BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Permainan Busuk Rezim: Teror terhadap Aktivis Mahasiswa dan Kritik Tajam Rocky Gerung atas Kebijakan MBG Prabowo

Penalaut.com
- Rocky Gerung, dalam kanal YouTube-nya, menyajikan kritik pedas terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintahan Prabowo Subianto, yang memicu serangkaian teror terhadap Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, setelah ia berani bersuara.

Analisisnya mengungkap pola intimidasi sistematis yang menargetkan suara kritis mahasiswa, mempertanyakan "permainan busuk siapa" di balik ancaman pembunuhan dan penguntitan tersebut. Kasus ini bukan sekadar insiden sporadis, melainkan gejala represi otoriter yang mengancam demokrasi deliberatif di Indonesia.

Program MBG, yang digadang-gadang sebagai pilar "Generasi Emas" oleh Presiden Prabowo, justru menjadi sorotan Rocky Gerung karena kegagalannya yang fatal. Rocky menyebut program ini sebagai "Racun Teror Sekolah", di mana keracunan massal siswa akibat makanan tercemar bukan hanya membahayakan kesehatan fisik, tetapi juga menciptakan trauma psikologis bagi pelajar, orang tua, dan guru. 

Ia menyoroti ironi di mana momen makan siang—yang seharusnya menjadi jeda bahagia—berubah menjadi jam ketakutan, dengan indikasi korupsi yang menyusutkan anggaran per porsi dari target ideal menjadi makanan murahan. Lebih lanjut, Rocky mengkritik pendekatan pragmatis Prabowo yang mengabaikan etika gizi dan standar higienis demi pencitraan politik.

Dalam salah satu videonya, ia mendesak evaluasi menyeluruh karena program ini kontraproduktif: bukannya membangun generasi sehat, malah memicu wabah dan ketidakpercayaan publik terhadap negara. Kritik ini diperkuat oleh data keracunan berulang di berbagai sekolah, yang menurut Rocky mencerminkan kegagalan tata kelola anggaran negara pasca-pemilu 2024. Tiyo Ardianto, sebagai Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, mengirim surat terbuka kepada UNICEF pada awal Februari 2026, menyoroti kegagalan MBG dalam menjamin hak dasar anak atas gizi layak. 

Responsnya bukan dialog konstruktif, melainkan gelombang teror: pesan WhatsApp dari nomor asing menuduhnya sebagai "agen asing" dengan ancaman "culik mau?" yang eksplisit. Ancaman berlanjut dengan penguntitan oleh dua pria tak dikenal yang memotretnya di sekitar kampus, serta pelecehan terhadap ibunya melalui telepon dan pesan intimidatif.

Rocky Gerung, dalam video berjudul "Kritik Keras MBG Dan Prabowo, Ketua BEM UGM Diteror, Diancam Dibunuh. Permainan Busuk Siapa?", menganalisis kronologi ini sebagai eskalasi represi. Ia menautkannya dengan pola serupa terhadap BEM UI, di mana aktivis mahasiswa dihujani teror pasca-kritik kebijakan pemerintah. Fenomena ini, menurut Rocky, menunjukkan ketakutan rezim terhadap mobilisasi kampus yang konstitusional, mirip dengan represi era Orde Baru.

Rocky Gerung secara eksplisit mempertanyakan aktor di balik "permainan busuk" ini, menyiratkan keterlibatan oknum intelijen atau pendukung fanatik rezim Prabowo yang gelisah menghadapi kritik faktual. Dalam konteks pidato Prabowo yang menstigmatisasi demonstrasi sebagai "anarkis" dan bom molotov, Rocky melihat proyeksi kecemasan politik: pemerintah gagal menanggapi substansi kritik, sehingga beralih ke taktik kriminalisasi. Ia membandingkannya dengan kasus mosi tak percaya BEM UGM terhadap kebijakan sebelumnya, di mana Rocky sudah "endus skandal" sejak 2025.

Secara filosofis, Rocky berargumen bahwa teror ini merusak fondasi demokrasi Habermas—ruang publik deliberatif yang kini digantikan oleh intimidasi digital dan fisik. Mahasiswa sebagai agen perubahan, kata Rocky, menjadi target karena menyuarakan apa yang pemerintah sembunyikan: korupsi MBG yang merugikan anak bangsa. Ia menyerukan solidaritas akademik nasional untuk melindungi kebebasan berpendapat, sebagaimana dijamin UUD 1945 Pasal 28E dan 28F.

Kasus ini memiliki implikasi luas bagi lanskap politik Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo. Rocky Gerung memperingatkan bahwa represi terhadap BEM UGM bukan akhir, melainkan awal dari pembungkaman sistematis terhadap civil society, terutama di tengah isu ekonomi pasca-inaugurasi 2025. Secara akademis, ia mengajak refleksi atas kontradiksi antara retorika "Generasi Emas" dengan realitas teror negara, yang dapat memicu alienasi generasi muda dari proses demokrasi.

Dari perspektif hak asasi manusia (HAM), teror ini melanggar Konvensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR), yang diratifikasi Indonesia. Rocky mendesak lembaga seperti Komnas HAM dan UNICEF untuk investigasi independen, sambil menekankan peran filsuf publik dalam mengawal akuntabilitas kekuasaan. Kritik Rocky ini, menjadi panggilan bagi intelektual untuk tidak diam di tengah permainan busuk yang mengancam demokrasi Indonesia.

Oleh: Fawaid Abdullah Abbas, S.H
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak