Dalam beberapa kasus yang saya amati, muncul stigma bahwa laki-laki yang tidak menyentuh urusan dapur adalah sosok yang malas. Padahal, dalam berbagai kegiatan sosial dan adat, laki-laki justru menjadi motor penggerak utama dalam pekerjaan-pekerjaan berat. Hal ini menegaskan bahwa ketidakhadiran mereka di area domestik bukanlah bentuk kemalasan, melainkan cara mereka menjaga harga diri dan marwahnya sebagai seorang pemimpin.
Dalam tatanan ini, terdapat pemisahan peran yang bersifat sakral. Laki-laki diposisikan sebagai Qawwam—pemimpin yang memikul tanggung jawab penuh atas tegaknya keluarga. Secara hukum, kewajiban menyediakan nafkah dan menjamin ketersediaan pangan berada sepenuhnya di pundak suami.
Sebaliknya, aktivitas memasak dan mengelola rumah tangga adalah bentuk Ihsan atau kemuliaan kasih sayang dari seorang istri. Ketika dua peran ini bertemu suami yang mencukupi kebutuhan dan istri yang mengolahnya dengan ketulusan di sanalah tercipta harmoni yang agung.
Poin mendasar yang perlu dipahami adalah bahwa derajat laki-laki yang lebih tinggi dalam hal kepemimpinan ini bukan untuk bertindak sewenang-wenang. Justru, posisi "paling depan" itu menuntut pengorbanan yang lebih besar.
Poin mendasar yang perlu dipahami adalah bahwa derajat laki-laki yang lebih tinggi dalam hal kepemimpinan ini bukan untuk bertindak sewenang-wenang. Justru, posisi "paling depan" itu menuntut pengorbanan yang lebih besar.
Seorang laki-laki yang memahami wibawanya sebagai pemimpin akan sangat menghargai kasih sayang istrinya. Ia tentu bisa membantu urusan rumah tangga, namun hal itu dilakukan atas dasar kesadaran dan kepekaan, bukan karena perintah.
Sebab, dalam tatanan kepemimpinan yang ideal, perintah adalah instrumen organisasi. Seorang laki-laki akan menjalankan perannya secara maksimal saat ia merasa wibawanya dihormati sebagai pemimpin, bukan diposisikan sebagai pelaksana perintah domestik. Saat seorang istri memberikan ruang bagi suaminya untuk memimpin dengan hormat, ia sebenarnya sedang memperkokoh fondasi perlindungannya sendiri.
Pada akhirnya, patriarki dalam konteks ini adalah tentang kejelasan tanggung jawab. Laki-laki yang dianggap patriarki sering kali adalah sosok yang paling mampu bertanggung jawab sepenuhnya, baik lahir maupun batin. Mereka mungkin tidak selalu berada di dapur, tetapi seluruh tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk memastikan bahwa kehormatan dan kebutuhan keluarganya tetap terjaga dengan mulia.
Namun, perlu ditekankan bahwa konsep patriarki yang saya maksud di sini bukanlah 'cek kosong' bagi laki-laki untuk bersantai atau menjadi malas. Jika seorang laki-laki menuntut untuk ditinggikan dan dilayani layaknya raja, namun ia lalai dalam mencari nafkah atau enggan memikul beban tanggung jawab keluarga, maka ia telah mengkhianati esensi kepemimpinannya sendiri.
Patriarki yang tidak dibarengi dengan etos kerja dan tanggung jawab penuh bukanlah sebuah kepemimpinan, melainkan egoisme yang merusak tatanan. Kepemimpinan laki-laki hanya akan menjadi bijaksana dan berwibawa jika ia membuktikannya melalui keringat dan pengabdian total bagi mereka yang ia lindungi.
Sebab, dalam tatanan kepemimpinan yang ideal, perintah adalah instrumen organisasi. Seorang laki-laki akan menjalankan perannya secara maksimal saat ia merasa wibawanya dihormati sebagai pemimpin, bukan diposisikan sebagai pelaksana perintah domestik. Saat seorang istri memberikan ruang bagi suaminya untuk memimpin dengan hormat, ia sebenarnya sedang memperkokoh fondasi perlindungannya sendiri.
Pada akhirnya, patriarki dalam konteks ini adalah tentang kejelasan tanggung jawab. Laki-laki yang dianggap patriarki sering kali adalah sosok yang paling mampu bertanggung jawab sepenuhnya, baik lahir maupun batin. Mereka mungkin tidak selalu berada di dapur, tetapi seluruh tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk memastikan bahwa kehormatan dan kebutuhan keluarganya tetap terjaga dengan mulia.
Namun, perlu ditekankan bahwa konsep patriarki yang saya maksud di sini bukanlah 'cek kosong' bagi laki-laki untuk bersantai atau menjadi malas. Jika seorang laki-laki menuntut untuk ditinggikan dan dilayani layaknya raja, namun ia lalai dalam mencari nafkah atau enggan memikul beban tanggung jawab keluarga, maka ia telah mengkhianati esensi kepemimpinannya sendiri.
Patriarki yang tidak dibarengi dengan etos kerja dan tanggung jawab penuh bukanlah sebuah kepemimpinan, melainkan egoisme yang merusak tatanan. Kepemimpinan laki-laki hanya akan menjadi bijaksana dan berwibawa jika ia membuktikannya melalui keringat dan pengabdian total bagi mereka yang ia lindungi.
Oleh: Sahnan Siregar



Posting Komentar