Perubahan posisi itu tentu bukan sekadar perpindahan ruang kerja. Ada perubahan konteks yang cukup besar. Ketika berada di luar pemerintahan, Rocky memiliki kebebasan lebih luas untuk mengkritik kebijakan, mempertanyakan keputusan penguasa, dan menawarkan pembacaan alternatif terhadap berbagai persoalan politik. Kini, sebagai anggota Wantimpres, pikirannya justru diharapkan masuk ke ruang pengambilan keputusan melalui mekanisme pertimbangan kepada Presiden.
Di sinilah pertanyaan publik menjadi menarik: apakah Rocky Gerung akan tetap menjadi Rocky Gerung yang selama ini dikenal publik? Pertanyaan tersebut bukan semata-mata soal keberanian berbicara. Lebih jauh, ini menyangkut konsistensi intelektual. Apakah seseorang tetap mampu bersikap kritis ketika kritiknya tidak lagi disampaikan dari luar pagar kekuasaan, melainkan dari ruangan tempat kekuasaan itu sendiri bekerja?
Rocky sendiri memberikan jawaban yang cukup tegas. Setelah dilantik, ia mengatakan bahwa posisinya memang berpindah dari luar ke dalam pemerintahan, tetapi sikap dan pandangannya tetap. Ia bahkan menggambarkan perpindahan tersebut sebagai perubahan posisi, bukan perubahan prinsip.
Pernyataan itu menarik karena sekaligus menjadi janji politik-intelektual. Rocky seolah mengatakan bahwa masuk ke lingkar pemerintahan tidak otomatis berarti menjadi bagian dari suara yang selalu membenarkan pemerintah. Justru, menurutnya, keberadaannya di Wantimpres dapat digunakan untuk menyampaikan pandangan kritis secara langsung kepada Presiden.
Rocky juga menegaskan bahwa fungsi Wantimpres bukan sekadar memberikan pujian kepada pemerintah. Ia menyebut lembaga tersebut perlu bersikap kritis terhadap kebijakan karena setiap kebijakan dapat menghasilkan dampak dan persepsi yang berbeda di tengah masyarakat. Menurut Rocky, pertimbangan tersebut membutuhkan kepekaan etis dan kemampuan membaca persoalan secara lebih mendalam.
Poin penting yang perlu diperhatikan publik:
- Rocky Gerung resmi dilantik sebagai anggota Wantimpres pada 2 Oktober 2026.
- Pelantikan dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.
- Rocky menjadi bagian dari 26 tokoh yang masuk dalam jajaran Wantimpres berdasarkan Keppres Nomor 107/P Tahun 2026.
- Rocky selama ini dikenal sebagai figur publik dengan pandangan politik yang kritis.
- Ia memiliki latar belakang pendidikan filsafat dari Universitas Indonesia dan pernah mengajar di UI selama sekitar 15 tahun.
- Ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam pendirian SETARA Institute, organisasi yang bergerak dalam penelitian dan advokasi demokrasi, HAM, serta kebijakan publik.
- Pelantikan dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.
- Rocky menjadi bagian dari 26 tokoh yang masuk dalam jajaran Wantimpres berdasarkan Keppres Nomor 107/P Tahun 2026.
- Rocky selama ini dikenal sebagai figur publik dengan pandangan politik yang kritis.
- Ia memiliki latar belakang pendidikan filsafat dari Universitas Indonesia dan pernah mengajar di UI selama sekitar 15 tahun.
- Ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam pendirian SETARA Institute, organisasi yang bergerak dalam penelitian dan advokasi demokrasi, HAM, serta kebijakan publik.
- Rocky mengatakan dirinya hanya berpindah dari luar ke dalam pemerintahan.
- Ia menyatakan sikap dan pandangannya tidak berubah meskipun kini berada di lingkungan pemerintahan.
- Rocky menyebut Wantimpres memiliki fungsi untuk memberikan pertimbangan secara kritis terhadap kebijakan.
- Karena itu, publik kini dapat menguji apakah kritik Rocky benar-benar tetap independen ketika disampaikan dari dalam kekuasaan.
Menariknya, tantangan terbesar Rocky sekarang bukan lagi membuktikan bahwa dirinya mampu mengkritik pemerintah. Itu sudah menjadi bagian dari citranya selama bertahun-tahun. Tantangan yang jauh lebih sulit justru membuktikan bahwa kritik tersebut dapat tetap hidup ketika dirinya memperoleh akses langsung kepada pusat kekuasaan.
Sebab, kritik dari luar dan kritik dari dalam memiliki risiko yang berbeda. Dari luar, seseorang dapat dengan bebas menunjuk kesalahan pemerintah. Dari dalam, seorang penasihat harus memahami bahwa kebijakan lahir melalui proses yang kompleks, melibatkan kepentingan yang beragam, keterbatasan anggaran, birokrasi, serta konsekuensi politik. Karena itu, kritik dari dalam harus lebih dari sekadar retorika. Ia harus mampu menawarkan pertimbangan yang tajam sekaligus konstruktif.
Di sinilah latar belakang filsafat Rocky menjadi relevan. Filsafat tidak hanya mengajarkan seseorang untuk mempertanyakan sesuatu, tetapi juga menguji alasan di balik sebuah keputusan. Jika fungsi itu benar-benar dibawa ke dalam Wantimpres, Rocky seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “mengapa kebijakan ini dibuat?”, tetapi juga “apakah kebijakan ini adil, rasional, efektif, dan sesuai dengan kepentingan publik?”
Posisi tersebut sekaligus membuka peluang baru bagi pemerintahan Prabowo. Pemerintah tidak hanya membutuhkan orang yang mengatakan “ya”. Pemerintah juga membutuhkan orang yang berani mengatakan “tidak” ketika sebuah kebijakan memiliki persoalan serius. Justru keberadaan penasihat yang kritis dapat menjadi mekanisme koreksi sebelum sebuah kebijakan menimbulkan masalah yang lebih besar.
Namun, ada satu syarat penting: kritik tidak boleh kehilangan independensinya karena jabatan. Ketika seorang intelektual masuk ke dalam pemerintahan, masyarakat berhak menguji apakah argumentasinya masih sama tajamnya. Jika sebelumnya Rocky mempertanyakan kebijakan pemerintah dari luar, publik kini dapat melihat bagaimana ia mempertanyakan kebijakan tersebut ketika berada di dalam.
Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Rocky telah berubah hanya karena menerima jabatan. Tetapi jangan pula langsung menganggap bahwa ia pasti akan tetap sama. Keduanya merupakan kesimpulan yang terlalu dini. Waktu dan rekam jejaknya sebagai Wantimpres yang akan menjawab.
Pemerintahan Prabowo juga menghadapi ujian tersendiri. Mengangkat figur kritis ke dalam lingkaran kekuasaan bisa menjadi langkah strategis jika pemerintah benar-benar memberi ruang bagi perbedaan pendapat. Tetapi jika suara kritis hanya digunakan sebagai legitimasi tanpa benar-benar didengar, keberadaan seorang pengkritik di dalam pemerintahan justru kehilangan makna.
Rocky pernah dikenal karena keberaniannya menggunakan bahasa yang keras dan argumentasi yang sering memancing perdebatan. Kini, masyarakat akan melihat bentuk baru dari keberanian tersebut. Bukan lagi seberapa keras ia berbicara di panggung publik, tetapi seberapa berani ia menyampaikan pertimbangan berbeda ketika berada di hadapan Presiden.
Pada akhirnya, masuknya Rocky Gerung ke Wantimpres bukan hanya cerita tentang seorang tokoh yang memperoleh jabatan. Ini adalah eksperimen politik yang menarik: bisakah seorang pengkritik tetap kritis setelah mendapatkan kursi di dekat kekuasaan?
Jawabannya tidak perlu dicari dari pernyataan hari ini. Jawabannya akan terlihat dari sikapnya ketika berhadapan dengan kebijakan yang kontroversial, ketika kepentingan pemerintah bertabrakan dengan kepentingan publik, dan ketika kritik yang paling sulit justru harus disampaikan kepada orang yang memberinya mandat.
Jika Rocky mampu mempertahankan keberanian intelektualnya, Wantimpres dapat menjadi ruang penting bagi kritik yang masuk langsung ke jantung pemerintahan. Tetapi jika kritik berubah menjadi pembenaran, publik tentu memiliki alasan untuk bertanya: apakah Rocky benar-benar pindah dari luar ke dalam, atau hanya pindah kursi?
Itulah pertanyaan yang sekarang berada di depan Rocky Gerung. Bukan lagi apakah ia berani mengkritik kekuasaan, melainkan apakah ia berani tetap kritis ketika kekuasaan memberinya tempat.
- Ia menyatakan sikap dan pandangannya tidak berubah meskipun kini berada di lingkungan pemerintahan.
- Rocky menyebut Wantimpres memiliki fungsi untuk memberikan pertimbangan secara kritis terhadap kebijakan.
- Karena itu, publik kini dapat menguji apakah kritik Rocky benar-benar tetap independen ketika disampaikan dari dalam kekuasaan.
Menariknya, tantangan terbesar Rocky sekarang bukan lagi membuktikan bahwa dirinya mampu mengkritik pemerintah. Itu sudah menjadi bagian dari citranya selama bertahun-tahun. Tantangan yang jauh lebih sulit justru membuktikan bahwa kritik tersebut dapat tetap hidup ketika dirinya memperoleh akses langsung kepada pusat kekuasaan.
Sebab, kritik dari luar dan kritik dari dalam memiliki risiko yang berbeda. Dari luar, seseorang dapat dengan bebas menunjuk kesalahan pemerintah. Dari dalam, seorang penasihat harus memahami bahwa kebijakan lahir melalui proses yang kompleks, melibatkan kepentingan yang beragam, keterbatasan anggaran, birokrasi, serta konsekuensi politik. Karena itu, kritik dari dalam harus lebih dari sekadar retorika. Ia harus mampu menawarkan pertimbangan yang tajam sekaligus konstruktif.
Di sinilah latar belakang filsafat Rocky menjadi relevan. Filsafat tidak hanya mengajarkan seseorang untuk mempertanyakan sesuatu, tetapi juga menguji alasan di balik sebuah keputusan. Jika fungsi itu benar-benar dibawa ke dalam Wantimpres, Rocky seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “mengapa kebijakan ini dibuat?”, tetapi juga “apakah kebijakan ini adil, rasional, efektif, dan sesuai dengan kepentingan publik?”
Posisi tersebut sekaligus membuka peluang baru bagi pemerintahan Prabowo. Pemerintah tidak hanya membutuhkan orang yang mengatakan “ya”. Pemerintah juga membutuhkan orang yang berani mengatakan “tidak” ketika sebuah kebijakan memiliki persoalan serius. Justru keberadaan penasihat yang kritis dapat menjadi mekanisme koreksi sebelum sebuah kebijakan menimbulkan masalah yang lebih besar.
Namun, ada satu syarat penting: kritik tidak boleh kehilangan independensinya karena jabatan. Ketika seorang intelektual masuk ke dalam pemerintahan, masyarakat berhak menguji apakah argumentasinya masih sama tajamnya. Jika sebelumnya Rocky mempertanyakan kebijakan pemerintah dari luar, publik kini dapat melihat bagaimana ia mempertanyakan kebijakan tersebut ketika berada di dalam.
Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Rocky telah berubah hanya karena menerima jabatan. Tetapi jangan pula langsung menganggap bahwa ia pasti akan tetap sama. Keduanya merupakan kesimpulan yang terlalu dini. Waktu dan rekam jejaknya sebagai Wantimpres yang akan menjawab.
Pemerintahan Prabowo juga menghadapi ujian tersendiri. Mengangkat figur kritis ke dalam lingkaran kekuasaan bisa menjadi langkah strategis jika pemerintah benar-benar memberi ruang bagi perbedaan pendapat. Tetapi jika suara kritis hanya digunakan sebagai legitimasi tanpa benar-benar didengar, keberadaan seorang pengkritik di dalam pemerintahan justru kehilangan makna.
Rocky pernah dikenal karena keberaniannya menggunakan bahasa yang keras dan argumentasi yang sering memancing perdebatan. Kini, masyarakat akan melihat bentuk baru dari keberanian tersebut. Bukan lagi seberapa keras ia berbicara di panggung publik, tetapi seberapa berani ia menyampaikan pertimbangan berbeda ketika berada di hadapan Presiden.
Pada akhirnya, masuknya Rocky Gerung ke Wantimpres bukan hanya cerita tentang seorang tokoh yang memperoleh jabatan. Ini adalah eksperimen politik yang menarik: bisakah seorang pengkritik tetap kritis setelah mendapatkan kursi di dekat kekuasaan?
Jawabannya tidak perlu dicari dari pernyataan hari ini. Jawabannya akan terlihat dari sikapnya ketika berhadapan dengan kebijakan yang kontroversial, ketika kepentingan pemerintah bertabrakan dengan kepentingan publik, dan ketika kritik yang paling sulit justru harus disampaikan kepada orang yang memberinya mandat.
Jika Rocky mampu mempertahankan keberanian intelektualnya, Wantimpres dapat menjadi ruang penting bagi kritik yang masuk langsung ke jantung pemerintahan. Tetapi jika kritik berubah menjadi pembenaran, publik tentu memiliki alasan untuk bertanya: apakah Rocky benar-benar pindah dari luar ke dalam, atau hanya pindah kursi?
Itulah pertanyaan yang sekarang berada di depan Rocky Gerung. Bukan lagi apakah ia berani mengkritik kekuasaan, melainkan apakah ia berani tetap kritis ketika kekuasaan memberinya tempat.
Oleh: Nashrul Mu'minin S.Pd,. C.PW,. C.IJ (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)



Posting Komentar