Rumahku berdiri sederhana, beratap seng yang berisik ketika hujan turun, tetapi di sekelilingnya tegak pohon pohon besar ulin, meranti, keruing yang menjulang seperti tiang tiang langit. Aku tumbuh bukan di antara pagar beton, melainkan di antara akar-akar yang menjalar dan tanah yang lembab oleh embun subuh.
Masa kecilku adalah masa ketika hutan menjadi ruang belajar yang tak tertulis. Di sana aku mengenal sunyi yang tidak menakutkan, gelap yang tidak mengancam, dan jarak yang tidak terasa asing. Setiap pagi kabut menggantung rendah, menyelimuti pucuk pepohonan. Burung-burung bernyanyi tanpa aba-aba, dan angin bergerak perlahan, membawa aroma kayu basah yang tak pernah bisa kutemukan lagi hari ini.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah peradaban yang bekerja dalam diam. Semut membangun jalannya sendiri, jamur tumbuh tanpa meminta izin, sungai kecil mengalir dengan setia, memantulkan bayangan langit yang tak pernah menuntut balasan. Di sana aku belajar bahwa hidup tidak selalu harus tergesa. Bahwa ada irama yang lebih tua dari manusia, dan kita hanyalah tamu yang singgah sebentar.
Kami, anak-anak desa, berlari di sela batang-batang besar. Berenang disungai sungai kecil. Kami memanjat, jatuh, tertawa. Tanah yang kami pijak adalah tanah yang penuh cerita. Orang-orang tua sering berkata bahwa hutan memiliki ingatan. Hutan menyimpan jejak kaki leluhur, doa-doa yang terucap di bawah bulan, dan mungkin juga kesedihan yang tak pernah sempat diberi nama.
Namun waktu berjalan dengan kehendaknya sendiri.
Kini, ketika aku dewasa dan kembali menapaki jalan yang dulu ku lalui dengan kaki kecilku, yang kutemukan bukan lagi hutan yang teduh. Yang berdiri kini adalah barisan sawit yang seragam, tertib, dan diam. Tak ada lagi keragaman suara. Tak ada lagi bayang-bayang besar yang menaungi. Hutan yang dulu liar dan hidup telah berubah menjadi hamparan yang patuh pada logika produksi.
Aku tidak sedang meromantisasi masa lalu. Aku hanya mengingat dengan jujur.
Dulu, setiap pohon memiliki wajahnya sendiri. Kini, setiap batang sawit tampak seperti salinan dari yang lain. Dulu, kami belajar bahwa hidup adalah keberagaman. Kini, yang diajarkan adalah keseragaman demi keuntungan. Dulu, hutan adalah ruang hidup. Kini, ia menjadi angka dalam laporan investasi.
Aku tidak sedang menolak perubahan. Aku hanya bertanya mengapa perubahan harus selalu berarti penghapusan?
Truk-truk besar pernah masuk ke kampung kami, membawa suara mesin yang memekakkan. Pohon-pohon tumbang satu per satu, seperti tubuh-tubuh yang direbahkan tanpa sempat mengucap selamat tinggal. Orang-orang menyebutnya pembangunan. Mereka berbicara tentang investasi, tentang kemajuan, tentang kesejahteraan. Tetapi di antara kata-kata itu, aku tak mendengar satu pun kalimat tentang kehilangan.
Padahal kehilangan itu nyata.
Sungai yang dulu jernih mulai keruh. Udara yang dulu segar menjadi berat oleh debu dan asap pembakaran. Burung-burung yang dulu menjadi alarm alami pagi hari, perlahan menghilang. Sunyi yang dulu menenangkan, berubah menjadi kekosongan.
Aku teringat kalimat Pramoedya Ananta Toer yang selalu menggugah kesadaranku: “Kita boleh saja berbeda-beda, tetapi kita adalah satu”. Dalam hutan, aku melihat makna kalimat itu. Beragam pohon, beragam makhluk, tetapi membentuk satu ekosistem yang saling menopang. Ketika satu jenis didominasi dan yang lain disingkirkan, kesatuan itu retak.
Perkebunan sawit memang memberi kerja. Ia menghadirkan penghasilan bagi banyak keluarga. Aku tidak menutup mata terhadap itu. Tetapi aku juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih luas telah dikorbankan. Hutan yang membutuhkan ratusan tahun untuk tumbuh, ditebang dalam hitungan bulan.
Aku juga teringat suara lantang W.S. Rendra yang pernah menulis tentang ketidakadilan dengan nada yang mengguncang. Ia mengajarkan bahwa kesadaran harus terus dirawat, sebab tanpa kesadaran manusia mudah terbuai oleh istilah-istilah indah yang menyembunyikan luka.
Kini, ketika aku berdiri di tengah hamparan sawit yang membentang tanpa jeda, aku merasa seperti berdiri di atas tanah yang kehilangan kisahnya. Tidak ada lagi bayang-bayang besar yang melindungi. Tidak ada lagi lapisan-lapisan hutan yang membuatku merasa kecil di hadapan semesta. Yang ada hanyalah keteraturan yang sunyi.
Barangkali beginilah wajah zaman ia menyukai keseragaman karena mudah diatur. Ia mencintai angka karena mudah dilaporkan. Tetapi hutan tidak pernah hidup dalam angka. Ia hidup dalam keseimbangan yang tak kasatmata.
Aku adalah anak yang dibesarkan oleh Hutan Kalimantan. Meski hutannya kini menyusut, ia tetap tumbuh di dalam diriku. Dalam cara aku memandang kehidupan, dalam kegelisahan yang kurasakan setiap kali mendengar kata “ekspansi”, dalam keenggananku menerima bahwa segala sesuatu bisa digantikan begitu saja.
Tokoh yg kukagumi dan kuikuti ajaran yaitu bung karno pernah berkata jasmerah jangan sesekali melupakan sejarah. Dan bagiku, hutan adalah bagian dari sejarah itu sejarah yang tidak tertulis dalam buku pelajaran, tetapi terukir dalam ingatan kolektif masyarakatnya.
Jika kelak anak-anakku bertanya seperti apa masa kecilku, aku tidak ingin hanya menunjuk foto lama. Aku ingin mereka tahu bahwa pernah ada hutan yang lebat di sekitar rumah kami. Bahwa pernah ada waktu ketika manusia hidup berdampingan dengan alam tanpa merasa perlu menaklukkannya.
Mungkin aku tidak bisa mengembalikan hutan yang telah hilang. Tetapi aku bisa merawat ingatannya. Sebab kehilangan terbesar bukanlah ketika pohon terakhir tumbang, melainkan ketika manusia berhenti merasa bahwa ia telah merusak sesuatu yang seharusnya ia jaga.
Dan selama aku masih menulis, selama kata-kata masih mampu menjadi saksi, hutan itu belum sepenuhnya mati. Ia hidup dalam kegelisahan, dalam kenangan, dan dalam harapan bahwa suatu hari nanti manusia belajar kembali untuk menjadi bagian bukan penguasa dari alam yang membesarkannya.
Oleh: Vingky Dwi Putra



1 komentar