BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Averroes Berqurban dan Spirit Dzikir, Fikir, Amal Shaleh Kader PMII

Penalaut.com – Momentum Idul Adha 1447 H yang diagendakan berlangsung pada 28 Mei 2026 di Desa Leprak, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso, menjadi ruang pengabdian sekaligus pembelajaran bagi kader PMII Rayon Averroes. Dalam kegiatan tersebut, PMII Rayon Averroes bekerja sama dengan Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) melaksanakan penyembelihan hewan kurban setelah salat Idul Adha. YDSF sendiri merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) yang bergerak dalam penghimpunan dan penyaluran dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF).

Dalam momentum kurban 1447 Hijriah ini, PMII Rayon Averroes turut berpartisipasi dengan menyumbangkan satu ekor kambing untuk disalurkan kepada masyarakat. 
Partisipasi tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian sosial sekaligus implementasi nilai pengabdian yang selama ini dibangun dalam proses pengkaderan organisasi.

Di tengah pelaksanaan kegiatan tersebut, muncul pertanyaan sederhana: mengapa kader PMII perlu ikut terlibat dalam proses penyembelihan hewan kurban, padahal sudah ada panitia yang bertanggung jawab dari lembaga terkait?

Jawabannya terletak pada makna proses kaderisasi itu sendiri. Dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), proses pembentukan kader tidak hanya berlangsung dalam forum formal seperti MAPABA, PKD, atau PKL. Proses Kaderisasi juga hadir melalui aktivitas sosial, pengabdian masyarakat, dan keterlibatan langsung dalam kehidupan umat. Partisipasi dalam kegiatan kurban merupakan bagian dari pengkaderan informal yang sarat nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Kegiatan tersebut bukan semata tentang siapa yang paling banyak memberi, melainkan bagaimana kader belajar menumbuhkan keikhlasan dalam bermasyarakat. Dari proses itulah simpati dan empati diasah. Kader dibiasakan untuk hadir di tengah masyarakat, membantu tanpa pamrih, serta belajar memaknai pengabdian sebagai bentuk implementasi nilai-nilai organisasi.

Spirit kurban sendiri tidak dapat dilepaskan dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah Allah melalui mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail menerima perintah itu dengan penuh kepasrahan sebagaimana termaktub dalam QS. As-Saffat ayat 102: “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Pada saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah tersebut, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai bukti bahwa keduanya telah lulus dalam ujian ketaatan dan keikhlasan.

Dari kisah tersebut, terdapat pelajaran besar yang relevan bagi kader PMII. Kurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan, tetapi simbol pengorbanan hawa nafsu, egoisme, ketamakan, dan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia. Nilai ini sejalan dengan spirit “Dzikir, Fikir, Amal Shaleh” yang menjadi napas gerakan PMII.

Dzikir mengajarkan kader untuk selalu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas pengabdian. Fikir menuntun kader agar mampu memahami realitas sosial dengan kesadaran intelektual dan kemanusiaan. Sedangkan Amal Shaleh menjadi wujud nyata dari nilai dzikir dan fikir melalui tindakan yang bermanfaat bagi sesama.

Selain itu, kader PMII juga perlu menyadari bahwa kehidupan organisasi hanyalah salah satu fase dalam perjalanan hidup. Pada akhirnya, setiap kader akan kembali ke tengah masyarakat, menjalani kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan mengemban tanggung jawab sosial lainnya. Karena itu, keterlibatan dalam kegiatan seperti penyembelihan hewan kurban menjadi sarana pembelajaran untuk memahami arti pengabdian dan kepedulian sosial secara nyata.
Pengkaderan informal semacam ini menjadi penting karena membiasakan kader untuk tidak hanya aktif dalam ruang diskusi, tetapi juga hadir dalam kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, nilai-nilai yang diperoleh dalam pengkaderan formal maupun nonformal dapat benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW: “Khairunnas anfa‘uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Melalui partisipasi dalam kegiatan kurban, kader PMII belajar menjadi manusia yang tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri, melainkan juga berusaha memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Sebab sejatinya, pengabdian yang paling bermakna adalah ketika keberadaan kita mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Oleh: Alfandy Dzulqornain (Pengurus PMII Rayon Averroes Masa Jihad 2025/2026)
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak