BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Persimpangan Jalan

Penalaut.com
- Dewasa ini, kita ditodong dengan realita—realita bahwa, setiap detik, hidup terus berjalan. Tidak akan kembali. Setiap apa yang kita lakukan, menjadi monumen abadi untuk diri kita sendiri, entah negatif atau positif. Keduanya beriringan menjadi jurnal hidup yang apabila ditulis, jutaan lembar Houtvrij Schrijfpapier (HVS) akan raib.

Setiap individu yang bernyawa, tentunya memiliki tujuan untuk masa depan. Tidak sedikit dari mereka menjawab “menjadi kaya” meski sekadar retorika tanpa usaha.

Dalam proses menuju kedewasaan, tidak jarang, Tuhan mempertemukan kita dengan berbagai persimpangan jalan, sehingga, keraguan menyelimuti kita.

Banyak orang memilih untuk berhenti di tengah persimpangan. Hilang arah. Padahal, apabila kita telusuri, bisa saja di depan persimpangan, terdapat warung kopi aesthetic yang menawarkan makanan gratis (bukan program MBG). Bisa pula, toko buku yang sedang membagikan bukunya, dengan harapan, masyarakat semakin melek literasi.

Tapi maksud saya di sini, bukan tentang warung kopi atau toko buku, melainkan tentang usaha yang berujung pada rezeki. Ingat: “usaha”.
Dalam menghadapi pilihan, tidak sedikit orang-orang terjebak pada ketakutannya sendiri.  
Dalam menghadapi pilihan, tidak sedikit orang-orang terjebak pada ketakutannya sendiri. Stagnasi ini menjadi batasan mereka untuk mendapat peluang. Salah satu filsuf Yunani Kuno, Heraklitus, menyatakan bahwa “satu-satunya hal yang konstan adalah perubahan”.

Kalimat itu bisa dimaknai: bahwa setiap manusia diharapkan mampu beradaptasi dan terbuka dalam menerima perubahan. Ini menarik. Saya kira, untuk menerima perubahan itu juga menjadi tantangan tersendiri bagi saya.
Begitulah hidup, di samping membuat kita belajar tentang makna keberanian, hidup juga mengajarkan kita tentang bagaimana kita bisa rela.
Begitulah hidup, di samping membuat kita belajar tentang makna keberanian, hidup juga mengajarkan kita tentang bagaimana kita bisa rela; rela meninggalkan zona nyaman, untuk beralih ke zona yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Saya berharap, entah persimpangan mana yang akan kita temui, yang pasti, mari berkompromi dengan diri untuk tidak berhenti.

Yogyakarta, Mei 2025

Oleh: Devy Agustin Afkarina
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak