BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Tentang Pikiran yang Sibuk dan Hati yang Ingin Pulang

Penalaut.com
– Akhir-akhir ini saya sering menyadari satu hal: ternyata yang bisa lelah bukan hanya tubuh, tetapi pikiran dan hati juga bisa lelah.

Setiap hari hidup ini terasa berjalan sangat cepat. Baru bangun pagi, tangan sudah otomatis membuka ponsel. Melihat notifikasi, membalas pesan, membuka media sosial, melihat jadwal kuliah, memikirkan deadline tugas, pekerjaan, target hidup, dan banyak hal lain yang seolah tidak ada habisnya. Terkadang hari belum benar-benar dimulai, tetapi kepala sudah terasa penuh terlebih dahulu seakan seisi dunia masuk di dalam kepala yang sekecil ini.

Mungkin, menurut saya, banyak orang yang juga mengalami hal serupa. Kita menjalani rutinitas seperti biasa, tertawa bersama teman atau pasangan hidup, pergi ke kampus, berangkat kerja, tetapi diam-diam terasa kosong. Ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Bukan karena aktivitas fisik semata, melainkan karena pikiran yang terlalu ramai dan hati yang terlalu lama dipaksa kuat menahan semuanya.

Rutinitas dan Pikiran yang Tidak Pernah Diam

Di era sekarang, manusia hidup dalam waktu yang sangat cepat. Seolah setiap hari kita dituntut untuk terus bergerak dan produktif. Bangun pagi, menjalani aktivitas, menyelesaikan pekerjaan rumah, kuliah dan kerja, lalu mengulang semuanya lagi.

Rutinitas yang terus berulang tanpa jeda seringkali membuat pikiran tidak pernah benar-benar istirahat. Bahkan sebelum tidur, kepala masih dipenuhi banyak hal. Memikirkan masa depan, kekhawatiran hidup, bahkan rasa takut tertinggal. Tanpa disadari, keadaan seperti ini membuat manusia mudah mengalami kelelahan mental. Tubuh mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya hati yang sedang penuh.

Pengaruh Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

Di zaman modern seperti sekarang, manusia memang hidup di tengah kebisingan. Media sosial yang membuat kita terus membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Melihat pencapaian orang lain yang tampak sempurna: pencapaian, kebahagiaan, karier, hingga hubungan mereka.

Padahal apa yang terlihat di media sosial belum tentu sepenuhnya nyata. Namun karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain, tanpa sadar membuat kita merasa tertinggal.
 
Akibatnya, kita mudah merasa cemas, overthinking, kehilangan rasa syukur terhadap apa yang sudah dimiliki, dan sulit untuk merasa cukup terhadap diri sendiri.

Perspektif Psikologi Islam tentang Hati dan Jiwa

Dalam Psikologi Islam diajarkan bahwa, manusia bukan hanya mahluk yang memiliki tubuh dan akal, tetapi juga memiliki hati dan ruh. Ketika tubuh dipaksa terus bergerak tanpa memberi ruang atau kesempatan bagi hati untuk istirahat, maka yang muncul bukanlah hanya kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan batin dan mental.

Islam sendiri sebenarnya telah lama mengajarkan pentingnya menjaga ketenangan jiwa.

Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Alaa bidzikrillah tathama’innul quluub, Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ayat ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang mencari ketenangan dengan berbagai cara, mulai dari hiburan, liburan, hingga pelarian sesaat. Namun seringkali setelah semuanya selesai, hati kembali terasa kosong.
Mungkin karena yang lelah bukanlah sekedar pikiran, tetapi juga jiwa yang terlalu jauh dari tempat pulang.

Dalam prespektif Psikologi Islam, hati adaalah pusat ketenangan manusia, Ketika hati kehilangan arah spiritual, manusia akan lebih mudah merasa cemas atau gelisah meskipun secara badaniah terlihat baik-baik saja. Itulah sebabnya ada orang yang terlihat baik-baik saja, memiliki segalanya, tetap merasa tidak tenang. Sebaliknya, ada orang yang hidup dengan sederhana justru terlihat lebih damai.

Refleksi Diri di Tengah Kesibukan

Saya pernah berada di titik merasa sangat lelah tanpa tahu penyebabnya. Tidur cukup, aktivitas berjalan normal, tetapi hati tetap terasa berat. Sampai akhirnya saya sadar bahwa selama ini saya terlalu sibuk mengejar banyak hal di luar diri, tetapi lupa memberi ruang untuk diri sendiri bernafas.

Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri. Merasa harus selalu produktif, harus selalu kuat, dan harus selalu terlihat baik-baik saja. Padahal manusia juga butuh jeda. Bukan jeda untuk menyerah, tetapi jeda untuk kembali mengenal dirinya sendiri.

Psikologi Islam mengajarkan bahwa ketenaangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah ketika hati tetap mampu merasa dekat dengan Tuhan meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Mungkin itu sebabnya setelah salat, setelah berdoa lebih lama dari biasanya, atau setelah menangis diam-diam kepada Tuhan, hati terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalah langsung selesai, tetapi karena ada tempat untuk pulang. Pada akhirnya, manusia memang membutuhkan istirahat. Bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk pikiran dan hatinya.

Belajar Memberi Ruang untuk Hati

Di Tengah dunia yang semakin bising, mungkin kita perlu belajar berhenti sejenak. Mengurangi kebisingan, memberi ruang untuk diri sendiri, dan kembali mendekat kepada Tuhan. Kadang ketenangan hadir dari hal-hal sederhana: salat yang lebih khusyuk, doa lebih lama, atau berbicara jujur kepada diri sendiri tentang apa yang dirasakan.

Psikologi Islam mengajarkan bahwa, manusia membutuhkan keseimbangan antara dunia dan batin. Ketika keduanya berjalan seimbang, hati akan terasa lebih ringan dalam menjalani hidup.

Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan istirahat untuk tubuhnya, tetapi juga untuk pikiran, batin dan hatinya. Di tengah dunia yang semakin sibuk, mungkin kita perlu belajar berhenti sejenak untuk mendengar diri sendiri. Sebab tidak semua lelah bisa hilang dengan tidur. Ada hati yang diam-diam ingin pulang.


Oleh: M. Defa Nur Brian, Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
1 komentar

1 komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak
  • Anonim
    Anonim
    3 Juni 2026 pukul 14.36
    Masyaallah
    Reply