Penalaut.com — Dunia anak seharusnya menjadi benteng paling kokoh yang dipenuhi tawa, rasa aman, dan kasih sayang tanpa syarat. Namun, realita terkadang menyuguhkan potret yang jauh berbeda—sebuah paradoks menyakitkan di mana tempat yang dianggap sebagai "rumah kedua" justru berubah menjadi ruang ketakutan, dan di mana kehadiran nyawa baru justru disambut dengan penolakan yang fatal.
Melalui Daycare Little Aresha dan bayi Slamet Nur Wage, kita diingatkan bahwa hak dasar anak atas perlindungan masih sering kali dikhianati oleh tangan-tangan dewasa yang seharusnya menjaganya.
Pengkhianatan Kepercayaan di Little Aresha
Kasus Little Aresha mencuat sebagai luka mendalam bagi dunia pengasuhan anak. Daycare, yang secara definisi adalah tempat penitipan anak di mana orang tua menaruh kepercayaan penuh (trust) demi kelangsungan pekerjaan dan masa depan keluarga, justru menjadi panggung penganiayaan.Ketika seorang pendidik—sosok yang dipandang sebagai pengganti orang tua—dijadikan tersangka karena kekerasan terhadap anak, ada sesuatu yang retak dalam sistem sosial kita. Tragedi ini menyoroti dua hal penting:
1. Kegagalan Sistemik: Kurangnya pengawasan ketat dan standarisasi kompetensi emosional bagi pengasuh anak. Tragedi ini menunjukkan bahwa profesionalisme dalam pengasuhan tidak bisa hanya dianggap sebagai pekerjaan administratif, harus disertai integritas moral yang diawasi oleh sistem berlapis.
2. Trauma Tak Kasat Mata: Anak-anak yang menjadi korban di Little Aresha mungkin belum bisa menyuarakan rasa sakit mereka melalui kata-kata, namun memori tubuh dan psikologis mereka akan membawa beban tersebut. Dalam psikologi perkembangan, trauma pada anak usia dini (Anak belum lancar berbicara).
Anak-anak yang terpapar kekerasan tersebut sering kali menginternalisasi trauma, yang menyebabkan perubahan mendalam pada kesehatan mental mereka yang bermanifestasi sebagai kewaspadaan berlebihan yang terus-menerus, mati rasa emosional, dan ingatan yang mengganggu fungsi sehari-hari mereka. Pemulihannya jauh lebih kompleks karena sang anak tidak memiliki narasi kata-kata untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan.
Slamet Nur Wage: Nama bagi Mereka yang Tak Terpilih
Di sisi lain, ada kisah memilukan dari Banyuwangi tentang seorang bayi yang ditemukan tak bernyawa setelah diduga dibuang. Masyarakat kemudian memberinya nama Slamet Nur Wage. Nama ini bukan sekadar identitas di atas nisan, melainkan sebuah manifestasi dari rasa bersalah kolektif dan penghormatan terakhir dari kemanusiaan yang tersisa.Nama bukan lagi sekedar budaya, nama adalah doa sekaligus pengakuan atas eksistensi keberadaan. Bayi itu tidak lagi dianggap sebagai “benda” atau temuan belaka, namun individu yang memiliki identitas. Ini adalah upaya manusia untuk memanusiakan kembali nyawa dan raga yang sebelumnya diperlakukan tanpa martabat.
Slamet Nur Wage adalah simbol dari anak-anak yang "tidak bersalah" namun harus menanggung konsekuensi dari keputusan kejam orang dewasa. Jika Little Aresha adalah tentang pengkhianatan dalam pengasuhan, kisah Slamet adalah tentang penolakan terhadap hak untuk hidup itu sendiri. Masyarakat yang memberikan nama tersebut seolah ingin mengatakan: "Meski dunia menolakmu, kami mengakuimu sebagai bagian dari kami."
Anak-anak adalah cerminan dari peradaban bangsa. Jika kita membiarkan Little Aresha terus berulang, dan Slamet-Slamet lain ditemukan di jurang kebiadaban, maka ada yang salah dengan kemanusiaan yang selama ini dielu-elukan, maka ada yang salah dengan kemanusiaan kita.
Little Aresha adalah tamparan keras bagi kita bahwa anak yang tidak bersalah tidak butuh hanya sekedar nama atau tuntutan hukum setelah mereka terluka. Mereka butuh kehadiran seutuhnya untuk memastikan bahwa dunia adalah tempat aman untuk mereka bernapas.
Oleh: Hasrul Maulana Kidam



Posting Komentar