BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

IKSASS di Usia 38 Tahun: Merawat Cinta kepada Kiai, Meneruskan Perjuangan Para Masyaikh

Penalaut.com
– (Situbondo) Ada nama-nama yang tidak pernah benar-benar selesai disebut, meski pemilik nama itu telah lama meninggalkan dunia. Ada pula perjuangan yang tidak berhenti ketika pelakunya telah tiada. Bagi keluarga besar Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo (IKSASS), jejak itu hidup dalam mahabbah kepada para kiai dan dalam perjuangan yang diteruskan dari generasi ke generasi.

Memasuki usia ke-38, IKSASS kembali mengajak para santri dan alumninya menengok akar perjalanan tersebut. Bukan semata untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah dilakukan untuk menjaga apa yang dahulu diperjuangkan para masyaikh?

Pertanyaan itu menemukan ruang dalam Tasyakuran dan Do’a Bersama HARLAH IKSASS ke-38 di Aula Lantai II Pusat IKSASS, Kamis, 1 Oktober 2026. Mengusung tema “Merawat Mahabbah, Menjaga Sanad Perjuangan”, peringatan tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan kembali rasa cinta kepada guru dengan tanggung jawab meneruskan perjuangan.

KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D., Ketua Umum Majelis Syuri Pusat IKSASS sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, membawa ingatan itu kepada sosok guru sebagai sumber pendidikan dan perjuangan.

Bagi Kiai Azaim, seorang kiai tidak hanya mengajarkan sesuatu melalui lisan. Kehidupan seorang guru sendiri adalah pelajaran. Cara berjalan, cara berkhidmah, kesabaran, doa, mujahadah hingga perhatian terhadap santri menjadi bagian dari pendidikan yang diwariskan.

Karena itu, ia menyebut Raden Ibrahim sebagai “ayahanda ruhani”. Sebutan tersebut bukan sekadar ungkapan penghormatan, tetapi menggambarkan kedalaman hubungan antara seorang guru dengan murid yang telah menerima ilmu, doa dan keteladanan.

Hubungan tersebut, menurutnya, tidak boleh berhenti ketika seorang santri telah keluar dari pesantren. Ia harus tetap hidup dalam ikatan iman dan ruhani.

“Rawatlah rābithah īmāniyah ini. Rawatlah rābithah rūhiyah ini. Yang jauh melampaui rābithah jasadiyah.”

Sebab bagi seorang santri, jarak tidak selalu berarti keterpisahan. Ada hubungan yang tidak terlihat, tetapi terus mengikat. Ada doa yang tidak terdengar, tetapi menjadi bagian dari perjalanan. Ada keteladanan yang terus hidup meski zaman telah berubah.

Dari mahabbah itulah kemudian lahir pertanyaan tentang tanggung jawab. Sebab mencintai guru berarti juga menjaga apa yang telah diwariskannya.

KH. Ach. Fadlail, M.H., Ketua Umum Majelis Tanfidzi Pusat IKSASS, mengingatkan bahwa kebesaran IKSASS yang dirasakan hari ini merupakan hasil perjuangan panjang banyak generasi.

“Antargenerasi, antarperiode, semuanya telah memberikan jasa dan kontribusi. Sehingga hari ini, kita berada dalam satu fase dan dapat merasakan serta menikmati besarnya organisasi ini sebagai lahan perjuangan kita bersama.”

Kebesaran itu tidak datang secara tiba-tiba. Ada orang-orang yang sebelumnya meletakkan fondasi, mengorbankan waktu, pikiran dan tenaga, hingga IKSASS tumbuh menjadi medan perjuangan yang dapat diwarisi generasi setelahnya.

“Di atas fondasi yang sedemikian kokoh dan kuat itulah, Kiai Haji Raden Ahmad Fawaid As'ad mengorkestrasi organisasi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo.”

Bagi KH. Ach. Fadlail, keberhasilan seorang pejuang justru terlihat ketika perjuangannya mampu dilanjutkan.

“Bukti kebesaran dan keberhasilan beliau adalah ketika beliau mampu mewariskan semua itu sebagai medan jihad dan lahan perjuangan yang kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus beliau, oleh zuriah beliau, Kiai Haji Raden Ahmad Azaim Ibrahimy bersama Ibu Nyai Hajjah Nursari As'ad.”

Maka generasi hari ini sesungguhnya tidak sedang berdiri di tanah yang kosong. Mereka berdiri di atas jejak yang telah dibuat oleh para pendahulu. Karena itu, amanah kepengurusan bukan sekadar posisi, melainkan bagian dari mata rantai perjuangan.

“Kita mendapatkan amanah, mendapatkan kepercayaan dari guru kita bersama, Kiai Haji Raden Ahmad Azaim Ibrahimy.”

Kepercayaan itu kemudian dimaknai sebagai aliran mahabbah dari para guru. Mahabbah yang seharusnya tidak membuat seseorang terlena, tetapi justru semakin terdorong untuk memberikan pengabdian.

“Maknanya adalah bahwa hari ini kita telah mendapatkan aliran mahabbah, aliran cinta dari guru-guru kita semua. Untuk kemudian menjadi spirit bagi kita, menjadi motivasi bagi kita, untuk totalitas dalam khidmah di organisasi kita.”

Di titik ini, dua pesan tersebut bertemu. Kiai Azaim berbicara tentang menjaga hubungan ruhani dengan guru. Kiai Fadlail berbicara tentang menjadikan cinta kepada guru sebagai kekuatan untuk berkhidmah.

Keduanya sama-sama mengingatkan bahwa mahabbah tidak cukup hanya dirasakan. Ia harus hidup dalam tindakan.

Karena itu, KH. Ach. Fadlail berharap kebesaran yang telah dibangun tidak berhenti pada generasi hari ini.

“Kebesaran dan keberhasilan yang telah kita bangun akan semakin menggurita, akan semakin membesar seperti bola salju yang terus menggelinding.”

Harapan itu kemudian diarahkan kepada kemanfaatan yang lebih luas.

“Menjadi sebuah cahaya yang menerangi masyarakat, tidak hanya warga dan alumni Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, tetapi juga warga bangsa Indonesia, umat Islam Indonesia, bahkan mungkin warga bangsa dunia dan umat Islam dunia.”

Pada akhirnya, Harlah IKSASS ke-38 bukan hanya tentang melihat ke belakang. Ia juga tentang melihat ke depan dengan membawa sesuatu yang telah diwariskan para guru.

“Inilah cita-cita besar yang ada di tangan kita hari ini, yang harus kita lanjutkan sebagai sebuah estafet perjuangan dari guru-guru kita semuanya.”

Tiga puluh delapan tahun adalah perjalanan panjang. Namun bagi sebuah sanad perjuangan, angka itu bukanlah akhir. Ia adalah satu mata rantai yang menunggu untuk disambungkan kepada generasi berikutnya.

Para masyaikh telah menanam. Para pendahulu telah merawat. Generasi hari ini menerima amanah.

Dan barangkali, bentuk paling jujur dari mencintai seorang kiai bukan hanya dengan terus menyebut namanya, tetapi dengan memastikan nilai, ilmu, keteladanan dan perjuangannya tetap hidup dalam diri kita.

Merawat mahabbah berarti menjaga hati tetap terhubung kepada guru. Menjaga sanad berarti memastikan perjuangan mereka tidak berhenti pada kita. (Rif)
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak