Penalaut.com – (Bondowoso) Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso menjadi momentum untuk menata kembali arah gerakan organisasi periode 2026–2031. Forum yang digelar di Pondok Pesantren Al Imam, Kecamatan Jambesari DS, Minggu (4/10/2026), membawa agenda besar agar kekuatan NU tidak berhenti pada struktur, tetapi berujung pada manfaat bagi masyarakat.
Muskercab diikuti jajaran lembaga PCNU, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), Rais MWCNU dan para delegasi. Sebelum forum kerja dimulai, seluruh pengurus lembaga terlebih dahulu dikukuhkan. Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid, Ketua DPRD Ahmad Dhafir dan sejumlah pihak turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Arah organisasi PCNU Bondowoso dirumuskan melalui konsep “Satu Gerakan Besar NU Bondowoso”. Gagasan tersebut menempatkan seluruh lembaga dan badan otonom (Banom) NU dalam satu gerakan yang saling terhubung, bukan menjalankan program secara terpisah sesuai kepentingan masing-masing.
Ada lima pilar yang menjadi dasar gerakan tersebut. Pertama, menguatkan jam'iyah melalui konsolidasi organisasi, penguatan MWCNU dan ranting, digitalisasi administrasi serta kaderisasi.
Kedua, merawat jamaah. Fokusnya diarahkan pada penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, pembinaan jamaah, optimalisasi masjid dan musala serta menjaga tradisi keagamaan NU di tengah masyarakat.
Ketiga, menyiapkan kader. PCNU Bondowoso menempatkan pelajar, mahasiswa, perempuan dan pemuda sebagai bagian dari proses regenerasi. Kaderisasi berjenjang diharapkan mampu menyiapkan kepemimpinan NU yang memahami nilai organisasi sekaligus mampu menghadapi perubahan zaman.
Keempat, membangun kemandirian. Pemberdayaan ekonomi warga NU diarahkan melalui pengembangan UMKM, ketahanan pangan, aset dan badan usaha NU. Pilar ini menjadi salah satu tantangan penting karena kemandirian organisasi juga membutuhkan basis ekonomi yang kuat.
Kelima, menghadirkan kemanfaatan melalui pendidikan, kesehatan serta sosial kemanusiaan. Keberadaan NU diharapkan tidak hanya terlihat dalam aktivitas keagamaan dan organisasi, tetapi dapat dirasakan langsung melalui program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Rais Syuriah PCNU Bondowoso, KH Abdul Qodir Syam, mengingatkan bahwa seluruh agenda tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pengabdian. Menurutnya, posisi dalam kepengurusan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang harus diterjemahkan dalam aktivitas yang memberi manfaat.
“Tempat bukanlah satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang. Justru, kemuliaan dapat diwujudkan melalui aktivitas dan kontribusi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Cermee itu juga mengingatkan pentingnya memperbaiki kualitas ibadah. Ia mencontohkan peningkatan kedisiplinan salat, membiasakan salat berjamaah hingga memakmurkan masjid sebagai bagian dari proses membangun kekuatan spiritual pengurus.
Menurutnya, kekuatan NU juga ditentukan oleh soliditas internal. Pengurus, ulama dan warga NU harus memiliki ikatan yang kuat agar dapat saling membantu dan mendukung ketika organisasi menghadapi berbagai persoalan.
“Untuk saling mendukung, saling menolong satu dengan yang lain, untuk memperkuat diri di dalam, di internal,” tegasnya.
KH Abdul Qodir juga meminta jajaran NU tidak mudah terpecah ketika menghadapi gangguan terhadap organisasi maupun ulama. Namun, ketegasan tersebut tetap harus disertai kebijaksanaan dan membuka ruang islah apabila penyelesaian secara damai masih memungkinkan.
“Yang menyakiti kita, kita lawan. Gangguan antara ulama, kita lawan. Kalau mampu bisa berislah, kita bisa berislah,” pesannya.
Dari sisi pemerintah daerah, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid mendorong agar hubungan NU dan pemerintah semakin diperkuat. Ia melihat NU memiliki peran strategis bukan hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam pembangunan sosial, ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Forum ini merupakan wahana dan momentum strategis untuk menyusun program kerja organisasi yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan kemajuan daerah,” ujarnya.
Abdul Hamid menilai agenda kemandirian ekonomi dan peningkatan kualitas SDM perlu menjadi perhatian bersama. Kolaborasi pemerintah dan NU diharapkan dapat memperluas dampak program pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Sejalan dengan cita-cita besar NU untuk merawat jagat membangun peradaban, mari kita perkuat semangat kebersamaan, kemandirian ekonomi, dan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Bondowoso,” tegasnya.
Menurutnya, pembangunan tidak dapat dikerjakan pemerintah seorang diri. Dibutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat agar cita-cita Bondowoso yang sejahtera dan berakhlak mulia dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
“Pekerjaan ini bukan sesuatu yang sederhana dan tidak bisa dikerjakan sendirian. Dibutuhkan tekad, kerja sama, serta saling mendukung dalam berikhtiar dan memberikan pengabdian terbaik,” ungkapnya.
Muskercab I PCNU Bondowoso akhirnya menempatkan lima agenda tersebut sebagai pekerjaan bersama untuk periode 2026–2031. Menguatkan Jam'iyah, Merawat Jamaah, Menyiapkan Kader, Membangun Kemandirian dan Menghadirkan Kemanfaatan bukan hanya menjadi semboyan, tetapi menjadi ukuran sejauh mana “Satu Gerakan Besar NU Bondowoso” mampu diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Ujian berikutnya berada di lapangan: menyatukan program antarlembaga, menjaga soliditas internal, melahirkan kader, membangun kekuatan ekonomi umat dan memastikan keberadaan NU benar-benar menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat Bondowoso. (Rif)
Muskercab I PCNU Bondowoso, Dari Konsolidasi Organisasi hingga Ujian Kemandirian Umat

Penalaut
... menit baca
Dengarkan


Posting Komentar