BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Kurang Perhatian dan Kasih Sayang, Bisa Berujung Anak Gila Seks

Penalaut.com
– Di balik orang gila seks, ada luka kurang kasih sayang yang akhirnya berujung menjual selangkangan. Terlepas dari perdebatan halal-haraman versi agama, atau stempel Dosa Besar yang biasa ditempelkan masyarakat, fenomena ekstrem begini sangat patut dibaca dalam sudut pandang lain.

Menghujat pelaku hiperseksual sebagai sosok "murahan" atau sekadar budak libido memang paling gampang, tapi cara pandang dangkal demikian itu kerap menutup mata kita dari luka trauma yang membusuk di balik urusan selangkangan.

Berburu kepuasan di atas ranjang itu ternyata juga bisa dimaknai sebagai bentuk jeritan pertolongan dari seorang anak yang tumbuh di tempat yang kurang memberikan perhatian, kasih sayang, dan pengakuan.

Hal beginian ini yang ditemukan oleh Rahmah Maftuhah Rohman, Ketua Korps Putri (KOPRI) PMII Banyuwangi.

Rela Diperdaya di Atas Ranjang Cuma Demi Setetes Perhatian

Tim Penalaut sempat berbincang langsung dengan Rahmah. Dari hasil pengamatan dan pendampingannya di lapangan, Rahmah menemukan fakta tentang bagaimana seseorang bisa mengartikan relasi fisik secara membingungkan akibat krisis perhatian keluarga.

Bagi orang yang terjebak dalam kondisi ini, urusan bercinta sama sekali bukan bertujuan untuk mencari kenikmatan pribadi.

"Orang itu menganggap seks sebagai bentuk tertinggi dari ekspresi kecintaan laki-laki. Dia tidak peduli pada kepuasan dirinya sendiri, tapi justru merasa puas dan tervalidasi saat laki-laki itu mencapai orgasmenya," ungkap Rahmah kepada tim Penalaut.

Bagi orang itu, ia rela menyerahkan tubuhnya berkali-kali karena orgasme pasangannya merupakan satu-satunya "bukti sah" bahwa ia berguna, dibutuhkan, dan akhirnya diakui keber"ada"annya. Baginya, menyerahkan selangkangan akan berujung pada pengakuan: sebuah kepuasan psikologis tersendiri.

Cara pandang demikian ini tentu tidak ujug-ujug lahir begitu saja, melainkan dari adanya ruang kosong di masa lalu yang tak pernah terisi.

Memburu Rasa Aman di Atas Ranjang

Setelah menelusuri latar belakangnya lebih dalam, Rahmah menemukan bahwa pola perilaku kompulsif ini, akar masalahnya bertaut langsung pada kondisi fatherless—hilangnya figur, peran, dan kasih sayang seorang ayah.

"Berdasarkan pengamatan saya, orang itu mengalami kondisi fatherless. Akibat hilangnya perhatian keluarga ini, akhirnya berujung pada kondisi gila seks. Dia berusaha mencari pengganti perhatian dan sosok ayah yang hilang lewat kepuasan laki-laki lain di ranjang," terang Rahmah.

Kekosongan emosional yang sengaja dibiarkan di rumah membuat seseorang tumbuh dengan kelaparan kasih sayang yang amat sangat. Ketika beranjak dewasa, rasa lapar itu meluap menjadi dorongan nekat untuk memburu rasa aman lewat jalur paling instan, yakni suatu perhelatan kontak fisik di atas ranjang.

Luka Masuk Lewat Hati, Meluas Lewat Selangkangan

Apa yang diamati Rahmah sejatinya berkelindan erat dengan konsep psikologi yang diperkenalkan oleh John Bowlby mengenai Attachment Theory (Teori Kelekatan). Dalam pandangan Bowlby, ikatan emosional pertama anak dengan orang tuanya adalah cetak biru (blueprint) utama dalam membangun relasi saat dewasa.

Ketika seorang anak tumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang yang cukup, ikatan kelekatan itu akhirnya patah. Walhasil, anak menjadi gagal membangun rasa aman dalam dirinya dan tumbuh menjadi pribadi dengan anxious attachment style (gaya kelekatan cemas). 

Orang dengan kondisi ini punya ketakutan kronis akan penolakan. Saat dewasa, mereka rela melakukan cara-cara ekstrem—termasuk mengorbankan tubuh dan harga dirinya—asal orang lain tidak pergi dan mau memberinya sedikit rasa hangat.

Jadi, ketimbang sibuk menghakimi mereka yang kecanduan seks dengan pasal-pasal moralitas atau norma agama semata, ada baiknya para orang tua mulai becermin. Seseorang bisa saja rela menyerahkan tubuhnya berkali-kali di atas ranjang, hanya untuk mengejar hangatnya perhatian yang tak pernah ia temukan di rumahnya sendiri.

Perilaku gila seks itu sering kali cuma pucuk gunung es. Di bawahnya, ada anak yang menangis sendirian karena tak pernah dipeluk oleh ayahnya sendiri.

Oleh: Hilmi Hafi
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak