BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Film “Aku Sebelum Aku” Itu Wajib Ditonton Orang Tua hingga Pelaku Pendidikan

Penalaut.com – Kadang, musibah terbesar yang menimpa seorang anak justru diciptakan oleh orang tua mereka sendiri. Sejak kecil, anaknya tidak pernah benar-benar ditanya ingin menjadi apa. Ia hanya diberi tahu harus menjadi siapa.

Tidak sedikit orang tua di sekitar kita yang memperlakukan anak bukan sebagai manusia. Anak dianggap laiknya akun Instagram bisnis yang wajib punya tampilan postingan rapi, pajangan prestasi, dan siap dipamerkan di arisan RT demi menaikkan gengsi. Kalau anaknya juara, orang tua yang menepuk dada paling kencang di depan tetangga. Tapi kalau anaknya kelelahan, anak itu pula yang harus menanggung kesengsaraan.

Bentuk penindasan semacam inilah yang dipertontonkan oleh Gina S. Noer (sutradara) lewat film Aku Sebelum Aku.

Film ini bercerita tentang Jati (Bima Sena), seorang remaja yang mungkin merupakan impian semua orang tua. Meski tidak hafal 30 Juz Al-Qur'an, tapi Jati pintar, langganan juara kompetisi sains, dan selalu menjadi kebanggaan sekolah. Tapi, di balik pajangan piala yang mentereng di lemari kaca rumahnya itu, Jati menanggung beban ekspektasi raksasa dari ayahnya, Pak Jaya (Ringgo Agus Rahman). Bahkan, saking beratnya beban itu, Jati sampai mengalami panic attack.

Tekanan tersebut perlahan membawa Jati pada kondisi yang tak sederhana. Saat ia membuat proyek sekolah tentang sejarah keluarga, perjalanan itu kemudian membuka kembali berbagai luka dan rahasia masa lalu orang tuanya. Bersama temannya, Asa, Jati berusaha memahami siapa sebenarnya orang tua mereka sebelum menjadi ayah dan ibu.

Kisah Jati barangkali memang merupakan cerita fiksi. Tapi, persoalan yang dihadapinya sudah barang tentu ada dalam kehidupan nyata. Masih banyak anak yang tumbuh di bawah bayangan tuntutan untuk selalu berprestasi. Mereka didorong untuk menjadi juara, dibebani harapan untuk selalu unggul, dan perlahan dibuat percaya bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh seberapa banyak pencapaian yang berhasil diraihnya.

Berjibun Piala Tak Menjamin Anak Bisa Bahagia

Bagi Pak Jaya, membelikan fasilitas terbaik dan menuntut anak untuk selalu menjadi nomor satu adalah bentuk dari kasih sayang. Selama seorang anak mendapatkan segala sesuatu yang terbaik dan didorong untuk berprestasi, maka ia sedang menciptakan sebuah jalan menuju masa depan yang gemilang.

Tapi, tuntutan untuk terus berprestasi tak selalu melahirkan anak yang bahagia. Dalam banyak kasus, tekanan semacam itu justru dapat menjadi beban yang perlahan menggerogoti kesehatan mental anak.

Kita lihat, misalnya, survei yang dikeluarkan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia (sekitar 34,9%) terdiagnosis memiliki masalah kesehatan mental. Kecemasan akademis dan tekanan ekspektasi orang tua, tentu menjadi salah satu pemicu utama yang turut berkontribusi terhadap persoalan tersebut.

Hal serupa juga ditegaskan oleh studi dari American Psychological Association (APA). Pola asuh achievement-oriented—yang hanya mengukur harga diri anak berdasarkan angka dan medali—secara konsisten dapat membuat anak mengalami depresi dan burnout di usia mudanya.

Itu artinya, prestasi tidak selalu menjadi tanda bahwa anak sedang baik-baik saja. Di balik piala dan medali yang terlihat membanggakan itu, bisa saja ada seorang anak yang sedang berusaha mati-matian memenuhi standar yang tidak pernah ia buat sendiri.

Piala berkilau yang berjejer di ruang tamu itu tidak akan pernah bisa melompat turun untuk memeluk seorang anak yang sedang gemetaran menangis sendirian. Dan, sungguh sangat ironi, kalau tangisan kesedihan dan keterpurukan itu justru disebabkan oleh orang yang seharusnya merawat, membimbing dan mendidiknya.

"Mendidik" Bukan "Mengendalikan" Anak

Bagi sebagian orang tua, mendidik anak berarti memastikan anak berjalan persis di jalur yang sudah mereka tentukan. Anak boleh memilih, selama pilihannya sesuai dengan keinginan orang tua.

Dalam film ini, cara pandang demikian tergambar jelas melalui sosok Pak Jaya. Ia merasa sudah memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk Jati. Fasilitas terbaik, pendidikan terbaik, dan dorongan untuk selalu menjadi yang terbaik. Karena itu, ketika Jati mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan membutuhkan ruang untuk menentukan dirinya sendiri, Pak Jaya merasa seolah-olah anaknya sedang keluar dari jalur yang seharusnya.

Saat anak mulai menunjukkan keinginan yang berbeda, orang tua sering menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan. Anak yang memiliki pilihan sendiri dianggap tidak tahu berterima kasih. Anak yang mempertanyakan aturan dianggap kurang ajar. Anak yang ingin mengambil jalan berbeda dianggap sedang menghancurkan masa depannya sendiri.

Satu kalimat yang merangkum semua ini, bagi saya adalah saat Pak Jaya mengomentari pihak sekolah barunya Jati.

“Anak saya belum waktunya dimerdekakan, biar saya saja yang mengurusnya," begitu kira-kira kata Pak Jaya.

Sekolah itu menerapkan kurikulum pembelajaran yang memerdekakan, dengan pendekatan yang lebih manusiawi terhadap karakter psikologis siswa. Dengan hal itu, rasa keingintahuan Jati tambah menguat, ia merasa bahagia dengan sistem dan lingkungannya. Tapi, sebaliknya dengan Pak Jaya. Ia malah menganggap pendidikan yang demikian adalah buruk.

Padahal, mendidik tidak sama dengan mengendalikan. Anak memang membutuhkan orang tua untuk membimbing, mengarahkan, dan menunjukkan batas. Tapi, mengarahkan bukan mengendalikan, mendidik bukan memiliki, membimbing bukan berarti memegang kemudi.

Orang tua bukanlah sopir yang harus terus memegang kemudi hingga anak sampai di tujuan yang ditentukan sejak awal. Betapapun, anak adalah manusia. Mereka hanya perlu diajari dan dibimbing cara mengendarai kendaraannya sendiri, agar kelak mereka bisa memilih dan mencapai tujuannya sendiri.

Ki Hajar Dewantara pernah mengajarkan kalau mendidik itu seharusnya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Tentu, menuntun bukan menyeret. Menuntun bukan berarti memaksa. Apalagi mengendalikan setiap langkah anak sampai ia tidak lagi tahu ke mana sebenarnya ingin pergi.

Ini juga menjadi pengingat penting bagi para pendidik. Bahwa sekolah seharusnya tidak menjadi tempat untuk menyeragamkan seluruh anak agar memiliki bentuk yang sama. Anak-anak datang ke ruang kelas dengan latar belakang, kemampuan, minat, dan persoalan yang berbeda-beda.

Mereka bukan kertas kosong yang bisa ditulisi sesuka hati. Mereka juga bukan angka di dalam daftar nilai. Ketika seorang anak mendapatkan nilai rendah, mungkin ia memang perlu dibantu untuk memahami pelajaran. Tetapi, nilai rendah tidak otomatis berarti ia malas, bodoh, atau tidak memiliki masa depan. Ketika seorang anak tidak berprestasi di bidang akademik, bukan berarti ia gagal menjadi manusia.

Sistem pendidikan dan pola pengasuhan yang cenderung mengukur anak berdasarkan nilai material belaka, itu sudah bukan lagi zamannya. Memang, nilai bisa dilihat. Piala bisa dipajang. Ranking bisa diumumkan. Tapi kecemasan, kesepian, ketakutan, dan kelelahan seorang anak tidak memiliki tempat untuk dipajang.

Oleh karena itu, agaknya tak berlebihan jika film ini wajib ditonton oleh orang tua dan pendidik. Tentu bukan karena film ini memberikan jawaban yang sempurna tentang bagaimana cara mendidik anak. Tapi karena muatan nilai film ini yang wajib dan perlu kita renungi.

Sudah bijakkah cara kita mengasuh, membimbing, dan menasehati anak? Sudahkah kita benar-benar mendengarkan apa yang mereka rasakan? Sudahkah kita berusaha memahami dunia mereka, atau kita justru memaksa mereka memahami dunia orang dewasa? Saat kita mengatakan bahwa semua yang kita lakukan adalah demi kebaikan mereka, apakah kita juga pernah bertanya kebaikan seperti apa yang sebenarnya mereka butuhkan?

Anak tak membutuhkan orang yang selalu benar. Mereka membutuhkan orang yang bersedia mendengarkan, bersedia memahami, dan bersedia mengakui bahwa anak-anak juga memiliki kehidupan batin yang tak selalu bisa mereka pahami.

Oleh: Hilmi Hafi
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak