BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Avatar: Fire and Ash dan Pelajaran Mahal tentang Sok Cinta Lingkungan

Avatar: Fire and Ash
Penalaut.com
- Kalau Pandora di dua film sebelumnya terasa seperti brosur wisata ekologi, hijau, biru, rapi, dan bikin manusia merasa paling berdosa sedunia, maka Avatar: Fire and Ash atau Avatar 3 datang dengan wajah yang lebih kusut. Judulnya saja sudah kebakaran. Fire and Ash. Pandora kini bukan cuma indah untuk dikagumi, tapi juga lelah, marah, dan penuh abu. Film ini seperti bilang ke penonton, kalian masih mau ngomong soal cinta alam dengan nada romantis? Nih, silakan lihat konsekuensinya.

Sejak awal, waralaba Avatar memang bukan sekadar pamer CGI mahal. Film pertama memaki kolonialisme dengan cara halus tapi menyakitkan, film kedua mengajak kita menyelam sambil mikir ulang soal laut yang sering kita anggap tempat buang dosa. Avatar 3 melangkah lebih jauh ke wilayah yang lebih dewasa dan lebih bikin tidak nyaman. Ini bukan lagi cerita tentang siapa yang paling suci mencintai alam, tapi tentang betapa ribet dan kontradiktifnya usaha mempertahankan sesuatu yang sudah telanjur rusak.

Konservasi di Avatar 3 tidak tampil sebagai pelukan hangat antara makhluk hidup dan alam. Ia hadir sebagai debat kusir yang panjang, melelahkan, dan kadang berujung baku hantam. Pandora tetap megah, tetap cantik, tapi kini juga rapuh. Alam digambarkan bukan sebagai ibu yang sabar, melainkan sistem yang bisa marah kalau terus disakiti. Cinta pada alam di film ini tidak selalu berbentuk kelembutan, kadang ia hadir sebagai keputusan keras yang membuat semua pihak sama-sama berdarah.

Masuklah Suku Abu, klan baru yang hidup di lanskap penuh api, abu, dan gunung berapi. Kalau Na’vi sebelumnya identik dengan hutan dan air, tenang, mengalir, dan fotogenik. Suku Abu ini kebalikannya. Hidup mereka keras, panas, dan selalu di ambang kehancuran. Dari sanalah cara pandang mereka lahir. Alam bagi mereka bukan tempat meditasi, tapi medan tempur yang harus dihadapi setiap hari. Bertahan hidup bukan pilihan moral, melainkan keharusan.

Yang menarik, film ini tidak buru-buru memberi stempel jahat pada Suku Abu. Mereka bukan antagonis murahan yang tinggal ditunggu kalah. Mereka mencintai tanahnya, tapi dengan cara yang kasar dan pragmatis. Alam, bagi mereka, adalah sesuatu yang bisa membunuh kalau tidak ditundukkan. Di titik ini, Avatar 3 mulai mengacak-acak moral penontonnya. Kalau sama-sama mencintai alam, tapi caranya beda, siapa yang lebih benar? Film ini sengaja tidak memberi jawaban, dan membiarkan kita pulang dengan kepala penuh tanda tanya.

Konflik antar-klan Na’vi membuat Avatar 3 terasa lebih dekat dengan dunia nyata. Ancaman terhadap lingkungan tidak selalu datang dari manusia dengan mesin canggih dan seragam militer. Kadang, ancaman justru lahir dari perpecahan internal, dari beda tafsir tentang bagaimana alam seharusnya dijaga. Ini terasa familiar di dunia yang sering melihat komunitas adat saling berdebat soal tambang, bendungan, atau proyek pembangunan yang katanya demi kesejahteraan bersama.

Manusia, dengan seluruh keserakahannya, tetap hadir sebagai latar yang menyebalkan. Kapitalisme di Avatar 3 masih rakus, masih bising, masih doyan merusak. Bedanya, kali ini ia tidak sendirian. Kehancuran Pandora terasa lebih getir karena diperparah oleh konflik di antara para pembelanya sendiri. Seolah film ini ingin bilang bahwa kapitalisme paling efektif bekerja bukan hanya lewat alat berat dan senjata, tapi lewat infiltrasi cara berpikir, efisiensi, kekuasaan, dan pembenaran atas nama bertahan hidup.

Avatar 3 juga terasa lebih muram karena tidak menjual ilusi kemenangan heroik. Tidak ada satu aksi gagah yang langsung menyelamatkan segalanya. Setiap pilihan membawa konsekuensi, dan sebagian konsekuensi itu permanen. Kehilangan menjadi harga yang harus dibayar. Kampung halaman hancur, ikatan sosial retak, dan kematian tidak lagi sekadar alat dramatik, melainkan pengingat bahwa krisis ekologis selalu datang bersama krisis kemanusiaan.

Film ini pelan-pelan menegaskan bahwa ketika alam rusak, yang hilang bukan cuma pohon, laut, atau gunung, tapi juga ingatan dan identitas. Tradisi ikut terbakar, cerita-cerita ikut menjadi abu. Di titik ini, Avatar 3 berhenti menjadi kisah tentang Pandora dan berubah menjadi cermin dunia kita sendiri, banjir yang datang rutin, hutan yang tinggal nama, dan masyarakat yang dipaksa memilih antara hidup hari ini atau masa depan yang entah kapan datangnya.

James Cameron tetap memanjakan mata, tentu saja. Pandora masih cantik, bahkan ketika terbakar. Tapi keindahan itu kini berdiri berdampingan dengan kehancuran, seperti peringatan visual bahwa apa yang memesona hari ini bisa menjadi puing esok hari. Film ini tidak mengajak kita bertepuk tangan atas slogan penyelamatan lingkungan, melainkan menuntut kita duduk diam dan berpikir, sejauh apa kita mau berubah?

Avatar 3 juga menggugat gagasan kepahlawanan. Tidak semua pahlawan bersih dan benar. Ada yang harus memilih jalan abu-abu, ada yang harus memikul dosa demi mencegah kehancuran yang lebih besar. Film ini menolak romantisasi perjuangan lingkungan yang serba mulia dan fotogenik. Menjaga alam, kata film ini, sering kali berarti memilih di antara dua keburukan, dan menanggung rasa bersalah setelahnya.

Sebagai jembatan menuju kisah berikutnya, Avatar 3 bekerja dengan tenang tapi menghantui. Ia memperluas konflik, memperdalam luka, dan menegaskan bahwa masa depan Pandora, dan dunia kita, tidak hanya ditentukan oleh siapa musuh terbesar, tapi oleh bagaimana kita menghadapi perbedaan di antara sesama yang sama-sama mengaku peduli.

Pada akhirnya, Avatar 3 adalah cerita tentang kemunafikan yang pelan-pelan dibongkar. Tentang cinta pada alam yang sering berhenti di kata-kata. Tentang kemarahan yang lahir dari kehilangan, dan pilihan yang tidak bisa diralat. Pandora yang terbakar bukan sekadar latar fiksi, tapi peringatan halus bahwa hubungan kita dengan alam bukan warisan otomatis, melainkan tanggung jawab yang harus terus diperjuangkan, bahkan ketika perjuangan itu memaksa kita mengakui bahwa selama ini, kita juga bagian dari masalah.


Oleh: N.A. Tohirin
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak