BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

PB PMII Nilai Kenaikan Pertamax Konsekuensi Mekanisme Pasar

Penalaut.com
– (Jakarta) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menyampaikan sikap resminya menanggapi penyesuaian harga BBM non subsidi Pertamax dan Pertamax Green 95 yang berlaku mulai 10 Juni 2026.

Dalam keterangan yang disampaikan di Jakarta, Kamis (11/6/2026), PB PMII menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, serta Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar.

"Kenaikan ini didasarkan pada evaluasi berkala terhadap perkembangan harga minyak dunia dan formula harga keekonomian yang ditetapkan pemerintah. Sebagai komoditas non subsidi, ini adalah hal biasa dalam tata kelola energi yang transparan," demikian pernyataan Wasekjend PB PMII Bidang ESDM Adryan Nur Alam.

PB PMII melihat komitmen Pertamina Patra Niaga dan pemerintah yang mempertahankan harga Pertalite di Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

"Ini bukti nyata bahwa negara hadir untuk menjaga daya beli masyarakat kecil, sektor transportasi publik, dan pelaku usaha mikro. Semua baik-baik saja bagi kebutuhan energi pokok rakyat," tegas organisasi mahasiswa tersebut.

PB PMII menilai momen ini penting sebagai edukasi publik bahwa konsumen Pertamax series adalah kelompok masyarakat yang secara ekonomi lebih mampu. Kenaikan harga bagi mereka dinilai sebagai konsekuensi logis dari pilihan menggunakan bahan bakar berkualitas lebih tinggi (RON 92 & 95).

Rakyat luas diimbau tetap menggunakan BBM sesuai kebutuhan dan kemampuan, serta tidak terprovokasi isu kelangkaan atau kepanikan yang tidak berdasar.

Meski kondisi dinilai terkendali, PB PMII mendorong Pertamina Patra Niaga dan pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan Pertalite dan Biosolar di seluruh SPBU, serta mencegah potensi penimbunan atau permainan harga di tingkat pengecer.

Masyarakat juga diminta aktif melaporkan jika menemukan kejanggalan.

"PB PMII mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap tenang, rasional, dan tidak mudah terhasut isu yang mengganggu stabilitas ekonomi. Negara hadir melindungi rakyat, dan kenaikan BBM non subsidi bukanlah masalah bagi kebanyakan masyarakat Indonesia," tutup pernyataan tersebut.
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak