Mengusung tema “I’maluu Fauqa Maa Amilu”, kegiatan yang berlangsung pada 21–25 Mei 2026 itu menghadirkan berbagai materi ideologis, akademik, hingga gerakan sosial. Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah Critical Thinking yang disampaikan Abduh pada Jumat (23/5/2026).
Dalam penyampaiannya, mantan Ketua Komisariat RBA IAI At-Taqwa Bondowoso sekaligus pengurus Ijen Cendikia Nusantara itu menegaskan bahwa berpikir kritis memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Yang berarti:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu, hendaklah ia mengingkarinya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”
Menurut Abduh, hadis tersebut tidak hanya berbicara soal amar ma’ruf nahi munkar, tetapi juga menjadi spirit lahirnya sikap kritis dalam membaca realitas sosial.
“Berpikir kritis adalah menolak kepercayaan yang bersifat mitologis dengan pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Mahasiswa harus mampu berpikir logis, ilmiah, dan berbasis data,” ujarnya di hadapan peserta PKD.
Ia menegaskan, mahasiswa aktivis tidak boleh hanya berhenti pada diskusi teoritis, tetapi harus mampu mengawal kebijakan kampus maupun kebijakan pemerintahan dengan pendekatan analitis dan argumentasi yang kuat.
Menurutnya, kritik yang dibangun mahasiswa harus lahir dari riset, pengumpulan data, serta fakta sosial yang benar-benar terjadi di lapangan.
“Kalau ada persoalan, maka mahasiswa harus hadir membawa data dan solusi, bukan hanya emosi. Itulah pentingnya critical thinking dalam gerakan aktivisme,” katanya.
Selain itu, Abduh juga mengajak para peserta PKD untuk terus menghidupkan semangat perjuangan PMII dalam ranah advokasi sosial dan aksi pergerakan.
Ia menilai kader PMII harus tetap menjadi bagian dari kekuatan moral dan intelektual yang berpihak kepada masyarakat serta berani menyuarakan ketidakadilan.
Materi tersebut berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta tampak antusias berdiskusi mengenai peran mahasiswa, budaya literasi, hingga tantangan gerakan aktivisme di tengah perkembangan era digital dan arus informasi yang semakin kompleks.
PKD Ke-XII PMII RBA IAI At-Taqwa Bondowoso sendiri menjadi bagian dari kaderisasi formal pasca MAPABA yang diikuti kader internal maupun eksternal PMII dengan rangkaian materi ideologi, keislaman, sosial, hingga simulasi aksi demonstrasi.
Yang berarti:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu, hendaklah ia mengingkarinya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”
Menurut Abduh, hadis tersebut tidak hanya berbicara soal amar ma’ruf nahi munkar, tetapi juga menjadi spirit lahirnya sikap kritis dalam membaca realitas sosial.
“Berpikir kritis adalah menolak kepercayaan yang bersifat mitologis dengan pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Mahasiswa harus mampu berpikir logis, ilmiah, dan berbasis data,” ujarnya di hadapan peserta PKD.
Ia menegaskan, mahasiswa aktivis tidak boleh hanya berhenti pada diskusi teoritis, tetapi harus mampu mengawal kebijakan kampus maupun kebijakan pemerintahan dengan pendekatan analitis dan argumentasi yang kuat.
Menurutnya, kritik yang dibangun mahasiswa harus lahir dari riset, pengumpulan data, serta fakta sosial yang benar-benar terjadi di lapangan.
“Kalau ada persoalan, maka mahasiswa harus hadir membawa data dan solusi, bukan hanya emosi. Itulah pentingnya critical thinking dalam gerakan aktivisme,” katanya.
Selain itu, Abduh juga mengajak para peserta PKD untuk terus menghidupkan semangat perjuangan PMII dalam ranah advokasi sosial dan aksi pergerakan.
Ia menilai kader PMII harus tetap menjadi bagian dari kekuatan moral dan intelektual yang berpihak kepada masyarakat serta berani menyuarakan ketidakadilan.
Materi tersebut berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta tampak antusias berdiskusi mengenai peran mahasiswa, budaya literasi, hingga tantangan gerakan aktivisme di tengah perkembangan era digital dan arus informasi yang semakin kompleks.
PKD Ke-XII PMII RBA IAI At-Taqwa Bondowoso sendiri menjadi bagian dari kaderisasi formal pasca MAPABA yang diikuti kader internal maupun eksternal PMII dengan rangkaian materi ideologi, keislaman, sosial, hingga simulasi aksi demonstrasi.



1 komentar