BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Rekonsiliasi Relasi Adam-Hawa: Dari Kompetisi Menuju Kolaborasi

Penalaut.com
- Perdebatan pemikiran Margot Badran dengan Asma Barlas mengenai feminisme[1], sepertinya masih relevan jika dibahas dewasa ini. Pasalnya, ketika berbicara mengenai pro-kontra feminisme, keduanya—pro dan kontra, seakan tidak ada habisnya. Bahkan tidak jarang terjadi ketegangan yang membenturkan kaum laki-laki dan perempuan.

Jika sudah sampai demikian, maka perlu ditelaah kembali apakah terdapat kerancuan yang muncul di antara keduanya entah itu berupa perspektif maupun langkah secara praktis, sehingga menghilangkan esensi dalam hidup berdampingan, yakni terciptanya relasi welas-asih di antara wujudnya kemajemukan?

Dialektika tersebut juga kerap kali bergumul di kepala saya, seakan ada dua orang yang berdebat tiada habisnya mempertahankan argumen masing-masing. Namun, ketika dialektika individu saja tidak segera diselesaikan, maka akan muncul kemungkinan bias perspektif karena pertanyaan-pertanyaan yang timbul di kepala tidak segera ditindaklanjuti—tentu saja dengan usaha pemahaman yang lebih mendalam. 

Lantas bagaimana cara menyikapinya? Di sini saya tidak akan memaksakan sebuah penawaran apalagi solusi mengenai layak atau tidaknya feminisme ketika dijadikan sebagai paradigma. Namun, barangkali setelah kita membacanya, timbul dialektika untuk menggugah semangat intelektual yang sebenarnya sudah ada namun sering kita abaikan selama ini.

Dinamika Feminisme dalam Berbagai Rentang Masa

Pada mulanya, gerakan feminisme muncul dari belahan dunia Barat untuk menyuarakan dan memperjuangkan kesetaraan gender. Dalam perjalanannya, feminisme mempunyai banyak sekali aliran seperti: feminisme liberal, radikal, sosialis, dan masih banyak lagi. 

Di samping itu, terbentuknya periodisasi feminisme[2] dengan fokus perjuangan yang relatif berbeda muncul—bagi saya—salah satunya disebabkan karena berbagai perjuangan gerakan feminisme masih belum menyentuh akar rumput karena cenderung mendongkrak hak atas perempuan kulit putih dan mengesampingkan pembebasan terhadap perempuan kelas dunia ketiga. Sehingga dengan demikian, feminisme tidak bisa dijadikan sumber pemikiran secara mutlak karena hakikatnya, pembebasan digaungkan untuk mereka yang tertindas.

Meski demikian, ketika kita melihat pendapat Aquarina Karisma Sari dalam bukunya dengan judul Anti-feminisme yang mengungkapkan bahwa "feminisme yang sekarang menyimpang jauh dari tujuan utamanya, yakni: kesetaraan yang hakiki", jika ditelaah kembali, sebenarnya secara tidak langsung ia malah mengamini bahwa 'hakikat' dari feminis itu sendiri bernilai positif karena memperjuangkan kesetaraan. 

Mengenai redefinisi feminisme dari berbagai aliran yang mengutarakan bahwa laki-laki adalah sumber permasalahan yang harus dilawan dan lain sebagainya, itu muncul karena beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Sehingga banyak melahirkan stigma bahwa feminisme telah gagal dalam memperjuangkan hak perempuan. Padahal hal tersebut di luar hakikat dari feminisme itu sendiri.

Dengan demikian, feminisme tidak bisa dikatakan buruk secara universal karena jika kita melihat esensi feminisme dengan kacamata islam, antara feminisme dan islam mempunyai konvergensi: pembebasan terhadap perempuan yang tertindas.

Hal ini bisa dilihat dari teladan Rasulullah SAW yang membentuk revolusi terhadap perempuan suku Quraisy yang pada masa jahiliyah dianggap sebagai aib. Misalnya, pada masa tersebut ketika lahir seorang bayi perempuan maka ia harus dikubur hidup-hidup. Semenjak hadirnya Rasulullah SAW, kaum perempuan mempunyai derajat yang setara dengan laki-laki. Dan hanya takwalah yang membedakan di antara mereka[3].

Esensi Emansipasi Wanita: Bukan Melulu Mengenai Resistensi

Berbicara tentang pembebasan perempuan, maka secara otomatis kita juga membahas emansipasi. Entah itu dari perspektif islam maupun feminisme, emansipasi wanita bersuara untuk memperjuangkan kebebasan perempuan dalam mengaktualisasi diri. Bahwa, perempuan tidak hanya diletakkan dalam ranah domestik saja, melainkan juga berhak untuk berperan dalam ranah sosial, politik, kerja, ataupun yang lainnya.

Namun, sejauh ini lagi-lagi timbul redefinisi di dalamnya yang menganggap bahwa kata 'emansipasi' sama dengan perlawanan. Padahal jika dicermati, makna emansipasi adalah pembebasan. Dan ketika muncul kedzaliman, maka baru saat itulah harus ada perlawanan!

Mengenai pilihan para perempuan terhadap karirnya entah itu di ranah domestik, kerja, sosial, maupun politik, tidak ada yang superior di antaranya—bagi saya. Barangkali ketika seorang perempuan memutuskan menjadi ibu rumah tangga, saat itulah ia merasa berharga karena berhasil menciptakan perspektif dalam lingkungan keluarganya bahwa rumah adalah tempat pulang yang sebenarnya. 

Pun ketika mereka memilih terjun di ranah politik, barangkali karena mereka merasa bermanfaat saat dapat menciptakan kemaslahatan bagi umat. Dan masih banyak kemungkinan yang tidak dapat kita pastikan. Karena pilihan itu muncul selain dari keinginan, juga berasal dari tuntutan.

"Tapi dalam islam, perempuan diperintahkan untuk di rumah saja."

Ungkapan tersebut muncul dari pemahaman dalil agama yang ditelan secara mentah-mentah. Padahal jika kita melihat sejarah Islam, banyak sekali teladan perempuan di dalam Al-Qur'an yang bisa kita contoh. Sebut saja diantaranya peran Sayyidah Asiyah ra. (Istri Fir'aun) dalam ranah domestiknya, Sayyidah Khadijah ra. dengan kesuksesan berdagangnya—sehingga menjadi salah satu support system untuk dakwah Rasulullah SAW, serta Sayyidah Aisyah ra. dengan kecerdasan intelektual-politiknya. 

Tinggal kita saja—selaku perempuan, ingin mengaktualisasi diri dalam ranah yang mana. Jadi, masih mau memperdebatkan peran mana yang paling kuat di antara berbagai ranah tersebut?

Sisi Gelap Sistem Patriarkial Bagi Kaum Adam

Diterima atau tidak, sebenarnya sistem patriarkial juga merugikan laki-laki karena mereka dituntut untuk selalu menjadi superior. Mereka tidak boleh terlihat lemah, sedih, mengeluh, dan lain sebagainya. Jika dipikirkan kembali, bukankah patriarki juga membuat kaum laki-laki kelabakan karena mendapat 'kewajiban' untuk tetap menampakkan maskulinitasnya? Padahal secara hakikatnya setiap manusia pasti pernah mengalami titik terendahnya.

Pada ranah domestik, kita sering menggaungkan al-ummu madrasah al-ula namun lupa dengan satu hal: tanggung jawab nafkah suami terhadap istrinya bukan hanya dalam segi lahiriyah namun juga bathiniyah—dalam hal ini bukankah intelektualitas istri juga merupakan tanggung jawab suami? Di samping itu, apakah pendidikan anak merupakan tanggung jawab ibu sepenuhnya? Lantas, di mana peran seorang ayah bagi buah hatinya?

Dalam sebuah penelitian, psikologi seorang anak yang mengalami fatherless akan menimbulkan sifat rendah diri, mudah ragu-ragu dalam berbagai situasi, bahkan cenderung lari dari masalah[4] karena kehilangan peran seorang ayah. Jadi, sudah barang tentu hidup yang berdampingan membutuhkan sebuah kesinambungan.

Sebuah Epilog: Wadon Konco Wingking, Sanding, Nanting, lan Sangking

Seringkali stereotip untuk kaum perempuan diwujudkan dengan ungkapan macak, manak, masak. Padahal ada ungkapan lain yang dapat menghidupkan peran perempuan selaku penentu kualitas umat, yakni: wadon konco wingking, sanding, nanting, dan sangking sehingga tidak menjadikan perempuan sebagai objek semata.

Konco wingking, istilah jawa wingking yang mempunyai arti belakang bukan berarti menempatkan perempuan dalam keterbelakangan. Melainkan dalam keberhasilan, pastilah ada support system dibaliknya. Sikap saling mendukung akan lebih mendulang suksesinya sebuah rencana daripada saling meremehkan.

Konco sanding, kaum perempuan sebagai teman hidup bagi kaum laki-laki sudah sepatutnya hidup berdampingan dan berkesinambungan. Karena hakikatnya, Tuhan menjadikan bumi seisinya dalam keadaan berpasang-pasangan untuk saling mengisi bukan menyaingi, saling melengkapi bukan mengurangi, saling menutupi kekurangan bukan menuntut kelebihan.

Konco nanting (teman berdiskusi dan berbagi), sebuah keputusan tidak bisa diukur dari segi akal pikiran saja, namun juga membutuhkan pendekatan afektif. Di dalamnya, peran perempuan yang secara fitrah mempunyai kelebihan 'perasa' mampu mengajarkan kebutuhan akan tepa-selira, sehingga mampu menekan sisi egois yang muncul dalam pribadi seseorang yang mengedepankan logika semata.

Konco sangking, di dunia yang sudah semakin tidak karuan ini, terkadang kita juga membutuhkan senda-gurau sebagai hiburan untuk meminimalisir tingkat stress. Di samping itu, senda-gurau juga berfungsi untuk menguatkan hubungan emosional antar individu dan mengeluarkan mereka dari hubungan yang bersifat formalitas semata.

Dengan demikian, daripada banyak menuntut, bukankah lebih baik kita saling memberi dan melengkapi? Tanpa berdebat soal mana yang lebih utama antara laki-laki dan perempuan. Sehingga kehidupan yang semula ajur mumur lambat laun menjadi subur makmur, baldatun thayyibatun warobbun ghafur.

Wallahu a'lam

Oleh: Wadon Bumi

Catatan:
[1] Lihat Anna King & Fatima Seedat, Feminisme, Islam, dan Islam Feminis, (Penerbit Osiris), hlm. 4.
[2] Selengkapnya baca Margaret Walters, Feminisme, Sebuah Pengantar Singkat, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2021). Didalamnya, Margaret Walters menjelaskan periodisasi feminisme mulai dari awal mula terbentuknya istilah feminisme, feminisme abad ke-18, ke-19, awal abad ke-20, akhir abad ke-20, serta feminisme dalam kacamata dunia.
[3] Lihat QS. Al Hujurat(49): 13
[4] Lihat Munjiat, SM (2017). Pengaruh fatherless terhadap karakter anak dalam perspektif Islam. Al-Tarbawi Al-Haditsah: Jurnal Pendidikan Islam , 2 (1), 108-116.
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak