Aksi dimulai dengan melakukan longmarch dari titik kumpul di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi menuju Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banyuwangi.
Dalam aksi ini, Aliansi Banyuwangi Menggugat membawa lima tuntutan isu nasional dan dua tuntutan isu lokal. Pada isu nasional, massa mendesak penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, serta penghentian militerisme di ranah sipil.
Mereka juga mendesak pemerintah menjamin pendidikan yang inklusif, serta mengevaluasi program MBG dan KDMP secara menyeluruh berbasis akademik. Jika tidak efektif, massa meminta program tersebut dihentikan dan anggarannya dialihkan ke sektor prioritas.
Sementara untuk isu lokal, massa menuntut pengalihan belanja operasional ke belanja modal pada anggaran daerah, serta mendesak pemerintah untuk mengawal dan mengaudit pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di sekolah-sekolah di Banyuwangi.
Di Kantor DPRD Banyuwangi, perwakilan anggota dewan menemui massa aksi. Setelah sempat terjadi perdebatan, pihak DPRD Banyuwangi akhirnya menandatangani naskah tuntutan yang diajukan oleh massa.
Massa aksi kemudian bergerak menuju Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi untuk meminta penandatanganan serupa dari pihak eksekutif. Massa ditemui oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si. Namun, Suyanto menolak untuk menandatangani naskah tuntutan tersebut dengan alasan tidak sesuai prosedur pemerintah.
"Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, ada prosedurnya, ada aturannya, ada tata naskah dinas yang harus saya taati, saya patuhi. Ada surat-menyurat yang harus saya laksanakan. Jadi, tidak sembarangan menulis tulisan, harus jadi dokumen pemerintah. Tolong dipahami perbedaan Adik-adik dengan saya. Yang penting, kami siap mengawal substansi laporan ke atas, itu substansinya," kata Suyanto di hadapan massa.
Merespons hal tersebut, massa aksi pada akhirnya menyatakan sikap dengan menyerukan "Mosi Tidak Percaya" kepada Pemkab Banyuwangi sebelum membubarkan diri pada malam hari.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Rofi'uddin Rahmatullah, menyatakan bahwa gerakan protes ini sementara akan tetap berjalan melalui media digital.
"Sementara ini kami akan melanjutkan tuntutan-tuntutan atau protes-protes kita di sosial media," ujar Rofi setelah aksi selesai.
Sementara untuk isu lokal, massa menuntut pengalihan belanja operasional ke belanja modal pada anggaran daerah, serta mendesak pemerintah untuk mengawal dan mengaudit pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di sekolah-sekolah di Banyuwangi.
Di Kantor DPRD Banyuwangi, perwakilan anggota dewan menemui massa aksi. Setelah sempat terjadi perdebatan, pihak DPRD Banyuwangi akhirnya menandatangani naskah tuntutan yang diajukan oleh massa.
Massa aksi kemudian bergerak menuju Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi untuk meminta penandatanganan serupa dari pihak eksekutif. Massa ditemui oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si. Namun, Suyanto menolak untuk menandatangani naskah tuntutan tersebut dengan alasan tidak sesuai prosedur pemerintah.
"Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, ada prosedurnya, ada aturannya, ada tata naskah dinas yang harus saya taati, saya patuhi. Ada surat-menyurat yang harus saya laksanakan. Jadi, tidak sembarangan menulis tulisan, harus jadi dokumen pemerintah. Tolong dipahami perbedaan Adik-adik dengan saya. Yang penting, kami siap mengawal substansi laporan ke atas, itu substansinya," kata Suyanto di hadapan massa.
Penolakan tersebut memicu perdebatan antara massa aksi dan pihak birokrasi karena massa tetap mendesak dilakukan penandatanganan. Akibat tidak adanya kesepakatan, Suyanto menyatakan situasi deadlock (jalan buntu) dan meninggalkan lokasi unjuk rasa.
Merespons hal tersebut, massa aksi pada akhirnya menyatakan sikap dengan menyerukan "Mosi Tidak Percaya" kepada Pemkab Banyuwangi sebelum membubarkan diri pada malam hari.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Rofi'uddin Rahmatullah, menyatakan bahwa gerakan protes ini sementara akan tetap berjalan melalui media digital.
"Sementara ini kami akan melanjutkan tuntutan-tuntutan atau protes-protes kita di sosial media," ujar Rofi setelah aksi selesai.
Pewarta: Hilmi Hafi





Posting Komentar