BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Cak Imin Memanglah Licin, Baik dari Ucapan maupun Perbuatan

Penalaut.com – Kalau saja ada gelar ahli navigasi gelombang di ranah politik Indonesia, barangkali kita harusnya sungkem ke Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Pria satu ini laiknya belut yang diolesi minyak goreng, semakin keras lawan mencoba mencengkeramnya, semakin licin dan mulus ia meluncur ke tempat yang aman. Bahkan bukan cuma aman, tapi acap kali mendarat tepat di kursi empuk kekuasaan.

“Cak Imin memang salah satu ciptaan Tuhan yang paling licin, baik dari ucapan maupun perbuatan.” Begitulah celetukan teman saya setelah mengirim sebuah video reels—yang menampilkan ucapan Cak Imin—di grup gosip Instagram kami.

Saya tidak bisa membantahnya. Ucapan teman saya itu kalau diraba-raba, memang ada benarnya juga. Lihat saja tingkah polahnya baru-baru ini. Dalam sebuah acara bedah buku di Jombang, dengan wajah tanpa dosa dan nada santai, Cak Imin menyebut bahwa Nahdlatul Ulama (NU) mengalami keterpurukan dalam lima tahun terakhir.

Apa penyebabnya? Menurut analisis geopolitik ala Cak Imin, karena NU dipimpin oleh alumni HMI. Pernyataan itu tentu saja langsung membuat sebagian warga nahdlyin—apalagi bocah PMII pinggiran macam saya ini—geleng-geleng. Apalagi para alumni HMI, jelas kebakaran jenggot.

Luar biasa, memang. Di saat banyak politisi berusaha merangkul semua golongan, memilih kata-kata seaman mungkin, dan menjaga kondusivitas demi menghindari keributan, Cak Imin justru melempar umpan lambung ke tengah lapangan. Umpan yang tentu saja siap diperebutkan, diperdebatkan, dipotong-potong, lalu digoreng di jagat media sosial.

Tapi ya begitulah Cak Imin. Tak sekali ia melempar wacana yangs serupa. Ia punya cara unik untuk membuka panggung, melempar wacana, lalu membiarkan publik sibuk bertengkar dengan wacana tersebut. Sementara ia mungkin cukup duduk tenang sambil memperhatikan dampaknya.

Untuk membedah dinamika organisasi sebesar NU, Cak Imin tak butuh penelitian macam sosiologi politik yang tentu menguras banyak waktu, anggaran ratusan juta, dan instrumen metodologi riset yang rumit. Cak Imin cuma butuh satu variabel sederhana saja, yaitu almamater organisasi mahasiswa.

Barangkali, ini adalah metode ilmiah paling praktis dan futuristik di dunia. Kalau NU sedang dianggap ada masalah, ya tinggal cek saja kartu anggota HMI pengurusnya. Praktis, efisien, dan hemat anggaran riset!

Mengambinghitamkan HMI atas kompleksitas masalah NU adalah seni melimpahkan beban tingkat tinggi, seni yang tentu saja hanya bisa dikuasai oleh mereka yang berjiwa Kancil.

Cak Imin memang laiknya Kancil dalam dongeng anak-anak. Cerdik, tangkas, dan selalu menemukan celah di tengah kejaran pemangsa. Di saat jalan utama tertutup, ia mencari jalan tikus. Dan saat jalan tikus tertutup, entah bagaimana, ia sudah muncul dari pintu belakang sambil membawa senyum.

Sekaliber Prabowo Subianto saja mengakui ke"Kancil"an Cak Imin. Dalam salah satu pidatonya, ia pernah secara terbuka menyamakan Cak Imin dengan sosok Kancil, di samping Bahlil dan Sufmi Dasco. 

Julukan demikian itu memang harus diakui, cukup akurat. Kita lihat, misalnya, di panggung Pilpres lalu, jelas Cak Imin berada di barisan lawan Prabowo. Ia membawa visi perubahan, menawarkan arah baru, yang jelas tak selaras dengan misi yang dibawa oleh pasangan Prabowo-Gibran. 

Karena itu, tidak terpilihnya Cak Imin sebagai Wapres, rasanya publik akan menyaksikan babak baru politik Indonesia, yaitu oposisi versus pemerintah. Tapi politik Indonesia memang tidak pernah semudah pertandingan sepak bola yang jelas mana kawan dan mana lawan.

Begitu angin politik berembus ke arah lain, tanpa banyak canggung dan tanpa drama berbelit, Cak Imin dengan mulus melangkah masuk ke dalam kabinet pemerintahan baru. Penonton politik yang sudah siap menyaksikan drama dan akrobat oposisi mendadak dibuat melongo. Lha, kok sudah ada di dalam rumah?

Begitulah kelincahannya. Pindah kamar politik bagi Cak Imin mungkin terasa sedamai pindah tempat duduk di warung kopi. Tidak perlu mengemasi koper, tidak perlu membuat pidato perpisahan, apalagi meneteskan air mata. Cukup bergeser sedikit, dan tahu-tahu sudah duduk di meja yang berbeda.

Cak Imin memang selalu berhasil membaca ke mana arah angin berembus. Ia tahu kapan harus menyenggol lawan, kapan harus merapat ke kawan, dan kapan harus banting setir 180 derajat tanpa perlu merasa canggung.  

Bagi kita, manuver-manuver seperti ini mungkin terlihat sebagai konsistensi dalam ketidak-konsistenan. Tapi bagi politikus—atau setidaknya bagi mereka yang cukup lama mengamati tingkah polah politisi kita—barangkali ini adalah seni bertahan hidup di dalam kehidupan politik Indonesia. Barangkali bagi mereka di dunia yang hari ini kawan dan besok bisa menjadi lawan, kemampuan membaca arah angin jauh lebih berguna daripada sekadar berdiri tegak memegang prinsip sambil diterpa badai dari segala arah.

Dan, Cak Imin tampaknya memahami dan mempraktikkan hal itu. Ia tahu kapan harus berdiri di depan sambil meneriakkan perubahan. Ia tahu kapan harus melempar narasi provokatif, seperti isu PMII, HMI, dan NU. Tapi ia juga tahu kapan harus merapat, menunduk rapi, lalu mengambil posisi ketika pembagian porsi kekuasaan dimulai. Tidak semua orang memiliki kemampuan semacam itu.

Sebab menjadi licin juga membutuhkan kecerdikan. Terlalu licin bisa membuat orang jatuh. Kurang licin bisa membuat diri sendiri yang terpeleset. Maka diperlukan keseimbangan tingkat tinggi antara keberanian bermanuver, kemampuan membaca situasi, dan insting untuk mengetahui di mana kursi kosong masih tersedia.

Dan, dalam urusan itu, Cak Imin tampaknya sudah cukup berpengalaman.

Oleh: Hilmi Hafi
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak