Masyarakat sendiri tidak semata-mata menginginkan kemajuan, melainkan juga kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan hanya mungkin dengan agama; sebagai yang paling efektif mengembangkan necessary condition sekaligus sufficient condition. Itu berarti, peranan mahasiswa Muslim Indonesia dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan ilmu agama akan secara konsisten mendapat sambutan meriah dari masyarakat luas.
Hanya, teramat disayangkan, idealisme di atas terlampau jauh dari realitas. Mahasiswa Muslim Indonesia saat ini notabenenya memperparah keadaan, insecure mengakui diri seorang Muslim, sering kali melting pot, dan teperdaya pandangan atau model hidup dominan. Mahasiswa Muslim Indonesia dengan karakteristik memperparah keadaan ini dapat dikelompokkan menjadi dua, kelompok penentang agama dan pelanggar syariat.
Agama itu bersifat holistis, maka mencakup yang rasional dan supra-rasional, tetapi tidak lantas irasional karena keyakinan-keyakinan religius dapat dijelaskan dan memiliki alasan-alasan (Hardiman, 2018:16). Menyelisik sejarah, agama adalah sumber rasionalitas, jauh sebelum modernitas. Melalui agama, umat manusia tahu tentang yang benar dan salah, tentang makna eksistensi individu dan kelompok, tentang yang baik dan jahat, termasuk tentang yang indah dan sebaliknya.
Rasa rendah diri intelektual adalah alasan utama kelompok mahasiswa Muslim ini terpapar sekularisasi subjektif juga sekularisasi objektif. Sekularisasi subjektif artinya memisahkan pengalaman sehari-hari dengan pengalaman keagamaan, sementara sekularisasi objektif, menjauhkan agama dari ilmu pengetahuan.
Spiritualisasi memiliki pengaruh signifikan, yaitu kesadaran penuh, setiap syariat yang dijalankan melekat dengan yang menciptakan. Kesadaran ini memungkinkan mahasiswa muslim Indonesia terbebas dari egosentrisme, agresivitas, dan syahwat yang menjadi pemicu utama kejatuhan umat manusia, seiring yang kemudian, teknologisasi dan massifikasi.
Kelompok Penentang Agama
Alih-alih mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan ilmu agama, kelompok mahasiswa yang secara identitas muslim ini, justru menjauhkan keduanya. Anggapan mereka agama hanya perihal spiritualisme, sifatnya pribadi serta irasional. Realitasnya, agama jauh lebih kaya dari sekadar spiritualisme. Memandang agama hanya perihal spiritualisme, semata ke atas, merupakan suatu reduksionisme yang tidak layak dilakukan cendekiawan.Agama memiliki dimensi ke bawah mencakup ranah sosial, ekonomi, dan politik. Rupanya kelompok mahasiswa Muslim penentang agama ini, tidak serius mempelajari agama:
Pertama, menganggap semua agama sama, padahal di dalam agama Islam, misalnya, terdapat internal dynamics dan creative tension; adanya perubahan serta perkembangan, dan ketegangan kreatif antara yang abadi dan yang sementara, antara yang spiritual dan yang sosial (Kuntowijoyo, 2018:98–99).
Kedua, mendefinisikan agama sesuai gambarannya sendiri sehingga apa yang dikira agama sebatas konstruknya sendiri. Alhasil, memandang agama mengasingkan manusia dari realitas, tidak melihat bagaimana agama mengakrabkan kembali manusia dengan realitas.
Agama itu bersifat holistis, maka mencakup yang rasional dan supra-rasional, tetapi tidak lantas irasional karena keyakinan-keyakinan religius dapat dijelaskan dan memiliki alasan-alasan (Hardiman, 2018:16). Menyelisik sejarah, agama adalah sumber rasionalitas, jauh sebelum modernitas. Melalui agama, umat manusia tahu tentang yang benar dan salah, tentang makna eksistensi individu dan kelompok, tentang yang baik dan jahat, termasuk tentang yang indah dan sebaliknya.
Lebih daripada itu, dalam modernitas, agama turut membentuk pemahaman diri manusia modern yang rasional, otonom, serta egaliter. Agama senantiasa merupakan komponen kebudayaan yang menyingkap kenyataan Ilahi, dunia, masyarakat, dan diri manusia sehingga membentuk wawasan dunia bagi para pemeluknya (Hardiman, 2018:16–17).
Rasa rendah diri intelektual adalah alasan utama kelompok mahasiswa Muslim ini terpapar sekularisasi subjektif juga sekularisasi objektif. Sekularisasi subjektif artinya memisahkan pengalaman sehari-hari dengan pengalaman keagamaan, sementara sekularisasi objektif, menjauhkan agama dari ilmu pengetahuan.
Akibatnya, ilmu pengetahuan yang seharusnya menjadi amar makruf-nahi munkar, justru menimbulkan konflik, seperti yang pernah terjadi, advokasi perempuan disebut feminis radikal, advokasi buruh dan tani dibilang komunis, dan advokasi orang miskin dicap kekiri-kirian.
Jika kelompok mahasiswa Muslim penentang agama ini tidak kunjung berbenah, masih terpapar sekularisasi subjektif dan objektif, teperdaya pandangan hidup dominan yang akarnya sebagian besar dari Barat, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan tetap terbelakang. Faktanya, setiap duplikasi mutunya selalu lebih rendah!
Kelompok Pelanggar Syariat
Bisa dibilang kelompok mahasiswa Muslim pelanggar syariat sekilas mirip kelompok penentang agama. Hanya, yang membedakan keduanya, kelompok ini masih meyakini agama, memiliki kepedulian mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, tetapi sering kali lalai akan konskuensi logis sebagai pemeluk agama.Kelompok ini cenderung melanggar berbagai ketentuan agama, seperti ritual keseharian dan hukum-hukum lainnya. Spesifiknya, kelompok mahasiswa pelanggar syariat, terpapar satu jenis sekularisasi, sekularisasi subjektif. Kurangnya spiritualisasi, penjiwaan atas syariat, satu hal yang paling memungkinkan kelompok mahasiswa ini acapkali mengabaikan ketetapan agama. Mereka menjalankan syariat sebatas untuk menggugurkan kewajiban, tidak memahami terdapat esensi dari yang dikerjakan.
Spiritualisasi memiliki pengaruh signifikan, yaitu kesadaran penuh, setiap syariat yang dijalankan melekat dengan yang menciptakan. Kesadaran ini memungkinkan mahasiswa muslim Indonesia terbebas dari egosentrisme, agresivitas, dan syahwat yang menjadi pemicu utama kejatuhan umat manusia, seiring yang kemudian, teknologisasi dan massifikasi.
Kejatuhan itu terjadi lantaran egosentrisme merupakan mentalitas yang menggerus empati antar sesama, sedangkan agresivitas adalah tindakan yang tujuannya menyakiti atau bahkan memorak-porandakan. Demikian juga syahwat, peranannya menggerakkan penyimpangan-penyimpangan atas moral. Ketiganya ini sama, merusak mekanisme alam termasuk relasi sosial.
Melihat realitas di atas, sudah seyogianya mahasiswa Muslim Indonesia meningkatkan spiritualisasi sekaligus menjauhkan diri dari rasa rendah intelektual yang menyebabkan tersebarnya sekularisasi subjektif maupun objektif.
Melihat realitas di atas, sudah seyogianya mahasiswa Muslim Indonesia meningkatkan spiritualisasi sekaligus menjauhkan diri dari rasa rendah intelektual yang menyebabkan tersebarnya sekularisasi subjektif maupun objektif.
Dengan mengaktualisasikan keduanya, mahasiswa Muslim Indonesia akan menuai manfaat: tidak lagi insecure mengakui diri seorang muslim, melting pot, apalagi teperdaya pandangan atau model hidup dominan. Mahasiswa Muslim Indonesia dapat konsekuen mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan ilmu agama; tidak sekadar mendahulukan ilmu pengetahuan sebagai syarat teraihnya kemajuan, melainkan juga ilmu agama yang menjamin kebahagiaan hidup.
Oleh: Syamil Basyayif, Seorang Penyair asal Pamekasan, Madura
Oleh: Syamil Basyayif, Seorang Penyair asal Pamekasan, Madura



Posting Komentar