BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Suara yang Menggugat: Kritik Pemerintahan, Refleksi Individu, dan Sosial

Penalaut.com - Buku "Suara yang Menggugat: Kritik Pemerintahan, Refleksi Individu, dan Sosial" karya Fawaid Abdullah Abbas merupakan kumpulan esai yang lahir dari kegelisahan intelektual terhadap dinamika politik, sosial, dan demokrasi di Indonesia. 

Berangkat dari pengalaman penulis dalam dunia aktivisme mahasiswa—khususnya di lingkungan PMII—buku ini menghadirkan refleksi kritis yang tajam terhadap praktik kekuasaan, arah kebijakan negara, serta fenomena sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Secara garis besar, buku ini memotret relasi antara negara dan warga dalam lanskap demokrasi kontemporer. Penulis menyoroti berbagai isu aktual, mulai dari proyek penulisan ulang sejarah nasional yang dikhawatirkan berpotensi menjadi alat glorifikasi kekuasaan, hingga polemik “matahari kembar” dalam pemerintahan Prabowo Subianto yang dikaitkan dengan pengaruh politik Joko Widodo. Dalam isu tersebut, penulis mempertanyakan batas legitimasi dan konsolidasi kekuasaan di era transisi pemerintahan.

Tak hanya itu, buku ini juga membedah kontroversi publik seperti video monolog Gibran Rakabuming Raka tentang bonus demografi, polemik ijazah Jokowi yang menyangkut transparansi pejabat publik, serta kampanye keberhasilan pemerintahan yang dinilai cenderung menjadi propaganda politik. Di sisi lain, isu revisi RUU TNI menjadi perhatian serius karena dianggap berpotensi menghidupkan kembali semangat Dwifungsi militer ala Orde Baru, yang pernah menguat pada masa Soeharto.

Dalam esai tentang "civil phobia", penulis menggambarkan kecenderungan pemerintah yang alergi terhadap kritik rakyat, yang tercermin dalam respons terhadap demonstrasi dan pembatasan kebebasan pers. Demokrasi, dalam pandangan penulis, tidak hanya diuji melalui pemilu, tetapi juga melalui kesediaan negara menerima kritik dan menjaga ruang kebebasan sipil.

Selain kritik struktural, buku ini juga menghadirkan refleksi sosial dan psikologis, seperti pembahasan mengenai cacat logika para pejabat, budaya feodalisme dalam institusi pendidikan dan pesantren, hingga kecenderungan elit yang sulit berintrospeksi. Penulis menekankan pentingnya nalar kritis masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam retorika dan manipulasi opini.

Secara keseluruhan, buku ini bukan sekadar kumpulan opini, melainkan sebuah ajakan untuk berpikir, mempertanyakan, dan menjaga kesadaran kolektif. "Suara yang Menggugat" diharapkan menjadi refleksi zaman—sebuah catatan tentang bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana narasi dibentuk, dan bagaimana rakyat seharusnya tetap bersuara dalam menjaga demokrasi.


Oleh : Fawaid Abdullah Abbas, S.H.
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak