BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Di Balik Seragam Guru yang Tak Lagi Menarik

Penalaut.com
- Guru salah satu pekerjaan yang mulia. Bisa dikatakan guru bukanlah pekerjaan namun, pengabdian yang tiada henti. Sosok guru merupakan sosok penting bagi masa depan bangsa dan negara. Dengan adanya guru semua pekerjaan bisa terjadi, hingga jabatan apapun bisa digapai karena seorang guru. 

Tak dapat dipungkiri jika keinginan menjadi guru adalah cita-cita mulia untuk esok hari. Bahkan, tersemat dan dirayakan pada hari guru. Penghargaan guru tidak hanya satu hari melainkan setiap hari adalah hari guru untuk kita bisa rayakan dan berikan kebahagiaan kepada mereka.
 
Namun, tidak untuk saat ini yang sudah beralih zaman. Dulunya seorang guru adalah mimpi besar bagi seorang anak saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Menjadi guru adalah keinginan orang tua dengan seragam yang khas dan bersepatu menjadi alasan kuat untuk mendidik anak agar menjadi guru. Tapi, tidak untuk saat ini yang sudah tak lagi menarik bagi kalangan generasi Z. 

Mengapa demikian? Apakah karena faktor internal atau memang tidak menyukai ? Pastinya terdapat faktor yang membuat mahasiswa tidak meminati menjadi guru.

Berikut faktor-faktor yang sudah tak lagi diminati menjadi guru yaitu:

Pertama, banyaknya tugas administrasi yang menumpuk sampai lupa dengan pendidikan dan pengajaran. Tuntutan yang terus menerus dan birokrasi yang ribet menjadikan ketidaknyamanan menjadi guru. Harusnya guru menjadi tempat ternyaman siswa saat belajar namun, tidak dengan kesibukan kertas yang terus dicetak setiap waktu.
 
Kedua, kurikulum yang terus berubah menjadikan guru sebagai korban atau eksperimen bagi atasan yang rakus hanya keinginan untuk program agar dana turun. Hal ini yang membuat seorang guru harus menjadi ultramen yang kuat dengan perubahan cuaca kurikulum setiap tahunnya. Didikan yang harusnya dapat terinternalisasi ke siswa malah menjadikan siswa harus pusing dan tidak nyaman bersekolah. Menteri yang berubah akan menjadikan kurikulum terus direvisi.
 
Ketiga, persoalan gaji yang bisa dibilang sangat kecil. Memang jika menjadi guru jangan melihat soal gaji. Namun, bangsa yang besar terlahir dari anak-anak yang di didik oleh guru yang dihargai. Namun, tidak untuk saat ini. Guru dicekoki dengan bahasa ikhlas tanpa memikirkan masa depan guru. Hal ini yang menjadikan guru sudah tak lagi diminati meskipun berseragam.

Keempat, pilihan karier yang lain lebih menjanjikan daripada guru. Pekerjaan yang terdapat di perusahaan lebih banyak peminat dikarenakan soal kesejahteraan dan gaji yang jauh lebih tinggi. Banyaknya orang yang lebih bekerja di perusahaan meskipun tuntutan yang keras namun, sesuai dengan yang dikerjakan namun, tidak untuk guru yang banyak tuntutan akan tetapi, tidak disejahterakan dan tidak dihargai oleh pemerintah.

Kelima, tekanan dan tuntutan sosial seringkali dihadapi oleh guru. Apalagi di zaman yang orang tua ikut serta karena anaknya dimarah karena salah menjadi ketidakwajaran di lembaga sekolah. Harusnya kesalahan yang dilakukan oleh siswa guru berhak menegur dan memarahi agar tidak menjadi manusia yang kurang baik. Tapi, tidak untuk orang tua sekarang yang menuntut guru karena mereka ibarat sudah membayar dan guru harus bisa segalanya.
 
Oleh karenanya, guru memang pahlawan tanpa jasa. Namun, sebagai bangsa yang besar perlunya penghargaan kepada guru. Karena presiden tidak akan jadi jika tidak ada guru. Dokter, pengusaha, bahkan menteri sekalipun tidak akan menjadi spesialis atau pandai jika tidak ada guru yang mendidiknya dari kecil. Hal inilah yang diinginkan guru, sebuah penghargaan dengan melihat masa depan guru bukan menjadi korban yang terus menerus terjadi setiap tahunnya.


Oleh: Rioga Fransistyawan, S.Pd
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak