Mengagumkannya lagi, ia menyediakan fondasi, mengubah cara generasi setelahnya, menjadi pangkal tolak kreativitas penyair yang kemudian, dalam membaca dan menulis puisi. Melalui Chairil, generasi mendatang dapat mengerti apa-apa yang belum dikerjakan puisi Indonesia. Ia menginspirasi, penyair yang unggul memiliki fascination with the difficult, menempuh kesulitan demi dua tujuan sekaligus, menguji kemahiran atau kegandrungan akan bahasa dan memperkaya cara pandang terhadap dunia (Anwar, 2022:xxiv).
Kepribadian Chairil yang terkenal bohemian menjadikannya penyair yang melambangkan ciri kesenimanan, tidak punya pekerjaan tetap, tidak berminat mengurus jasmani, suka keluyuran, selalu kekurangan uang, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. Dari sekian seniman, sastrawan, pelukis, dan komponis, seperti Ismail Marzuki, Affandi, dan Soedjojono, yang juga menjalankan kehidupan bohemian, ia yang dianggap paling mewakili mereka (Damono, 1999:39).
Alasannya, terkait kematiannya, Chairil meninggal pada usia muda (1922-1949), mendahului teman-teman sesama seniman. Beberapa macam penyakit yang dideritanya (paru-paru, infeksi darah kotor dan usus) dipandang sebagai akibat dari kehidupan bohemian yang ia jalankan, tidak teratur dan tidak mau terikat norma yang menurutnya hanya akan merenggut kebebasan individu.
Meski menjalankan kehidupan bohemian serta diklaim selalu mengejek nilai-nilai moral dan agama, Chairil sangat memuliakan Tuhan (Sutjianingsih, 2009:11). Di titik ini, ia tidak ateis, ia memiliki kesadaran spiritual yang cukup tinggi, satu hal yang jarang dibahas para pemerhati penyair berjuluk “Si Binatang Jalang” ini. Ia berbeda dari Sartre yang berpandangan, Tuhan walaupun barangkali ada, tiada pengaruhnya atas hidup manusia di dunia (Pradopo, 2017:183).
Kesadaran spiritual di atas, selain kaitannya dengan pencarian makna hidup secara universal melampaui batasan institusi formal, juga terkait entitas pengenalan akan Tuhan yang ada dalam diri setiap manusia. Hal ini tergambar jelas pada puisinya, “Doa”. Melalui puisi ini, Chairil menekankan, kekacauan, termasuk kebingungan manusia lantaran kurangnya kedekatan dengan Tuhan, kedekatan antara yang diciptakan dan yang menciptakan.
Tidak mengherankan, puisi “Doa” diawali ketermanguan, “Tuhanku, dalam termangu, aku masih menyebut namaMu”. Hal demikian demi menciptakan efek dramatis: bahwa dalam keadaan termangu, ragu-ragu, antara percaya atau tidak sekalipun, doa sebagai manifestasi dari memuji, mengagungkan nama Tuhan, dan mengadukan nasib kepada-Nya, layak senantiasa dipanjatkan.
Bahkan keadaan sesukar apa pun dalam mengingat, menghadap Tuhan, tidak lantas menjadi alasan memalingkan diri dari kemahaesaan-Nya yang penuh seluruh, “biar susah sungguh, mengingat Kau penuh seluruh”.
Adalah terdapat konsekuensi bagi seseorang yang meninggalkan Tuhan, “cayaMu panas suci, tinggal kerdip lilin di kelam sunyi, meredupnya cahaya Tuhan yang menghangatkan, cahaya yang menerangi kegelapan hati manusia”.
Cahaya Tuhan merupakan penerang, petunjuk, tumpuan mengadukan kemalangan, sehingga jika tidak mendapat semua itu seseorang akan menjalankan kehidupan sarat kesengsaraan, “Tuhanku, aku hilang bentuk, remuk,” tak mampu berbuat apa-apa, bahkan tidak merasa hidup lagi. Penderitaannya tidak terperikan karena hebatnya, sampai ke puncak kesakitan.
“Tuhanku, aku mengembara di negeri asing” adalah kelanjutan dampak negatif seseorang yang mengingkari Tuhan, kebingungan, tidak tahu arah, sendirian, tak ada yang hendak menolong, dan satu-satunya penolong hanya Tuhan,“Tuhanku, di pintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling”.
Pada momen ini, seseorang yang mengetuk pintu rumah Tuhan, menghadap kepada-Nya dengan berdoa, sembahyang, atau zikir tidak bisa berpaling kembali, tidak dapat meninggalkan kelimpahan anugerah dan kasih sayang Tuhan. Hidup yang awalnya menderita menjadi bahagia.
Penyebutan kata “Tuhanku” secara berulang, empat kali, sesuai dengan sifat puisi di atas sebagai doa. Ketika memanjatkan doa, seseorang umumnya akan menyebut nama Tuhan berkali-kali (Pradopo, 2017:187).
Demikian situasi Chairil, ia yang terlahir di tengah-tengah keluarga Minangkabau yang konservatif dan sangat taat kepada Islam, tidak serta-merta meninggalkan yang telah memengaruhi perkembangan jiwanya sejak usia kanak-kanak. Terbukti saat ia sedang sakit keras, sering kali menyeru nama Tuhan (Sutjianingsih, 2009:11).
Ini juga kemudian membuktikan, ia tidak sama dengan penyair lain yang ateis, atau sekurangnya agnostik, seperti Bertolt Brecht, Pier Paolo Pasolini, dan Charles Bukowski. Kehidupan bohemian yang ia jalankan, penolakannya atas tatanan konvensional, tidak membuatnya menafikan Tuhan. Justru caranya yang tersendiri itu adalah penghambaannya terhadap Tuhan, tidak pada manusia dan lain-lain!
Oleh: Syamil Basyayif, Pemelajar Sastra asal Madura



Posting Komentar