BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Berita Politik Negatif Lebih Sulit Kita Lepaskan dari Pikiran

Penalaut.com
– Ada sesuatu yang menarik dari cara kita mengonsumsi berita di ponsel kita, lebih-lebih soal isu politik hari ini. Dalam sehari, mungkin kita membaca puluhan informasi melalui media sosial. Ada berita tentang keracunan MBG, reshuffle kabinet secara mendadak, korupsi, kebakaran hutan, sound horeg memakan korban, gaji guru rendah, ekonomi, BBM langka hingga berbagai persoalan pemerinatahan yang masih banyak lagi. 

Namun, dari sekian banyak informasi tersebut, berita yang bernada negatif, konflik, kontroversi, dugaan pelanggaran, pernyataan yang memancing perdebatan, atau persoalan yang belum terselesaikan, sering kali justru lebih lama tinggal di kepala. Bahkan setelah ponsel diletakkan dan aktivitas berganti, berita tersebut masih terbayang. Mengapa pikiran kita seolah lebih sulit melepaskan berita yang negatif?

Dalam psikologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep "bias negatif", yaitu kecenderungan manusia untuk memberikan perhatian dan bobot psikologis yang lebih besar terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif. Secara sederhana, pengalaman buruk cenderung meninggalkan jejak yang lebih kuat daripada pengalaman baik. 

Sebuah pujian mungkin membuat kita senang beberapa saat, tetapi satu komentar negatif dapat kita pikirkan sepanjang hari. Demikian pula dalam mengonsumsi berita politik. Informasi yang mengandung ancaman, konflik, ketidakpastian, atau ketidakadilan lebih mudah menarik perhatian karena dianggap penting untuk diwaspadai.

Dalam konteks politik, respons tersebut menjadi semakin kuat karena politik sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Politik bukan sekadar persoalan siapa yang menjadi pejabat atau partai mana yang mendapatkan dukungan. Kebijakan politik dapat berhubungan dengan harga kebutuhan sehari-hari, kesempatan kerja, pendidikan anak, biaya kesehatan, keamanan, hingga masa depan keluarga. 

Karena itu, ketika seseorang membaca berita politik yang dianggap mengancam kehidupan atau kepentingannya, otak tidak selalu memprosesnya sebagai informasi yang netral. Informasi tersebut dapat dipersepsikan sebagai sesuatu yang memiliki konsekuensi langsung terhadap kehidupannya.

Di sinilah emosi memainkan peranan penting. Berita politik yang memunculkan rasa marah, takut, kecewa, atau cemas memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan perhatian kita. Kita membaca sekali, kemudian membaca lagi. Kita melihat komentar orang lain. Kita membuka video lain untuk mengetahui perkembangan terbaru. Setelah itu, kita kembali ke media sosial untuk mencari informasi tambahan. Tanpa disadari, kita masuk ke dalam siklus konsumsi informasi yang terus berulang.

Fenomena tersebut semakin mudah terjadi karena karakter media sosial. Kita tidak lagi harus secara aktif mencari berita. Berita justru datang kepada kita melalui notifikasi, timeline, reels, short video, FYP TikTok dan rekomendasi algoritma. Satu informasi dapat membawa kita kepada informasi lainnya. Ketika sebuah konten politik mendapatkan perhatian kita, platform dapat kembali menyajikan konten dengan tema serupa. Akhirnya, ruang informasi yang kita lihat semakin dipenuhi oleh isu yang sama.

Persoalannya bukan semata-mata pada banyaknya informasi, tetapi pada keterlibatan emosional yang menyertai informasi tersebut. Seseorang dapat mengetahui sebuah berita secara rasional, tetapi pada saat yang sama tetap mengalami kemarahan atau kecemasan yang terus terbawa. 

Dalam psikologi, emosi memiliki hubungan erat dengan perhatian dan memori. Peristiwa yang memiliki muatan emosional kuat cenderung lebih mudah menarik perhatian dan diingat. Itulah sebabnya berita politik yang membuat kita marah sering kali jauh lebih sulit dilupakan dibandingkan berita yang biasa saja.

Situasi ini kemudian dapat berkembang menjadi apa yang populer disebut doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus mencari dan membaca informasi negatif meskipun aktivitas tersebut membuat seseorang semakin lelah atau cemas. Ironisnya, semakin cemas seseorang terhadap suatu persoalan, semakin besar pula dorongannya untuk mencari informasi tentang persoalan tersebut. Ia berharap mendapatkan kepastian, tetapi justru menemukan lebih banyak informasi yang memunculkan pertanyaan baru.

Saya sering melihat persoalan ini bukan hanya sebagai persoalan literasi digital, tetapi juga sebagai persoalan regulasi emosi. Kita membutuhkan kemampuan untuk menyadari kapan konsumsi informasi sudah tidak lagi membantu kita memahami keadaan, tetapi justru mulai menguasai keadaan psikologis kita. 

Ada perbedaan antara “saya mengikuti perkembangan politik” dengan “saya tidak bisa berhenti memikirkan politik”. Yang pertama menunjukkan keterlibatan, sedangkan yang kedua dapat menunjukkan bahwa kita mulai kehilangan jarak psikologis terhadap informasi.

Menariknya, mengurangi paparan berita negatif bukan berarti seseorang harus menjadi apatis terhadap persoalan politik. Justru masyarakat yang sehat secara psikologis tetap perlu memiliki kepedulian terhadap kehidupan publik. Kita perlu mengetahui apa yang sedang terjadi, memahami kebijakan yang berdampak kepada masyarakat, serta menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan sebagai warga negara.

Namun, kepedulian tidak harus selalu diwujudkan dengan mengikuti setiap perdebatan, membaca setiap komentar, atau menonton setiap video yang muncul di layar.

Kita membutuhkan apa yang dalam perspektif psikologi dapat dipahami sebagai batas yang sehat terhadap informasi. Tidak semua informasi harus kita konsumsi. Tidak semua perdebatan harus kita ikuti. Tidak semua komentar harus kita jawab. Dan tidak semua persoalan politik harus kita bawa ke dalam pikiran ketika kita sedang bekerja, belajar, makan bersama keluarga, atau beristirahat.

Hal lain yang perlu kita sadari adalah bahwa emosi dapat memengaruhi cara kita menilai informasi. Ketika sedang marah, kita cenderung lebih mudah menerima informasi yang menguatkan kemarahan tersebut. Ketika sedang takut, kita lebih mudah memperhatikan informasi yang memperkuat rasa takut. 

Karena itu, jeda menjadi penting. Berhenti sejenak sebelum membagikan sebuah berita, memeriksa sumber informasi, membaca perspektif yang berbeda, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk menenangkan emosi merupakan bagian dari perilaku bermedia yang sehat.
 
Persoalan kita hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang harus kita kelola secara psikologis. Kita hidup dalam situasi ketika berita politik dapat masuk ke ruang pribadi kapan saja. Pagi ketika baru bangun tidur, siang ketika sedang bekerja, bahkan malam ketika seharusnya tubuh dan pikiran beristirahat.

Maka, menjadi warga negara yang peduli tidak harus berarti menjadi orang yang terus-menerus terpapar politik. Kita boleh kritis tanpa harus terus marah. Kita boleh peduli tanpa harus terus cemas. Kita boleh mengikuti perkembangan negara tanpa membiarkan setiap berita menguasai pikiran. Sebab kesehatan psikologis juga membutuhkan ruang untuk bernapas.

Oleh: Miftahul Huda, M.Psi. (Dosen Universitas Islam Cordoba Banyuwangi)
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak