BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Log Out

Penalaut.com
– Notifikasi pesan pendek dari grup komunikasi internal sekolah kejuruan swasta itu berbunyi tepat ketika roda sepeda motorku melintasi lubang jalan yang menganga di depan pintu gerbang besi. Pukul 06.48 WIB. Layar gawai pintar yang kujepit kaku di atas dasbor motor menampilkan deretan teks beruntun dari para guru senior. 

Semuanya memiliki draf pola yang seragam: mengirimkan lampiran foto surat keterangan dokter dari puskesmas atau tangkapan layar suhu tubuh di atas termometer digital. Tiga guru mata pelajaran produktif mendadak mengajukan izin sakit di hari yang sama, tepat ketika tim pengawas dari dinas pendidikan kabupaten dijadwalkan datang melangkah untuk memverifikasi draf akun e-Kinerja sekolah.

Namaku Dimas. Umur dua puluh tiga tahun, dengan status resmi di dalam buku induk kepegawaian yayasan sebagai staf tata usaha honorer merangkap operator data pokok pendidikan. Upah bulanan yang kuterima secara konstan dari bendahara sekolah sebesar empat ratus lima puluh ribu rupiah—jumlah kuantitas yang bahkan tidak pernah cukup murni untuk menutupi biaya pembelian paket kuota internet mandiri demi mengunggah belasan gigabyte berkas digital sekolah yang tak pernah selesai dikunci oleh peladen pusat kementerian.

Aku memarkir motor tua di bawah pohon talok yang daun-daun kecilnya mulai meranggas kering ditiup angin sore. Di sepanjang koridor selasar luar, suasana sudah mirip riuh rendah pelataran pasar malam. Seratus dua puluh murid dari jurusan teknik komputer dan jaringan terpaksa digabung menjadi satu kelompok besar di dalam aula semen lantai dua, karena tidak ada satu pun guru piket yang masuk mengisi jam pelajaran pertama. Mereka duduk berkerumun di atas lantai, beberapa asyik memainkan game daring di gawai masing-masing, sementara alat pengeras suara sekolah terus mendengung panjang tanpa pernah mengeluarkan suara pengumuman resmi.

Aku berjalan lambat menuju ruang Kepala Sekolah di ujung lorong sepi dengan memanggul tas ransel kanvas usang yang jahitannya sudah mulai lepas terkelupas di sudut bawah. Tugas kerja fisik pagi ini terasa teramat berat: menyinkronkan dua puluh empat akun platform merdeka mengajar milik guru-guru senior yang sebagian besar lembarannya masih kosong melompong dari bukti dukung sertifikat webinar. 

Kebijakan rekrutmen massal pegawai pemerintah dalam dua tahun terakhir telah menyedot empat guru terbaik di sekolah swasta kecil ini untuk bermutasi menuju ke sekolah-sekolah negeri di pusat kota. Mereka pergi melangkah membawa akun-akun mereka yang aktif, meninggalkan lembaga lama ini dalam kondisi lumpuh total secara administratif.

Pintu ruang kerja kepala sekolah tidak dikunci. Begitu aku melangkah masuk membelah keremangan, ruangan itu terasa sangat asing, steril, gersang, dan gila. Bau wangi konsentrat kopi hitam yang biasanya memenuhi rongga ruangan kini telah lenyap total, digantikan oleh aroma pengap udara lembap yang terjebak lama di balik tirai.

Komputer meja spesifikasi tinggi milik inventaris yayasan di atas meja kerja yang bersih itu mati membeku, layarnya yang kelabu pucat memantulkan bayangan wajahku sendiri yang tampak kusam akibat berminggu-minggu kurang tidur.

Di samping papan tik mekanis, tergeletak selembar kertas memo resmi bersurat kepala yayasan. Kujangkau kertas itu menggunakan ujung jemari tangan kiriku. Tulisan tangan Pak Teguh tertera di sana, bentuk aksaranya tampak tipis, kaku, dan ditulis dengan ketukan gerak yang terburu-buru.

“Mas Dimas, per hari ini SK penempatan resmi saya di sekolah negeri sudah aktif di dalam sistem badan kepegawaian negara. Akun admin sekolah dan paspor akses sistem integrated mutasi sudah saya catat di balik memo ini. Tolong atasi pemeriksaan tim pengawas dinas pagi ini. Anda masih muda, cekatan, dan paham sirkuit sistem digital, saya sangat yakin sekolah kita bisa melewati akreditasi daerah ini dengan martabat yang baik.”

Aku membaca memo pelarian itu sampai dua kali dalam diam yang pekat. Tidak ada rasa marah yang meledak, tidak ada pula letupan emosi cengeng yang lolos dari bibirku. Di era digitalisasi pendidikan yang timpang secara struktural ini, kesetiaan adalah jenis barang komoditas mewah yang sama sekali tidak memiliki nilai konversi pada struk belanja bulanan di minimarket kota.

Pak Teguh, pria necis yang bulan lalu berpidato berapi-api di depan komite sekolah tentang pentingnya "tetap bertahan di garda depan mencerdaskan raga anak bangsa," telah lebih dulu melompat menyelamatkan diri dari kapal yang bocor ini, tepat pada detik ketika indikator akun kepegawaian miliknya berubah warna menjadi hijau pekat di sistem pusat kementerian.

Dari balik jendela kaca yang buram oleh akumulasi debu jalan arteri, sebuah mobil minibus berpelat merah masuk bergerak lambat menuju area parkir halaman tengah. Dua orang pria paruh baya dengan seragam dinas cokelat khaki turun dari pintu tengah. Salah satu dari mereka membopong sebuah tablet digital berpelindung kulit hitam, sementara yang lain memegang jepitan bundel map jepit kaku. Langkah kaki sepatu pantofel mereka di atas lantai ubin koridor terdengar ritmis, konstan, dan menekan rendah laksana suara hitungan mundur sebuah mesin eksekusi.

Aku melabuhkan raga duduk di atas kursi kerja empuk peninggalan Pak Sastro. Kuhidupkan layar monitor di depanku, memasukkan kode kata sandi baru yang tertera di balik memo, lalu membuka dasbor utama pemantauan mutu sekolah. Di atas layar kaca yang jernih itu, grafik pemenuhan sasaran kinerja pegawai sekolah kami berada di zona merah pekat. Hanya dua belas persen yang terisi. Tim pengawas dinas itu akan melangkah masuk melewati ambang pintu dalam waktu kurang dari dua menit murni untuk menagih presentasi draf digital yang tidak pernah ada.

Jemari tangan kananku bergerak aktif menuju tetikus nirkabel. Aku menolak untuk membuka folder dokumen bukti dukung atau mencari file-file sertifikat palsu di mesin pencari murni untuk memanipulasi draf laporan tahunan. Aku justru mengarahkan kursor putih itu menuju ke menu pengaturan profil pengguna sistem informasi manajemen sekolah. Di sana, di dalam daftar nama staf, nama operator tata usahaku tertera di barisan paling bawah koordinat ruang.

Ku-klik nama Dimas Sanjaya. Sistem komputer kementerian menampilkan sebuah jendela konfirmasi kecil berwarna merah di tengah layar: "Apakah Anda yakin ingin menghapus hak akses pengguna ini secara permanen dari server pusat?". Ketukan langkah kaki pengawas dinas sudah berada tepat di depan pintu kayu. Gagang pintu kuningan berputar lambat dari luar.

Kutekan tombol 'Ya' dengan satu entakan klik yang dingin. Layar memproses sirkuit data selama satu detik yang ganjil, sebelum akhirnya memuntahkan sebaris teks pemberitahuan merah yang beku: Akses Ditolak. Pengguna Tidak Terdaftar di Dalam Sistem.

Pintu terbuka dengan sentakan pelan yang parau. Pria bertubuh tambun dengan seragam dinas cokelat khaki itu melangkah masuk membelah sepi, guratan wajahnya ketat tanpa menyisakan sebaris senyuman. Sepasang matanya yang tajam langsung menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya tertuju memaku perhatian padaku yang sedang menyampirkan tas ransel kanvas di bahu kiri.

"Mana Kepala Sekolah? Mana perangkat proyektor untuk menampilkan dasbor ketercapaian rencana hasil kerja guru hari ini?" tanyanya dengan frekuensi suara yang berat, langsung menuntut tanpa repot-repot meluncurkan aba-aba salam formalitas.

Aku bangkit berdiri dari kursi kerja, merapikan kerah kemeja batikku yang agak kusut akibat kelelahan harian, lalu mengambil gawai pribadiku dari atas meja marmer. Lembar memo pelarian milik Pak Teguh kubiarkan begitu saja tergeletak pasrah di samping papan tik komputer yang masih menyala menampilkan halaman log masuk yang kosong melompong.

"Pak Teguh sudah mutasi resmi ke sekolah negeri per detik ini, Pak. Dan nama saya sudah tidak ada lagi di dalam draf sistem admin sekolah ini," kataku pelan. Suaranya datar, garing, dan sepenuhnya bebas dari intonasi ketakutan yang biasanya ditunjukkan oleh para tenaga honorer di depan wajah pejabat dinas perkotaan.

Pria berseragam cokelat itu mengernyitkan dahi tuanya, melangkah mendekati meja kerja, menatap layar monitor yang berkedip meminta kata sandi baru kementerian. 

"Lalu siapa manusia yang harus bertanggung jawab atas draf data akreditasi sekolah ini? Kamu kan operator data pokoknya!" teriaknya lantang, suaranya meninggi memenuhi seluruh rongga ruangan yang sunyi.

"Bukan lagi per seperseratus detik ini, Pak," kataku pendek.

Aku berjalan melangkah melewatinya begitu saja, keluar membelah pintu ruang kepala sekolah, menyusuri koridor ubin semen yang retak-retak rambut. Di dalam aula atas, riuh gema suara seratus anak buruh yang kehilangan guru jam pertama masih terdengar bertalu-talu membelah langit siang yang garing. Aku terus berjalan menuruni tangga kayu, menuju ke koordinat tempat parkir sepeda motor di bawah pohon talok yang meranggas sepi.

Aku menghidupkan mesin motorku, membiarkan suara silindernya yang kasar memecah keheningan halaman sekolah, lalu bergerak aktif keluar melewati gerbang besi yang berkarat. Siang ini, aku akan berjalan lambat mendatangi gerai kopi waralaba di pusat kota murni untuk menyerahkan selembar draf riwayat hidup sebagai kru paruh waktu. 

Pekerjaan fisik di sana mungkin akan membuat urat kaki saya menderita varises karena dipaksa berdiri tegak delapan jam penuh di balik meja kasir. Namun setidaknya, sistem kasir di sana tidak pernah berlaku kejam: menuntut raga seorang anak manusia untuk bekerja gratis atas nama pengabdian palsu pada masa depan generasi bangsa.

Oleh: Dwi Scativana Isnaeni
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak