dari jibril
Yang bertandang waktu petang
Waktu jerit kesepian bercahaya
Menyala-nyala, di atas mihrab Tuhan
Berpendar menjelma pijar
Setitik air suci luruh dari ubun-ubun langit
Kau kah itu? menyimpan kasih sayang
Bukalah pintu hatimu
Aku ingin memasuki segala kebenaran
Yang menolak segala kesesatan
Yang menolak segala kesesatan
Terimalah madah ini
Setelah peperangan seratus empat belas ritus kerinduan
Menanggung getir tajam panah angin
Membawa aroma tunggal tubuhmu
Aroma yang kukenal diantata bau-bau harapan masa depan
Aku mencintaimu sebagai palaksanaan atas kemerdekaanku.
Mari, bersama-sama
Sebutlah allah-allah
Sebutlah allah-allah
Tanpa lelah
Tanpa gegabah
Memohon dalam sembah
Yogyakarta, 2026
Oleh: Syafiq Rahman, Seorang Penyair Muda dan Pemenang (Juara 1) Lomba Cipta Puisi Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat tahun 2025



Posting Komentar