BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Musafir yang Belajar Ikhlas

Menyembelih Rasa

Jika diri tak mampu membeli kambing
Sapi kecilpun tidak juga
Jangan merasa kecil hati
Barang-barang itu mahal
Bisa dicari setiap saat bila mampu
Tapi, ego yang kita pelihara lebih mahal harganya

Sembelilah congkak itu
Leherkan rasa paling aku
Yang haus didepan muka
Menatap sekitar kecil mungil tak seperti diriku

Darah Yang Tak Mengalir

Qurban tak selamanya mengeluarkan darah
Baunya anyir
Diam-diam ia hidup
Didada yang tak pernah Ikhlas

Saat amarah ditahan
Lidah gagal mencaci
Hati memilih diam
Padahal banyak balasan yang ingin dilemparkan

Inilah sembelih paling sulit
Pisau ditukar pakai uang
Tapi, hati yang lembut
Perlu ditempa berkali-kali
Layaknya spesies diberi hati
Jangan dibalas air tuba

Di Depan Cermin

Aku berdiri didepannya
Melihat tampang compang-camping
Doaku masih tak karuan
Ibadahku naik turun layaknya harga bawang

Ilmu tak membuatku mulia
Ia hanya memberikan cara berbicara tepat
Dalam benakku banyak bicara bukan pertanda paham
Tanpa diiringi literasi panjang

Hari ini aku belajar
Kemenangan tidak harus diumumkan
Tidak semua pengetahuan harus dipamerkan
Tuhan tidak perlu dibela
Dia hanya mencari hati mana yang masih merasa iba pada sesama

Kurban Paling Sunyi

Apa kurban paling besar?
Barangkali yang paling besar menghapus diri
Dari noda yang masih melekat

Dirinya yang congkak
Mekar telinga tatkala dipuji
Yang haus paling tahu

Lalu ia melangkah pelan
Menjadi manusia biasa
Tak ingin ditepuk tangani
Sibuk menilai diri sendiri

Hakikat sejati bukan darah
Bukan pula daging yang menjadi pengantar
Melainkan hati yang tulus memberi
Kita merasa ingin besar
Padahal kita hanya setitik debu dibanding kebesaran-Nya

Numpang Singgah

Hari demi hari kita habiskan
Untuk menumpuk nama dan pujian
Sementara nafas terus berhitung mundur

Kita sering lupa
Dunia hanya tempat singgah
Musaffir yang numpang makan dan minum
Lalu berjalan menuju tempat tujuan
Pemuda menunggu tuanya
Sehat menunggu sakitnya
Dan yang hidup perlahan menuju tanah

Sebelum fajar benar-benar habis
Bercintalah secukupnya
Karena yang kita peluk tak selamanya menemani
Yang paling berharga bukan seberapa lama hidupmu
Namun seberapa lama kamu mencari bekal untuk pulang


Karya: Muhammad Taofik
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak