Khidmah kerap dipahami secara dangkal sebagai kerja sukarela santri atau bentuk pengabdian tradisional kepada kiai. Cara pandang ini keliru. Dalam struktur pesantren, khidmah bukan aktivitas tambahan, melainkan mekanisme pendidikan yang disengaja. Ia bekerja sebagai teori pembentukan manusia yang menempatkan adab, tanggung jawab, dan relasi sosial sebagai fondasi pengetahuan. Pesantren tidak memisahkan ilmu dari etika, dan khidmah menjadi medium utama penyatuan keduanya.
Berbeda dengan pendidikan modern yang menekankan kemandirian individual sejak awal, pesantren justru menunda klaim otonomi intelektual sampai santri matang secara moral. Melalui khidmah, santri belajar melayani sebelum memimpin, mendengar sebelum berbicara, dan mengabdi sebelum diperolehkan pengakuan. Ini bukan romantisme tradisi, melainkan logika pedagogis yang jelas: pengetahuan tanpa kerendahan hati melahirkan kesombongan intelektual, bukan kebijaksanaan.
Dalam konteks sosial, khidmah juga berfungsi sebagai perekat komunitas. Pesantren tidak membangun kedisiplinan melalui kontrak formal dan sanksi administratif yang ketat, tetapi melalui internalisasi nilai. Santri patuh bukan karena diawasi, melainkan karena merasa menjadi bagian dari komunitas moral. Model ini berlawanan dengan pendidikan modern yang semakin transaksional, di mana relasi guru–murid sering direduksi menjadi hubungan penyedia jasa dan konsumen.
Praktik khidmah terlihat nyata dalam kehidupan pesantren. Di banyak pesantren salaf, santri senior menjalani masa khidmah setelah menyelesaikan jenjang kajian tertentu. Mereka tidak langsung “lulus” dan pulang membawa status alumni. Sebaliknya, mereka mengajar santri junior, mengurus perpustakaan kitab, membantu dapur pesantren, membantu pembangunan, atau mendampingi kiai dalam kegiatan sosial masyarakat. Tidak ada sertifikat, tidak ada nilai akademik, dan sering kali tidak ada pengakuan simbolik. Namun, justru pada fase inilah proses pendidikan paling menentukan terjadi.
Melalui khidmah, santri belajar mengelola ego, emosi, dan ekspektasi. Mereka memahami bahwa ilmu bukan alat untuk menaikkan status sosial, melainkan amanah yang harus dijaga dan dibagikan. Banyak kiai menilai kualitas santri bukan dari seberapa fasih ia menjelaskan kitab, tetapi dari cara ia mengabdi: apakah ia amanah, sabar, dan mampu menjaga etika dalam relasi sosial. Khidmah berfungsi sebagai kurikulum tersembunyi yang membentuk karakter jauh lebih dalam daripada ujian formal.
Tentu saja, khidmah tidak luput dari kritik. Sebagian kalangan menilainya sebagai bentuk feodalisme atau bahkan eksploitasi tenaga santri. Kritik ini tidak sepenuhnya salah, tetapi sering salah sasaran. Yang patut dikritik adalah penyimpangan praktik, bukan kerangka dasarnya. Setiap sistem pendidikan memiliki potensi penyalahgunaan. Pendidikan modern pun tidak bebas dari eksploitasi, baik melalui tekanan kompetisi berlebihan, komersialisasi pendidikan, maupun pengabaian kesehatan mental peserta didik. Menolak khidmah karena potensi distorsi sama kelirunya dengan menolak sekolah karena adanya kekerasan simbolik di dalamnya.
Argumen lain menyebut bahwa khidmah menghambat kemandirian dan kebebasan berpikir. Justru sebaliknya, Khidmah melatih santri untuk tidak tergesa-gesa mengklaim otoritas pengetahuan. Dalam era banjir informasi dan kecerdasan buatan, sikap ini semakin relevan. Pendidikan modern sering melahirkan individu yang cepat berbicara dan beropini, tetapi rapuh dalam pertimbangan etis. Pesantren, melalui khidmah, menunda suara agar tanggung jawab tumbuh lebih dulu.
Masalahnya, dunia pendidikan jarang mengakui khidmah sebagai teori. Pesantren terus diposisikan sebagai objek modernisasi, bukan sebagai sumber gagasan. Akibatnya, pendidikan nasional kehilangan peluang untuk belajar dari model pembentukan manusia yang telah teruji secara sosial. Selama teori hanya diakui jika lahir dari buku teks Barat dan indikator kinerja, khidmah akan terus dianggap praktik kuno.
Padahal, krisis pendidikan hari ini bukan krisis teknologi atau kurikulum, melainkan krisis orientasi. Pendidikan melahirkan manusia cakap, tetapi enggan terikat secara moral dengan sesamanya. Di titik inilah khidmah menawarkan koreksi mendasar. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dikuasai, tetapi tentang untuk siapa pengetahuan digunakan.
Jika pendidikan terus mengabaikan dimensi khidmah, maka yang lahir adalah elite terdidik yang terampil, tetapi terputus dari tanggung jawab sosial. Pesantren, dengan seluruh keterbatasannya, justru menunjukkan bahwa melayani bukan lawan dari berpikir kritis. Ia adalah prasyaratnya.
Oleh: Kholil Ridwan



Posting Komentar