Menyembelih Rasa
Jika diri tak mampu membeli kambing
Sapi kecilpun tidak juga
Jangan merasa kecil hati
Barang-barang itu mahal
Bisa dicari setiap saat bila mampu
Tapi, ego yang kita pelihara lebih mahal harganya
Sembelilah congkak itu
Leherkan rasa paling aku
Yang haus didepan muka
Menatap sekitar kecil mungil tak seperti diriku
Darah Yang Tak Mengalir
Qurban tak selamanya mengeluarkan darah
Baunya anyir
Diam-diam ia hidup
Didada yang tak pernah Ikhlas
Saat amarah ditahan
Lidah gagal mencaci
Hati memilih diam
Padahal banyak balasan yang ingin dilemparkan
Inilah sembelih paling sulit
Pisau ditukar pakai uang
Tapi, hati yang lembut
Perlu ditempa berkali-kali
Layaknya spesies diberi hati
Jangan dibalas air tuba
Di Depan Cermin
Aku berdiri didepannya
Melihat tampang compang-camping
Doaku masih tak karuan
Ibadahku naik turun layaknya harga bawang
Ilmu tak membuatku mulia
Ia hanya memberikan cara berbicara tepat
Dalam benakku banyak bicara bukan pertanda paham
Tanpa diiringi literasi panjang
Hari ini aku belajar
Kemenangan tidak harus diumumkan
Tidak semua pengetahuan harus dipamerkan
Tuhan tidak perlu dibela
Dia hanya mencari hati mana yang masih merasa iba pada sesama
Kurban Paling Sunyi
Apa kurban paling besar?
Barangkali yang paling besar menghapus diri
Dari noda yang masih melekat
Dirinya yang congkak
Mekar telinga tatkala dipuji
Yang haus paling tahu
Lalu ia melangkah pelan
Menjadi manusia biasa
Tak ingin ditepuk tangani
Sibuk menilai diri sendiri
Hakikat sejati bukan darah
Bukan pula daging yang menjadi pengantar
Melainkan hati yang tulus memberi
Kita merasa ingin besar
Padahal kita hanya setitik debu dibanding kebesaran-Nya
Numpang Singgah
Hari demi hari kita habiskan
Untuk menumpuk nama dan pujian
Sementara nafas terus berhitung mundur
Kita sering lupa
Dunia hanya tempat singgah
Musaffir yang numpang makan dan minum
Lalu berjalan menuju tempat tujuan
Pemuda menunggu tuanya
Sehat menunggu sakitnya
Dan yang hidup perlahan menuju tanah
Sebelum fajar benar-benar habis
Bercintalah secukupnya
Karena yang kita peluk tak selamanya menemani
Yang paling berharga bukan seberapa lama hidupmu
Namun seberapa lama kamu mencari bekal untuk pulang
Karya: Muhammad Taofik



Posting Komentar