Beragam latar belakang menghadiri acara ini, mulai dari agamawan, budayawan, sastrawan, hingga pelajar dan mahasiswa. Suasana keakraban dibalut dalam penampilan musik akustik, pembacaan puisi bernuansa kritik sosial, diskusi interaktif, serta pembacaan syair sastra Jawa.
Lukman Elha Abdillah, akrab disapa Gus Lukman, mengatakan bahwa Srawung Dulur merupakan ruang terbuka bagi siapa saja untuk belajar dan mengambil hikmah melalui berbagai bentuk ekspresi seni.
"Srawung itu tempat bagi siapa pun yang ingin mengambil hikmah. Entah itu dari lirik musik maupun bait puisi," ucap Lukman.
Dalam diskusi kali ini, perhatian peserta diarahkan pada lagu Mangan Turu karya Arif Citenx. Melalui liriknya, lagu tersebut menggambarkan kegelisahan terhadap kondisi sosial-politik bangsa, terutama persoalan kebijakan pemerintah yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Arif Citenx mengungkapkan bahwa lagu tersebut lahir dari kegelisahan pribadinya dalam melihat situasi dan kondisi bangsa.
"Lagu ini merupakan hasil dari luapan uneg-uneg saya, yang menggambarkan situasi kondisi bangsa ini," kata Arif.
Kegelisahan itu tergambar dalam penggalan lirik Mangan Turu:
"Urip Tansoyo Susah, Dibatesi Pemerintah, Soyo Suwe Lek Ra Betah, Iso Iso Uteke Seng Owah, Presidene Rodok Mumet, Rakyate Di Atur Mbulet, Pejabate Akeh Sing Ruwet, Duwek Rakyat Akeh Sing Ke Tilep, Presidene Bingung Solusi, Malah Akeh Oknum Korupsi."
Bagi Arif, kritik dalam lagu tersebut tidak lahir begitu saja. Setelah bernyanyi, ia menuturkan pengalamannya ketika hendak memasang papan nama usaha, tetapi sudah dihadapkan dengan kewajiban membayar pajak, padahal usahanya belum mulai beroperasi.
"Saya mau masang plang nama usaha saja sudah dipajaki. Itu usaha belum jalan. Masih baru pasang plang. Kok ya sudah dipajaki," ungkapnya setelah menyanyikan lagu tersebut.
Menanggapi kegelisahan tersebut, Taufiq Wr. Hidayat atau yang akrab disapa Kang Fiq, mengajak peserta untuk tetap memiliki sikap kritis di tengah situasi yang dianggap tidak menentu. Menurutnya, semua manusia memang tidak selalu memiliki kuasa untuk mengubah keadaan, tetapi setidaknya tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan sikap.
"Hidup di Zaman Edan itu ya jangan ikutan edan. Kita memang tidak punya tugas untuk merubah. Yang bisa kita lakukan adalah mempunyai sikap. Mengatakan yang benar sebagai benar, yang salah sebagai yang salah," kata Kang Fiq.
Sementara itu, Gus Lukman mengajak peserta untuk memaknai kembali ungkapan Mangan Turu yang secara harfiah berarti makan dan tidur. Menurutnya, persoalannya bukan terletak pada kebutuhan dasar manusia tersebut, tapi pada bagaimana seseorang mengelolanya agar tidak terjebak dalam keserakahan.
"Hidup memang Mangan dan Turu. Tapi persoalannya adalah bagaimana kita mengelola Mangan dan Turu itu. Jangan seperti orang serakah. Orang-orang yang serakah itu untuk persoalan makan saja bingung, mau makan apa, pesan apa, harus merampas tanah dari yang lain," kata Gus Lukman.
Kegiatan Srawung Dulur ditutup dengan pembacaan dzikir Al-I'tiraf (pengakuan dosa), karya sastra Abu Nawas. Para peserta melantunkannya bersama-sama, diiringi pembacaan puisi yang merupakan versi terjemahan dari syair tersebut.
Pewarta: Hilmi Hafi



Posting Komentar