BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Nonton Konser, Tanda Ekonomi Sukses? Jangan-Jangan Kita Sedang Luput Membaca Kemakmuran

Penalaut.com
— Pernahkah kamu melihat tiket konser yang harganya jutaan rupiah, dan tetap ludes dalam hitungan menit? Atau melihat ribuan orang rela mengantre berjam-jam, berburu tiket, memesan hotel, membeli merchandise, bahkan berkelana ke kota lain hanya demi menyaksikan musisi favoritnya? Menarik, bukan?

Di tengah erangan tentang biaya hidup, sulitnya mencari pekerjaan, dan penghasilan yang terkadang “numpang permisi”, konser justru bisa menjadi lautan manusia. Stadion penuh hotel ramai, resto kebanjiran pelanggan, sampai media sosial dipenuhi keluh kesah pengalaman nonton konser.

Lalu, muncul satu pertanyaan, apakah fenomena ini merupakan tanda bahwa ekonomi kita sedang sukses? Tunggu dulu, jangan tergesa-gesa menjawab: iya. Sebab, persoalan ekonomi tidak sesederhana menghitung berapa banyak orang yang mampu membeli tiket konser.

Ekonomi Rame, Apakah Semua Orang Sejahtera?

Bayangin kamu lagi berjalan melewati sebuah stadion pada malam konser. Kendaraan memenuhi jalanan, pedagang makanan sibuk melayani pembeli, penginapan penuh, dan ribuan orang tampak begitu bahagia. Kalau sekilas melihat pemandangan itu, bukankah sangat wajar jika kita menyimpulkan bahwa ekonomi sedang bergerak?

Ya, tentu saja. Konser memang menggerakkan aktivitas ekonomi. Penjualan tiket menghasilkan revenue, pengunjung membutuhkan transportasi, pedagang kecil pun memperoleh penghasilan tambahan. Dalam bahasa ekonomi, aktivitas ini menciptakan transaksi, perputaran uang, dan peluang kerja. Bahkan, expense untuk hiburan dapat menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Selain kebutuhan pokok, manusia juga membutuhkan pengalaman, kebahagiaan, dan ruang untuk menikmati hidup.

Sekarang coba kita balik pertanyaannya. Apakah setiap pekerja yang membantu menyelenggarakan acara memperoleh upah layak? Apakah pedagang kecil mendapatkan manfaat sebanding dengan kenaikan biaya operasional? Dan, bagaimana dengan orang-orang yang harus mengurangi pengeluaran penting demi memenuhi kebutuhan hiburan?

Dari sini kita perlu berhati-hari. Ramainya transaksi ekonomi tidak otomatis berarti meratanya kesejahteraan.

Satu kota bisa terlihat sangat hidup, namun penduduknya belum tentu hidup layak. Uang berputar secara masif, namun manfaatnya terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Jadi, stop bertanya berapa banyak uang beredar. Tanyakan juga: uang itu beredar ke mana, berhenti di tangan siapa, dan sebesar apa manfaatnya bagi kehidupan masyarakat?

Biaya Hidup ≠ Gaya Hidup

Terus terang, saya begitu muak ketika orang tidak mampu membedakan biaya hidup dan gaya hidup apalagi sampai membicarakannya di tengah kondisi saat ini. Mengapa saya begitu mempermasalahkan hal ini? Karena keduanya memiliki diferensiasi, meskipun sering kali dicampuradukkan dalam keseharian. 

Sudah se-slow living ini di biaya hidup yang serba mahal masih saja disuruh nurunin biaya hidup. Biaya hidup ranahnya “Pelayan Rakyat” bos, hadeuh. Cari saja terminologi dari biaya hidup dan gaya hidup, teknologi HP udah nyampe era AI tapi kapasitas wawasan masih stuck di era SMS. HP-nya saja smart, orangnya tidak.

Baik, lalu di mana letak persoalannya? Persoalannya muncul ketika memperlakukan pilihan gaya hidup seolah semuanya merupakan kebutuhan pokok, kemudian menggunakan dalih mahalnya biaya hidup untuk membenarkan setiap pengeluaran yang sebenarnya masih bisa dipilih. 

Anggap saja sekarang harga beras sedang melambung, bahan bakar mahal, harga pakaian tidak terkira. Apakah kamu bisa begitu saja memilih untuk tidak membutuhkannya? Tidak semudah itu, kawan. Kamu tetap butuh makan, butuh bahan bakar untuk nyambut gawe, butuh baju ben ra isin. 

Lalu, kalau harga tiket konser mencapai jutaan rupiah, apakah wajib membelinya untuk memperoleh kehidupan layak? Tentu tidak. Kamu boleh membelinya, dan boleh tidak membelinya. Di situlah letak perbedannya. Biaya hidup berkaitan dengan kebutuhan untuk menjalin kehidupan, sedangkan gaya hidup berkaitan dengan pilihan tentang bagaimana kita ingin menikmatinya.

Kalau Semua Orang Bisa Nonton Konser, Apakah Pertanda Makmur?

Misalkan, sebuah laporan menunjukkan bahwa pengeluaran masyarakat untuk hiburan meningkat, apakah ini pertanda baik? Bisa jadi. Peningkatan pengeluaran hiburan dapat mencerminkan kepercayaaan, atau kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan dasar. Menjadi pertanda baik dalam kondisi tertentu. 

Di balik itu semua, pengeluaran hiburan bisa meningkat karena masyarakat mengalihkan anggaran dari kebutuhan lain. Ada pula orang yang memilih menghabiskan uang untuk pengalaman yang dianggap berharga, meskipun harus menunda pembelian barang lain. Keputusan tersebut tidak otomatis salah, tetapi kita perlu memahami konteksnya sebelum menarik kesimpulan tentang kesejahteraan.

PDB Naik, Bagaimana dengan Kesejahteraan?

Sebagian dari kamu tidak asing mendengar kata PDB. Kegiatan konser dapat berkontribusi terhadap PDB melalui jasa hiburan, transportasi, akomodasi, dan berbagi kegiatan ekonomi. Perlu diketahui juga, PDB bukan dimensi yang sempurna untuk penilaian komprehensif aspek kesejahteraan.

Mengapa? PDB lebih dominan mengukur aktivitas produksi, tidak secara langsung mengukur apakah pendapatan terdistribusi secara adil, apakah pekerjaan tersedia dengan layak, atau apakah masyarakat memiliki kesetaraan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal. Di sinilah kita perlu membedakan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi.

Mari kita tutup dengan pertanyaan: Apakah kita sedang membangun perekonomian yang membuat masyarakat semakin mampu menikmati hidup? Atau hanya perekonomian yang terlihat ramai ketika ada sesuatu yang dijual?

Memahami ekonomi perlu memperhatikan dinamika permintaan, pendapatan, pekerjaan, probability, ekonomi menuntut kamu melihat apa yang terjadi di balik angka-angka.

Oleh: Hasrul Maulana Kidam
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak