Setiap pekan, tepatnya pada hari Jum’at di sore hari mulai pukul 16.00 – 17.00 WIB para lansia berkumpul di Balai RT 03 RW 08 untuk mengikuti senam bersama. Dengan iringan musik yang ceria dan gerakan yang disesuaikan dengan kemampuan fisik peserta, suasana senam berlangsung penuh semangat. Wajah-wajah yang sebelumnya tampak lelah berubah menjadi lebih cerah saat mereka bergerak bersama dan berinteraksi dengan sesama peserta.
Manfaat fisik dari senam lansia memang tidak dapat dipungkiri. Aktivitas ini membantu menjaga kelenturan otot dan persendian, meningkatkan keseimbangan tubuh, memperlancar peredaran darah, serta menjaga kesehatan jantung. Bagi para lansia, olahraga ringan yang dilakukan secara rutin juga dapat mengurangi risiko berbagai penyakit degeneratif yang sering muncul seiring bertambahnya usia.
Namun, manfaat yang dirasakan para peserta tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Banyak lansia mengaku bahwa momen berkumpul bersama teman-teman sebaya menjadi alasan utama mereka antusias mengikuti kegiatan ini. Di sela-sela senam, mereka saling bertukar kabar, berbagi pengalaman hidup, hingga bercanda bersama. Interaksi sederhana tersebut mampu menghadirkan kebahagiaan dan mempererat hubungan sosial antarwarga.
Bagi sebagian lansia yang tinggal sendiri di rumah atau yang aktivitas sehari-harinya terbatas, kehadiran kegiatan senam menjadi kesempatan berharga untuk keluar dari rutinitas yang monoton. Rasa kesepian yang sering muncul perlahan berkurang karena mereka memiliki ruang untuk bertemu dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Kehangatan kebersamaan yang terbangun membuat para peserta merasa lebih dihargai, diperhatikan, dan menjadi bagian penting dari komunitas.
Ibu Jetty, Instruktur Senam, menuturkan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung sejak dua tahun belakang, dan dilakukan tiap pekan sekali.
“Kegiatan senam lansia di RT 03 RW 08 telah berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Kegiatan ini sudah berjalan melewati dua kali Hari Raya Idulfitri dan terus dilaksanakan secara rutin sebagai aktivitas kebugaran bagi para lansia”, ujar Ibu Jetty.
Antusiasme peserta mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada awal pelaksanaan, peserta yang mengikuti senam hanya sekitar enam hingga tujuh orang. Namun, seiring berjalannya waktu, para lansia mulai mengajak tetangga dan teman sebayanya sehingga jumlah peserta semakin bertambah.
Beliau juga mengungkapkan bahwa mengajar lansia memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan kelompok usia lainnya. Gerakan senam harus disesuaikan dengan kemampuan fisik peserta. Bagi lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas, senam dilakukan dengan bantuan kursi, sedangkan peserta yang sudah terbiasa berolahraga dapat mengikuti gerakan yang lebih aktif.
Pelaksanaan senam lansia memerlukan penyesuaian khusus, terutama dalam pemilihan irama musik dan penyusunan gerakan. Irama lagu yang digunakan harus lebih pelan agar mudah diikuti oleh peserta, sementara gerakan disusun dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan lansia.
Selain itu, menurut instruktur senam, kegiatan yang diberikan tidak hanya berupa senam kebugaran. Untuk mengurangi rasa bosan, setiap pertemuan diberikan variasi gerakan dengan memanfaatkan alat bantu sederhana, seperti handuk dan stik. Variasi tersebut bertujuan agar peserta tetap bersemangat mengikuti kegiatan sekaligus merasakan pengalaman senam yang lebih menarik meskipun telah memasuki usia lanjut.
Salah seorang peserta senam, Ibu Harto, mengaku merasakan manfaat yang signifikan setelah rutin mengikuti senam tersebut. Menurutnya, kondisi yang sebelumnya mengganggu aktivitas sehari-hari kini berangsur membaik karena mengikuti senam dan latihan yang dilakukan secara konsisten.
“Saya dulu sempat mengalami frozen solder di bagian lengan tangan kiri dan kanan, setelah mengikuti senam dan saya sering latihan sendiri di rumah, alhamdulillah frozen solder saya membaik dan tidak sakit lagi,” ujar Ibu Harto.
Ia mengatakan, selain mengikuti senam secara rutin, dirinya juga melanjutkan gerakan-gerakan latihan secara mandiri di rumah. Kebiasaan tersebut, menurutnya, membantu mempercepat proses pemulihan sehingga rasa nyeri yang sebelumnya sering dirasakan kini sudah jauh berkurang dan tidak lagi mengganggu aktivitasnya.
Dengan demikian, kegiatan senam lansia di RT 03 RW 08 Kelurahan Sidosermo ini menunjukkan bagaimana sebuah program sederhana dapat memberikan dampak sosial yang besar. Melalui olahraga bersama, tercipta lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan dan kesejahteraan lansia. Dukungan dari pengurus RT, kader kesehatan, serta warga sekitar menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan ini.
Lebih dari sekadar menjaga kebugaran tubuh, senam lansia telah menjadi wadah yang mempertemukan banyak cerita, tawa, dan persahabatan. Di RT 03 RW 08 Kelurahan Sidosermo, senam membuktikan bahwa kesehatan bukan hanya tentang kondisi fisik yang prima, tetapi juga tentang hadirnya hubungan sosial yang hangat dan kehidupan yang lebih bermakna di usia senja.
Melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama, para lansia menunjukkan bahwa tetap aktif, sehat, dan bahagia dapat diwujudkan dalam kebersamaan. Karena pada akhirnya, senam lansia bukan hanya tentang bergerak mengikuti irama, melainkan juga tentang merawat silaturrahmi dan mengusir sepi dengan semangat kebersamaan.
Oleh: Mahasiswa KKN UINSA Kelurahan Sidosermo RT.03 RW.08





Posting Komentar