BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Iklan Atas Artikel

Recent

Bookmark

Banjir Informasi, Kering Literasi: Di Mana Letak Persoalannya?

Penalaut.com
– Setiap pagi kita terbangun, dan yang pertama kita hadapi bukan lagi kesempatan untuk berpikir jernih, melainkan layar ponsel yang dipenuhi arus informasi. Notifikasi, berita, opini, hingga gosip datang silih berganti tanpa henti.

Di tengah derasnya arus itu, tantangan kita hari ini bukan sekadar menerima informasi, tetapi membangun kesadaran kritis agar tidak mudah terseret oleh apa yang kita lihat dan dengar.

Sejumlah penelitian mengonfirmasi persoalan ini. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan skor membaca siswa Indonesia berada di angka sekitar 359 poin, masih jauh di bawah rata-rata OECD (sekitar 476). Bahkan sebagian besar siswa belum mencapai level kompetensi minimum membaca. Artinya, banyak anak kita bisa membaca teks, tetapi belum tentu memahami makna, menganalisis isi, apalagi merefleksikannya.

Di sisi lain, survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan lebih dari 70% penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet. Data tersebut membuktikan bahwa kita tidak kekurangan akses.

Lalu, di mana letak persoalannya?

Pertama, kita sering menyamakan akses dengan literasi. Padahal keduanya berbeda. Akses berarti bisa membuka informasi. Literasi berarti mampu memahami, memverifikasi, dan menggunakan informasi itu secara bijak. Tanpa kemampuan itu, kita hanya menjadi penerima arus informasi, bukan pengolahnya. Kita tahu banyak hal, tetapi belum tentu benar-benar memahaminya.

Kedua, arus informasi yang serba cepat. Generasi hari ini terbiasa dengan konten singkat, padat, dan visual. Tidak ada yang salah dengan teknologi, karena memang memudahkan akses pengetahuan. Namun ketika sebagian besar informasi hadir dalam format yang sangat ringkas, ruang untuk merenung dan mendalami sering kali menjadi terbatas. Akibatnya, kita lebih sering mengenal banyak hal secara cepat, tetapi tidak selalu sempat memahaminya secara utuh.

Ketiga, Kemampuan kita untuk beradaptasi. Dunia pendidikan sebenarnya terus berupaya menyesuaikan diri, namun tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks. Di era digital, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan mengingat informasi, tetapi juga kecakapan memilah, memahami, dan menggunakannya secara bijak. Karena itu, pembelajaran perlu semakin menguatkan daya nalar dan ketajaman berpikir, agar generasi hari ini tidak sekadar terpapar informasi, tetapi mampu mengolahnya dengan matang.

Menyalahkan teknologi bukan solusi. Justru di sinilah peluangnya. Teknologi seharusnya menjadi jembatan untuk memperkuat literasi, bukan memperlemahnya.

Secara personal, setiap orang perlu membangun disiplin literasi. Misalnya, membiasakan membaca utuh sebelum membagikan berita, memeriksa sumber, melatih diri membaca buku atau artikel panjang tanpa distraksi, dan berani berdiskusi secara sehat. Literasi dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten.

Di level lembaga pendidikan, Sekolah dan kampus memiliki peran penting dalam menguatkan literasi di era digital. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi, tetapi juga pada tumbuhnya kemampuan berpikir yang matang. Guru dan dosen tidak semata-mata menyampaikan materi, melainkan membangun ruang dialog dan diskusi yang mendorong mahasiswa serta siswa untuk bertanya, menganalisis, dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab. 

Tugas-tugas pun dapat dirancang bukan hanya untuk merangkum, tetapi juga untuk melatih kemampuan memahami dan mengolah gagasan. Teknologi mulai dari AI hingga platform belajar digital, dapat menjadi sarana pendukung untuk memperdalam pemahaman, selama digunakan secara bijak dan terarah.

Peran pemerintah tentu tidak bisa diabaikan. Kebijakan pendidikan dan pengelolaan anggaran memiliki pengaruh besar dalam membentuk arah budaya literasi di masyarakat. Dukungan terhadap penyediaan bahan bacaan yang berkualitas, penguatan kapasitas pendidik, serta pengaturan ruang digital yang sehat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kuat.
 
Jika krisis literasi ini dibiarkan, dampaknya tidak sederhana. Generasi yang mudah terprovokasi, cepat percaya hoaks, dan sulit berpikir kritis akan rentan dimanipulasi. Dalam jangka panjang, ini berbahaya bagi demokrasi, ekonomi, bahkan ketahanan sosial kita.

Banjir informasi adalah realitas yang tak bisa dihindari. Kita mungkin tidak dapat menghentikan derasnya arus itu, tetapi kita bisa memperkuat kemampuan untuk menyikapinya dengan bijak. Literasi menjadi kunci agar kita tidak sekadar terbawa, melainkan mampu menentukan arah.

Oleh: Husna Mahmudah
Posting Komentar

Posting Komentar

Berkomentarlah Dengan Bijak