BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Memori Pagi dari Sisa Kehangatan

Penalaut.com
– Seperti kata Leila S. Chudori dalam novelnya, "Pulang": Setiap kenangan adalah fragmentasi waktu yang terukir dalam ruang batin kita. Sebuah narasi yang tepat ketika aku menggambarkan cerita selama melaksanakan program pengabdian di salah satu Desa yang terletak di Lereng Gunung Raung Kabupaten Jember. 

Kenangan itu bukan hanya sekadar ingatan, tetapi bagian integral dari perjalanan yang memberi makna dan warna pada eksistensi kita. Pengalaman selama kurang lebih 37 hari bagiku bersama mahasiswa lainnya telah meninggalkan jejak yang mendalam. Aku kira, ini mungkin hanya tentang menjalankan program, memenuhi kewajiban akademis, dan menyelesaikan laporan. Lebih dari itu, tentang memori yang diam-diam tertinggal diantara perjumpaan singkat, percakapan yang tak sempat dicatat, dan wajah yang kelak hanya hidup dalam ingatan.

Awal aku pikir tentang pengabdian ini tak lain hanya program tuntutan bagi mahasiswa dalam menuntaskan Tridharma Perguruan tinggi. Karena menurutku dari sekian blog yang seliweran di media digital, cerita pengabdian hanya menyuguhkan program yang sebenarnya sudah gak relevan lagi dengan kebutuhan masyarakat. Lantas apa kabar dengan program pengabdianku nanti. Sungguh berat hati ketika menjalani pengabdian pada nyatanya tidak memberikan impact terhadap masyarakat. Demikian yang selama ini cukup menghantui pikiran sebelum berangkat menuju Posko tempat yang akan aku tinggal nanti.

Tak ada yang kukenal dengan teman kelompok pengabdian ini, semua merupakan wajah yang baru masuk dalam kehidupanku. Namun justru dari ketidakbiasaan itu, aku belajar membuka diri, menanggalkan rasa canggung, dan mulai merangkai cerita bersama orang-orang yang sebelumnya asing. Termasuk dengan dia yang tak pernah aku pikirkan akan sejauh ini.

Pada hari pertama kegiatan survei dimulai, suasana pagi terasa begitu sibuk dan penuh semangat, kecuali diriku dengan perasaan yang sedikit berat. Aku menatap balai desa dengan pandangan yang gamang. Bukan karena aku tak ingin ikut, tapi ada sesuatu yang menahanku—sebuah keadaan yang tak bisa kutawar. Entah rasa apa pada saat itu yang membuatku terasa mengganjal. Segara kutepis segala perasaan negatif, kemudian tak ingin ada jarak di hari pertama, aku segera melangkahkan diri berhambur dengan teman kelompok lainnya. Bergegas mengambil sapu dan bekerja bakti.

Dengan napas yang tertahan dan sedikit lega, aku mendapat kabar bahwa esok hari akan ada presentasi proposal penelitian. Dengan penuh keraguan aku menginformasikan ke koordinator desa (kordes) yang kusebut namanya Aldi untuk meminta izin pulang dan mempersiapkan bahan penelitian. Ia menatapku beberapa detik lebih lama. Sebelum mengizinkanku mengikuti kegiatan tersebut.
 
Dengan suaranya yang agak sedikit berat ia berkata "Besok kalau udah selesai, langsung kesini".

Aku mengangguk pelan. Aku paham posisiku disini sebagai sekretaris dan pasti segera dibutuhkan.

*

“Kesini kapan mean?"

Mendapati pesan Whatsapp dari si Aldi, selaku Kordes. Kali ini kesan menggerutuku dalam pengabdian menambah satu. Sebenarnya enggan rasanya membalas pesan itu, karena aku belum benar-benar siap untuk kembali ke tempat yang bahkan belum sempat terasa seperti “rumah”. Dan bagaimanapun hal ini segera aku tuntaskan.

"Belum selesai, Al. Sepertinya presentasinya bakal sampai malam. Semisal saya pulang besok. Gimana?

"Beneran malam? Ya, besok pagi banget sudah harus ada di sini. "

Damn, terikat oleh waktu seperti itu benar-benar tidak kusukai. Perasaan jengkel dan pasrah bercampur menjadi satu, perlahan menggerogoti suasana hatiku. Namun, pada akhirnya aku tak punya pilihan selain menerima—kali ini, aku kembali mengalah pada keadaan.

*

Malam merangkak perlahan di atas lereng Gunung Raung. Angin menyelusup dingin, membelai daun-daun pepohonan yang rapat, suara bising nyamuk seolah membisikan bahwa program pengabdian ini akan berjalan ceria dan lancar. Malam pertama pengabdian itu, pikiranku kembali dipenuhi rasa was-was. Mataku pun enggan terpejam, seolah tertahan oleh kegelisahan, hingga akhirnya adzan Subuh berkumandang.

Selepas Sholat, aku berniat untuk membuka laptop menyelesaikan laporan penelitian. Setidaknya kesibukan menulis ini menjadi hiburan di tengah tidak kerasan-ku di tempat baru. Aku segera beranjak ke kantor desa, karena hanya disana aku bisa mengakses internet. 

Tak berselang lama. Aldi menghampiriku, bertanya "tidur jam berapa tadi malam?"

"Gak tidur". 

Dia tahu aku lagi di fase beradaptasi, terdengar hembusan napasnya yang berat, lalu ia duduk di sampingku menyisakan jarak 2 meter. Setelah itu, ia membuka kitab yang sedari tadi ada di genggamannya.
 
Hembusan angin di saat itu juga begitu terasa hangat. Menyisakan deritan mesin ketik dan suara lantunan ayat yang perlahan terdengar tenang. Mendengar orang mengaji memang sudah menjadi hal lumrah dalam hidupku. Di rumah ibu pun selalu mengaji. Tapi mendengar orang mengaji di saat aku tak lagi di samping ibu, seolah membawa napas baru, menghadirkan rasa yang berbeda. Barangkali ini cara Tuhan membisikkan kepadaku rumah bukan hanya tentang tempat, melainkan ia hadir dalam lantunan yang kita kenali dan kebiasaan yang terasa dekat.
 
Semenjak saat itu, aku sering kali datang lebih pagi ke Balai Desa—bukan hanya untuk melanjutkan tugas penelitianku atau sekedar membaca buku, tetapi juga untuk diam-diam mendengarkan ia mengaji, yang entah mengapa selalu membuat hatiku tenang. Seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan ada hal aneh yang mulai menggerogoti perasaanku. Aku tersadar sepertinya ada yang lebih manis dari madu, ada yang lebih rumit daripada kisah Qays dan Layla, bahkan lebih sulit kujelaskan dari metodologi Cresswel.
 
"Lagi ngerjakan apa?", mendengar ia seperti mengajakku berbicara, lamunanku buyar.

Aku tersentak lalu berusaha mungkin menutupi kegugupanku. Bisa gawat kalau aku dari tadi memperhatikannya. Gumamku sambil menatap layar. 

"Lagi ngerjain penelitian, sama artikel populer", aku menjawab dengan ekspresi datar, bukan karena apa tapi takut salting-ku bisa terlihat olehnya.
 
*
 
Seiring waktu, kenyamananku menjalar di berbagai aktivitas. Mulai dari diskusi, menonton film, dan bertukar lagu dengan berbagi earphone. Aku tersadar bahwa langkahku terlampau jauh meletakkan kenyamanan ini di lubuk hati. Hal yang harus segera ku kendalikan dengan membatasi interaksi dan kontak langsung dengan dirinya.
 
Mendengar kabar bahwa ia sudah memiliki pasangan, ada perasaan sedikit lega dan terluka di waktu bersamaan. Sejak saat itu pula aku berusaha menempatkan diriku kembali pada ruang yang semestinya. Sebab tidak semua rasa harus diperjuangkan, dan tidak semua kedekatan harus dilanjutkan.

Pagi tetap seperti biasa. Hanya saja kali ini aku jarang pergi ke Balai Desa, jika tidak mendapat urusan mendesak. Kala itu di suatu pagi yang lengang, pernah kudapati dirinya sedang mengaji di emperan Balai. Sebelum ia melihatku, Aku berhenti sejenak, lalu perlahan, ku urungkan langkah dengan membiarkan tempat itu tetap menjadi milik dia seutuhnya.
 
Namun anehnya, semakin aku membuat jarak, perasaanku bercampur tak karuan. Aku kalap dengan diriku sendiri. Perasaan yang sedari awal tak kuinginkan, justru perlahan tumbuh mendalam. Dan pada akhirnya, aku mengerti bahwa yang paling sulit bukan soal jarak, melainkan berdamai dengan diriku sendiri. Menambal luka dan menata ulang semuanya.
 
Pada hari terakhir pengabdian, aku terbangun dari tidurku. Sayup-sayup terdengar seseorang mengaji. Entah mengapa, suara itu terasa begitu menggema di telingaku padahal jarak antara ia dan tempatku beristirahat lumayan agak jauh. Beberapa menit aku menatap dirinya di balik jendela. Sesekali aku merasakan betapa indahnya ketika suara itu akan selalu terdengar dalam hidupku. Namun aku tahu hal ini berat bila akan terjadi.
 
Teringat beberapa wejangan dari Ning Khilma Anis dalam novelnya, Hati Suhita: "Bersabar menunggu cinta seseorang memang pedih, tapi meninggalkan seseorang yang kita cintai juga tidak kalah pedih. Keduanya luka, keduanya penuh air mata.Tapi kita ini wanita. Wanita itu artinya "Wani tapa". Berati bertapa. Wanita harus tetap tenang menghadapi apapun. Tenang setenang-tenangnya dan terus berhubungan dengan yang maha Kuasa itu yang disebut tapa."

*

Life after pengabdian. Hidupku kembali berjalan seperti biasa, mencoba melanjutkan semuanya—kuliah, penelitian, menulis, dan hal-hal yang sempat kutunda. Namun, sesekali ingatanku kembali pada pagi-pagi itu. Menjadi hal yang lumrah rindu selalu hadir tanpa direncanakan, mengetahui hal ini. Aku pun tak berusaha menghubunginya. Membiarkan seolah-olah semua berjalan baik-baik saja.
 
Tak berangsur lama, aku dikabarkan olehnya bahwa artikel jurnal pengabdian kemarin ternyata diterima oleh salah satu rumah jurnal dengan catatan beberapa bagian perlu direvisi dan ditambahkan. Tentu dalam hal ini aku kembali berkomunikasi dengannya untuk mendiskusikan artikel tersebut. Dari sana kedekatan kami mulai terasa kembali. Namun aku tekankan lagi pada diriku bahwa tidak semua rasa perlu diberi ruang yang sama.

Namun ketenangan itu tak berangsur lama. Terus-terusan seperti itu membuat perasaanku menyeruak. Aku memberanikan diri untuk jujur atas perasaanku sendiri. Bukan perasaan lega yang kudapat, melainkan awal mula dari kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan yang justru menuntut kebencian terhadap diri sendiri. Dan, yang seharusnya tak perlu aku tahu tentang dirinya.
 
“Maaf Al, jika kejujuranku merusak mood-mu, aku berterus terang ini karena aku berusaha memahami diriku, posisiku, keadaanku, dan perasaanku. So kamu tak perlu bertanggung jawab atas apapun itu” ujarku melalui pesan whatsapp dengannya. Tak berselang lama aku melihat notifikasi darinya.
 
"Aku akui, memang aku jadi lebih semangat kalau punya teman seperti kamu—terutama dalam hal menulis. Padahal sebenarnya aku sudah punya “lampu”, tapi redup karena tidak ada teman, tantangan, dan relasi. Sejak kenal kamu dan melihat sifatmu yang sangat bersemangat dalam menulis, rasanya lampuku jadi semakin terang."
 
Membaca pesan darinya, entah mengapa dada ini terasa semakin sesak. Segala keambiguan seakan berkumpul dalam ruang sempit—membuatku terjebak di antara melangkah maju atau berpaling dan bergerak mundur. Kehadiranku mungkin sangat berarti dalam hidupnya, memiliki relasi yang mempunyai passion yang sama, memang menambah kesemangatan. Namun, ada sisi lain yang justru membuat kegelisahan ini kian bertambah. Semakin bertahan, justru semakin terasa berat.
 
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Bukan maksud memilih perasaanku tetap terjaga. Namun aku pergi karena ingin memiliki kehidupan yang utuh. Aku tidak ingin menjadi pilihan ataupun menjadi separuh.
 
"Aku gak bisa tetap di posisi seperti ini Al, perihal menulis tetaplah berproses di dalamnya. Tulisanmu sudah bagus, dan aku juga gak mau kamu berhenti menulis". 

Aku balas chat-nya dengan tangan gemetar, aku tahu perasaan ini sudah berada di ubun-ubun. Dan pada saat itu juga kesunyian malam terasa berjalan dengan sangat panjang.
 
Cinta yang hadir belakangan memang akan membuat dilema. Di satu sisi, perasaannya yang ingin diakui dan diterima; namun di sisi lain, keadaan seolah menuntutnya untuk tetap dipendam dan diabaikan. Aku tahu bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri, baik diakui ataupun tidak. Cinta akan tetap menemukan caranya untuk tumbuh, meski tak selalu menemukan tempat untuk berlabuh.
 
Aku bersandar dengan sahabatku Mbak Dian, yang sedari awal sudah tahu seluruh cerita perasaanku. Aku berusaha untuk menenangkan diri, merapikan kembali perasaan yang sempat berantakan, seolah mencari tempat paling aman untuk menyimpan segala yang tak bisa lagi ku ungkapkan. Di hadapannya, aku tak perlu berpura-pura kuat—cukup menjadi diriku yang rapuh, yang sedang belajar menerima bahwa tidak semua yang diperjuangkan harus dimiliki. Di tengah keheningan malam itu, aku diberi ruang olehnya. ceritaku didengar, perasaanku begitu dipahami, dan dia aku tidak sendirian menghadapi semua ini.

"Wes mbak, patah hati dengan keputusan yang baik itu nggak apa-apa. Perempuan seperti kamu pasti banyak yang menyukai. Apalagi perjalananmu masih panjang—katanya kamu juga mau ke Jogja. Siapa tahu jodohmu justru kamu temukan di sana". Ujar Mbak Dian, sahabatku yang paling tulus mendengarku bercerita apapun.
 
Aku paham, ia berusaha menghiburku dengan tidak membiarkanku terlarut semakin dalam. Karena pada nyatanya, belajar ikhlas melepaskan jauh lebih sulit daripada belajar mencintai dan perasaan ingin dicintai.
 
Ning Khilma Anis pernah berkata "Kalau kita legowo, itu berarti kita yang menang. Menang melawan kenangan. Menang melawan perang di dada kita sendiri". 

Pulihlah bersama waktu, sembuhlah bersama kesibukan, lalu lupakan tanpa melibatkan orang lain.
 
Tamat

Oleh: Novia Ulfa Isnaini, Mahasiswa UIN KH. Achmad Siddiq Jember
1 komentar

1 komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak
  • Anonim
    Anonim
    21 April 2026 pukul 13.06
    setiap katanya membuatku masuk dalam cerita 🥹❤️
    Reply