Kegiatan tersebut digelar sebagai ruang refleksi terhadap sejumlah peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia yang terjadi pada bulan September. Puluhan kader internal maupun eksternal PMII UNIIB turut menghadiri kegiatan yang diisi dengan pembacaan puisi dan orasi ilmiah.
Selain rangkaian aksi, panitia juga membuka stan baca buku gratis bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Ketua Komisariat PMII UNIIB, Rifqi Izzul Wafa, mengatakan kegiatan September Hitam menjadi ruang bagi kader untuk mengingat kembali sejumlah peristiwa sejarah sekaligus membangun kesadaran kritis terhadap persoalan bangsa.
“September menjadi salah satu bulan yang memiliki catatan kelam dalam perjalanan sejarah Indonesia. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak kader dan masyarakat untuk tidak melupakan peristiwa-peristiwa tersebut serta mengambil pelajaran dari sejarah,” ujar Rifqi.
Menurut Rifqi, refleksi sejarah diperlukan agar berbagai persoalan yang pernah terjadi dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi saat ini, tidak sekadar menjadi catatan masa lalu.
Sejumlah peristiwa yang menjadi bagian dari refleksi dalam kegiatan tersebut antara lain gejolak politik dan pembantaian yang berkaitan dengan peristiwa 30 September 1965 hingga 1966, Tragedi Tanjung Priok pada 12 September 1984, serta Tragedi Semanggi II pada 24 September 1999.
Selain itu, kegiatan tersebut juga menyinggung kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib pada 7 September 2004, pembunuhan Salim Kancil pada 26 September 2015, serta rangkaian aksi #ReformasiDikorupsi pada 23–30 September 2019.
Refleksi juga diarahkan pada sejumlah peristiwa kekerasan dan persoalan kemanusiaan yang lebih baru, termasuk kasus yang berkaitan dengan Affan Kurniawan dan Gama, tragedi di Stadion Kanjuruhan, serta kriminalisasi sejumlah aktivis yang pernah terjadi di Indonesia.
Rangkaian kegiatan berlangsung melalui pembacaan puisi dan orasi ilmiah. Materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut diarahkan untuk mengajak peserta melihat kembali berbagai peristiwa sejarah melalui perspektif kritis dan kemanusiaan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ada nilai yang ingin kami sampaikan, terutama pentingnya mengingat sejarah, menjaga keberanian untuk menyampaikan pendapat, dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan,” kata Rifqi.
Selain kegiatan utama, keberadaan stan baca buku gratis menjadi bagian dari upaya panitia membuka akses literasi bagi masyarakat. Buku-buku yang tersedia dapat dibaca secara gratis oleh pengunjung selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan September Hitam tersebut diikuti puluhan kader PMII UNIIB, baik dari internal komisariat maupun peserta dari luar organisasi. Melalui kegiatan tersebut, PMII UNIIB menjadikan ruang publik sebagai tempat untuk melakukan refleksi sejarah sekaligus mendiskusikan persoalan sosial dan kebangsaan. (Hlmihf)



Posting Komentar