BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Ny. Hj. Djuwairiyah Fawaid Ajak Santri Putri Sukorejo Lebih Mengenal Kalender Hijriah

Penalaut.com
– (Situbondo) Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di lingkungan Ma'had Putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo menjadi momentum edukasi keislaman bagi ribuan santri putri. Dalam kesempatan tersebut, Nyai Hj. Djuwairiyah Fawaid, M.Pd.I., Ph.D. mengajak para santri untuk lebih mengenal dan memahami kalender Hijriah sebagai bagian penting dari identitas umat Islam.

Kegiatan yang berlangsung di Halaman Ma'had Putri, Selasa (16/6/2026), dihadiri oleh Nyai Hj. Nur Sari As'adiyah, M.Pd., Nyai Hj. Mahsusi Zakiya, S.Ag., Nyai Hj. Afwah Maqbullah, S.Pd.I., jajaran ahlul bait, pengurus pesantren, umana ma'had, serta seluruh santri putri asrama pusat dan cabang.

Dalam sambutannya, Nyai Djuwairiyah menjelaskan bahwa Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan memanfaatkan keutamaan yang terdapat di dalamnya.

Menurutnya, Muharram memiliki keterkaitan erat dengan dua bulan sebelumnya, yakni Dzulqa'dah dan Dzulhijjah. Ketiga bulan tersebut termasuk bulan-bulan yang dimuliakan sehingga berbagai amal kebaikan yang dilakukan akan memperoleh ganjaran yang berlipat ganda.

Ia menuturkan bahwa keberuntungan besar bagi seorang muslim adalah ketika mampu menjaga konsistensi ibadah sejak Dzulqa'dah, meningkat pada Dzulhijjah, dan terus berlanjut hingga Muharram. Momentum tersebut dinilai sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Selain mengulas keutamaan Muharram, Nyai Djuwairiyah juga menyoroti pentingnya memahami sistem penanggalan Hijriah. Ia menilai banyak umat Islam yang lebih mengenal kalender masehi dibandingkan kalender yang menjadi dasar berbagai ibadah dalam Islam.

Padahal, kata dia, banyak ketentuan syariat yang menggunakan perhitungan Hijriah, mulai dari puasa, zakat, hingga berbagai momentum ibadah lainnya. Karena itu, umat Islam perlu membiasakan diri mengenali bulan dan tahun Hijriah dalam kehidupan sehari-hari.

Nyai Djuwairiyah juga menjelaskan bahwa perhitungan usia manusia dalam kalender Hijriah berbeda dengan kalender masehi. Selisih hari dalam setiap tahunnya membuat usia seseorang dalam hitungan Hijriah bisa lebih besar dibandingkan usia yang selama ini dikenal melalui kalender masehi.

"Karena itu kita harus lebih akrab dengan kalender Hijriah. Jangan sampai hanya mengetahui tanggal lahir masehi, tetapi tidak mengetahui tanggal lahir Hijriah," pesannya di hadapan para santri.

Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Nyai Djuwairiyah mengajak seluruh santri menghafalkan urutan bulan-bulan Hijriah secara bersama-sama. Ribuan santri tampak antusias mengikuti penyebutan nama-nama bulan Islam dari Muharram hingga Dzulhijjah.

Tidak hanya itu, para santri juga diajak mengenal penyebutan bulan-bulan Hijriah dalam bahasa Madura, seperti Sora, Sappar, Molod, Rasol, Dilawwal, Dilakhir, Rejjeb, Rebbe, Pasah, Sabel, Takepek, dan Tacellet. Suasana kebersamaan pun semakin terasa ketika seluruh peserta mengikuti hafalan tersebut secara serempak.

Kegiatan peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah itu juga diisi mauizah hasanah oleh Ust. Afif Sabil, M.Pd. dan Dr. Maskuri, M.Pd.I., serta penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba Kirab Munfarijah dan Master Chef Santri. Melalui kegiatan tersebut, pesantren berharap para santri tidak hanya merayakan pergantian tahun Hijriah, tetapi juga semakin memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak